- Analis memproyeksikan IHSG berpotensi melemah dan fluktuatif akibat aksi jual bersih investor asing di pasar domestik.
- Lonjakan imbal hasil US Treasury serta pelemahan nilai tukar rupiah menekan pergerakan bursa negara berkembang.
- Penerapan kebijakan batas minimum harga saham Rp1 oleh BEI memicu volatilitas baru pada sejumlah emiten besar.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih berada di bawah bayang-bayang tekanan pada perdagangan awal pekan ini. Kombinasi sentimen dari pasar global maupun dinamika domestik menjadi tantangan berat yang membatasi ruang gerak indeks untuk bangkit.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, memperkirakan IHSG akan mengawali hari dengan pergerakan yang fluktuatif namun memiliki kecenderungan untuk melemah. Secara teknikal, indikator pergerakan arah tren (MACD) dan momentum (RSI) kompak menunjukkan sinyal penurunan.
Tekanan utama bagi bursa domestik datang dari aksi jual bersih (net sell) investor asing yang masih berpotensi berlanjut. Hengkangnya dana asing ini dipicu oleh terus menanjaknya imbal hasil (yield) surat utang Amerika Serikat (US Treasury) tenor 10 tahun yang kini telah menembus level 5,17 persen.
"Pasar akan dipengaruhi sentimen tekanan jual asing yang berpotensi berlanjut. Di mana sepekan lalu, asing mencatatkan net sell mencapai Rp3,5 triliun di seluruh perdagangan," jelas Oktavianus dalam catatan risetnya.
Pandangan serupa disampaikan oleh Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, yang menilai IHSG masih sangat rawan melanjutkan tren koreksinya.
Melonjaknya yield obligasi AS di atas 5 persen dinilai sebagai beban berat bagi pasar negara berkembang (emerging market), termasuk Indonesia.
Dari dalam negeri, Herditya menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang kian mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Kondisi mata uang ini membuat pelaku pasar bersikap waspada sembari menanti kemungkinan adanya langkah intervensi dari Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Volatilitas Akibat Kebijakan Batas Minimum Saham Rp1
Di samping indikator makroekonomi, kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mulai menerapkan batas minimum harga saham menjadi Rp1 turut menyita perhatian analis.
Oktavianus menilai implementasi kebijakan ini memicu gejolak volatilitas baru di pasar, terutama pada deretan emiten yang sebelumnya tertidur di level Rp50 namun memiliki kapitalisasi pasar (market cap) yang tergolong raksasa.
"Berjalannya kebijakan floor menjadi Rp1 juga mendorong kenaikan volatilitas, khususnya pada saham yang berada di Rp50 dengan market caps besar, seperti GOTO, BBKP, dan KPIG," tuturnya.
Menyambung sentimen tersebut, kajian teknikal dari BNI Sekuritas mencatat bahwa pelemahan IHSG pekan lalu yang ditutup minus 0,9 persen turut diwarnai aksi jual asing sekitar Rp440 miliar pada saham-saham blue chip seperti TLKM, BMRI, BBRI, ASII, dan BBNI. BNI Sekuritas memproyeksikan indeks kemungkinan akan mencoba menguji level resistansi terdekatnya terlebih dahulu, sebelum kembali terseret arus koreksi.
Rekomendasi Teknikal dan Area Support-Resistance
Di tengah sentimen yang menantang, sejumlah analis merumuskan rentang pergerakan IHSG beserta deretan saham pilihan yang bisa dicermati oleh pelaku pasar hari ini:
Proyeksi Rentang IHSG:
- Kiwoom Sekuritas: Support 6.160 – Resistance 6.360
- MNC Sekuritas: Support 6.186 – Resistance 6.297
- BNI Sekuritas: Support 6.100-6.170 – Resistance 6.300-6.330
Trading Idea & Pilihan Saham:
Kiwoom Sekuritas: Merekomendasikan strategi buy on break untuk MDKA pada level 3.120 (support 2.950, resist 3.400). Selain itu, BBCA (support 6.000, resist 6.650) dan PSAB (support 510, resist 600) masuk dalam kategori speculative buy.
MNC Sekuritas: Menyarankan investor untuk mencermati pergerakan saham COIN (kisaran 915-965), INDF (kisaran 7.000-7.225), dan HMSP (kisaran 660-700).
BNI Sekuritas: Memberikan ide perdagangan untuk memantau saham CUAN, INKP, AMMN, ANTM, TPIA, dan RAJA.
Disclaimer: Artikel berita ini disajikan semata-mata untuk memberikan informasi publik mengenai pergerakan pasar modal dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, atau saran untuk membeli maupun menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor.