- Nilai tukar rupiah melemah 58 poin ke level Rp17.699 per dolar AS pada Senin, 14 September 2026.
- Pelemahan rupiah dipicu oleh antisipasi kebijakan suku bunga The Fed serta kenaikan harga minyak mentah dunia.
- Mayoritas mata uang Asia juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS, dipimpin oleh penurunan baht Thailand.
Nilai tukar rupiah terus terkoreksi hingga akhir perdagangan, Senin 14 September 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup ke level Rp17.699 per dolar AS, melemah 58 poin atau turun 0,33 persen.
Suara.com - Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan pelemahan ini disebabkan adanya keputusan Federal Reserve (The Fed) melalui pertemuan FOMC mengenai kebijakan suku bunga.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS yang menguat oleh antisipasi kenaikan suku bunga pada FOMC minggu ini. Harga minyak mentah dunia yang terus meningkat ikut menekan rupiah," katanya saat dihubungi Suara.com.
![Bank Indonesia memastikan cadangan devisa sebesar USD 114 miliar cukup untuk intervensi guna menstabilkan nilai tukar rupiah. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/18/81815-dolar-rupiah.jpg)
Dia menambahkan, dengan absennya data ekonomi utama baik dari dalam maupun luar, investor masih akan terus mencermati perkembangan geopolitik Timur Tengah dan harga minyak mentah dunia. Hal ini bisa memberikan tekanan pada rupiah untuk esok hari.
Sementara itu, mayoritas mata uang melemah terhadap dolar AS sore ini. Baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,57 persen. Disusul, yen Jepang yang turun 0,53 persen.
Selanjutnya ada dolar Taiwan yang ditutup tertekan 0,41 persen dan won Korea Selatan terkoreksi 0,36 persen. Lalu, dolar Singapura ambles 0,28 persen.
Berikutnya,peso Filipina terlihat ditutup terkoreksi 0,24 persen. Ditambah ringgit Malaysia tergelincir 0,13 persen dan dolar Hong Kong yang turun 0,01 persen.