- Gubernur BI Destry Damayanti menyatakan rupiah melemah ke level Rp17.661 per dolar AS akibat perang Amerika Serikat dan Iran pada Senin, 14 September 2026.
- Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional tetap positif pada kisaran 5,2 persen hingga 6 persen di tengah ketidakpastian global.
- Bank Indonesia mempertahankan sasaran inflasi berkisar antara 1,5 persen hingga 3,5 persen melalui penguatan bauran kebijakan moneter bersama lembaga terkait.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan kondisi geopolitik yang membuat nilai tukar rupiah belakangan ambruk. Mata uang Garuda selama dua hari terus melemah yang saat ini sudah di level Rp17.661 per dolar AS.
Gubernur BI, Destry Damayanti, mengatakan sebenarnya rupiah lagi dalam tren menguat. Namun, sentimen perang AS dengan Iran yang meningkat tak kuat menahan tren penguatan tersebut.
"Sebenarnya beberapa hari yang lalu kita bahkan sudah di Rp17,500-an dan hampir menembus Rp17,400. Namun demikian gejolak di global memburuk karena perang Iran-Amerika terus makin meningkat," ujar Destry saat Rapat dengan Anggota DPD di Kompleks Parlemen Senayan, Senin (14/9/2026).
Meski meloyo, Destry menilai pergerakan rupiah masih berada pada level yang relatif terkendali.
![Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti saat konferensi pers usai dilantik di Mahkamah Agung (MA), Jakarta, Rabu (2/9/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/02/23330-pelantikan-gubernur-bi-destry-damayanti.jpg)
"Kita agak tertekan dua hari terakhir ini, tapi alhamdulillah masih berada di level Rp17.600-an," bebernya.
Tidak hanya itu, dia memproyeksikan perekonomian Indonesia tetap tumbuh positif di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada pada kisaran 5,2 persen hingga 6 persen. Lalu, inflasi diperkirakan tetap berada dalam kisaran sasaran yang ditetapkan pemerintah.
"Inflasi kami masih terus menggunakan 1,5 persen–1 persen, jadi antara 2,5 persen–1 persen, jadi inflasi berkisar antara 1,5 persen hingga 3,5 persen," tuturmya.
Secara resmi, Bank Indonesia mempertahankan sasaran inflasi 2026 dan 2027 pada kisaran 2,5 persen plus-minus 1 persen. Bank Indonesia juga terus memperkuat bauran kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas rupiah dan memastikan inflasi tetap terkendali di tengah tingginya ketidakpastian global.
"Jadi kami bersama-sama dengan Kemenko Ekonomi, kemudian dengan Pemda, dan juga dengan lembaga lainnya di daerah, kita mengadakan berbagai gerakan untuk pengendalian inflasi," pungkasnya.