- Rupiah ditutup Rp17.694 per dolar AS, melemah 0,14%.
- Dolar, yield AS, dan minyak dunia menekan rupiah.
- Pasar menanti keputusan dan sikap The Fed besok.
Suara.com - Rupiah kembali ke zona merah pada perdagangan Selasa (15/9). Mata uang Garuda yang sempat menguat tipis justru berakhir melemah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.694 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 25 poin atau 0,14% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.669 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah terutama dipicu oleh sentimen eksternal. Penguatan indeks dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi AS, hingga lonjakan harga minyak mentah dunia menjadi beban bagi mata uang Garuda.
"Rupiah Indonesia ditutup melemah terhadap dolar AS umumnya tertekan oleh faktor eksternal dari terus naiknya indeks dolar AS, imbal obligasi AS dan harga minyak mentah dunia yang disebabkan oleh eskalasi di Timur Tengah," kata Lukman saat dihubungi Suara.com.
Tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Pasar kini menanti keputusan bank sentral AS atau The Fed yang akan menjadi penentu arah pergerakan dolar dan mata uang global.
Lukman mengatakan rupiah dan mata uang regional maupun utama dunia masih berpotensi tertekan hingga keputusan The Fed keluar. Pasar juga mencermati seberapa hawkish atau dovish sikap bank sentral AS dalam merespons kondisi ekonomi dan inflasi.
"Selanjutnya akan ditentukan oleh seberapa hawkish dan dovish sikap The Fed. Lalu antisipasi kenaikan suku bunga oleh The Fed besok," ujarnya.
Tekanan terhadap rupiah juga sejalan dengan kondisi mayoritas mata uang Asia yang ikut melemah. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penurunan terdalam, yakni 0,87%.
Setelahnya, rupee India melemah 0,40%, yen Jepang turun 0,35%, dan dolar Taiwan tertekan 0,29%. Ringgit Malaysia juga terkoreksi 0,16%.
Sementara itu, baht Thailand dan dolar Singapura sama-sama melemah 0,14%, sedangkan yuan China turun 0,06%.
Di tengah tekanan tersebut, peso Filipina menjadi satu-satunya mata uang Asia dalam daftar yang masih mampu menguat. Peso ditutup naik tipis 0,04%.