Bukan Boros Air, Ini Penjelasan soal Kebutuhan Air PLTP Gunung Ungaran

Achmad Fauzi

Jum'at, 02 Oktober 2026 | 10:14 WIB
Bukan Boros Air, Ini Penjelasan soal Kebutuhan Air PLTP Gunung Ungaran
Sejumlah wisatawan melihat semburan uap belerang yang keluar dari kawah di lereng Gunung Ungaran, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026). [ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/YU]
baca 10 detik
  • Pakar Undip Yoga Aribowo menyatakan bahwa kebutuhan air PLTP Gunung Ungaran terbesar terjadi saat pengeboran.
  • Yoga menjelaskan bahwa fluida reservoir panas bumi dapat dikelola melalui treatment dan reinjeksi agar tidak mencemari lingkungan.
  • PLTP berkapasitas 55 MW ini dinilai mampu menekan emisi karbon secara signifikan dibandingkan PLTU batu bara.

Suara.com - Rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran menjadi perhatian, salah satunya terkait kebutuhan air dalam pengoperasiannya.

Pakar dari Universitas Diponegoro (Undip), Yoga Aribowo, mengatakan kebutuhan air PLTP berbeda antara tahap pengembangan, terutama pengeboran, dengan saat pembangkit sudah beroperasi.

Menurutnya, setelah PLTP menghasilkan listrik, kebutuhan air dalam jumlah besar tidak lagi diperlukan. Air terutama digunakan untuk kebutuhan domestik dan operasional fasilitas.

"Setelah memproduksi listrik, PLTP tidak akan ada lagi kebutuhan air yang besar, paling hanya untuk domestik kantor atau mess, dan fasilitas lain. Itu kebutuhan airnya tidak akan signifikan," ujar Yoga di Jakarta, Jumat (2/10/2026).

PLTP Wayang Windu tengah ditingkatkan kapasitasnya. [Dok Star Energy].
Ilustrasi PLTP.

Sementara itu, kebutuhan air dalam jumlah lebih besar terjadi pada tahap pengeboran. Yoga menyebut kebutuhan tersebut merupakan bagian dari kebutuhan teknis yang telah diperhitungkan dalam pengembangan panas bumi.

"Pada tahap pengeboran, kebutuhan air dapat mencapai sekitar 100–200 meter kubik per hari, bergantung pada kedalaman dan kondisi pengeboran," katanya.

Yoga mengatakan sumber air untuk kebutuhan pengembangan PLTP dapat direncanakan dari sumber yang tidak digunakan masyarakat. Salah satu opsi yang dapat digunakan yakni mengambil air dari akuifer dalam. Alternatif lainnya adalah melakukan penampungan terlebih dahulu.

"Bisa dengan mengambil air dari akuifer dalam, ratusan meter, yang tidak digunakan warga, atau terlebih dahulu membuat pond," jelasnya.

Menurut Yoga, perencanaan sumber air tersebut penting untuk menjaga kualitas dan kuantitas sumber air eksisting di sekitar lokasi pengembangan.

baca juga

Di sisi lain, Yoga menjelaskan fluida yang diproduksikan dari reservoir panas bumi sebagian besar berupa air.

"Fluida tersebut mengandung sejumlah mineral terlarut seperti natrium, kalium, magnesium, klorida, sulfat dan bikarbonat, serta unsur seperti litium dan boron dalam konsentrasi lebih rendah," katanya.

Menurutnya, fluida panas bumi dapat dikelola melalui treatment dan reinjeksi. Dengan pengelolaan tersebut, fluida dapat ditangani sehingga tidak memengaruhi kualitas air permukaan maupun air dekat permukaan.

Secara hidrologis, reservoir panas bumi dan akuifer air tanah juga merupakan sistem yang berbeda. Selain kebutuhan air, pengembangan PLTP Gunung Ungaran juga dinilai memiliki manfaat dari sisi lingkungan, terutama dalam menekan emisi sektor ketenagalistrikan.

Yoga menyebut emisi karbon dioksida (CO2) PLTP berada di kisaran 100 gram per kilowatt hour (kWh). Angka tersebut jauh di bawah emisi PLTU batu bara yang mencapai sekitar 900 gram per kWh.

"Semakin banyak porsi PLTP menggantikan PLTU, akan berkontribusi positif bagi kualitas lingkungan, baik udara, laut maupun air," katanya.

PLTP Gunung Ungaran sendiri direncanakan memiliki kapasitas sekitar 55 megawatt (MW).

Menurut Yoga, kapasitas tersebut dapat menambah pasokan listrik berbasis panas bumi sekaligus meningkatkan porsi energi dengan emisi lebih rendah dalam sistem ketenagalistrikan. Meski demikian, ia menekankan pengembangan proyek tetap perlu dilakukan secara bertahap dan berdasarkan kajian.

"Pengembangannya tetap perlu dilakukan bertahap dan berbasis kajian agar pengelolaan lingkungan dan kepentingan masyarakat tetap menjadi bagian dari perencanaan proyek," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Panas Bumi Jadi Andalan Energi Bersih, Indonesia Bidik 7,5 GW pada 2034

Panas Bumi Jadi Andalan Energi Bersih, Indonesia Bidik 7,5 GW pada 2034

Bisnis | Minggu, 20 September 2026 | 17:00 WIB

Investasi PLTB Mandek 4 Tahun, ESDM Ungkap Tawaran Utang Murah

Investasi PLTB Mandek 4 Tahun, ESDM Ungkap Tawaran Utang Murah

Bisnis | Kamis, 17 September 2026 | 16:43 WIB

El Nino Bikin Produksi Listrik PLTA Tertekan, Kementerian Bahlil Andalkan Hembusan Angin 24 Jam

El Nino Bikin Produksi Listrik PLTA Tertekan, Kementerian Bahlil Andalkan Hembusan Angin 24 Jam

Bisnis | Kamis, 17 September 2026 | 16:13 WIB

Terkini

Beda Silsilah Keluarga Al Ghazali dan Alyssa Daguise, Keturunan Bule Semua?

Beda Silsilah Keluarga Al Ghazali dan Alyssa Daguise, Keturunan Bule Semua?

Entertainment | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 10:10 WIB

KPK Dalami Dugaan Aspri Ridwan Kamil Jadi Penampung Aliran Uang Kasus Bank BJB

KPK Dalami Dugaan Aspri Ridwan Kamil Jadi Penampung Aliran Uang Kasus Bank BJB

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 10:08 WIB

Kevin Diks Buka Suara Usai Jadi Striker Mendadak Saat Indonesia Cukur Bangladesh

Kevin Diks Buka Suara Usai Jadi Striker Mendadak Saat Indonesia Cukur Bangladesh

Bola | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 10:05 WIB

Usai Hajar Bangladesh 9-2, John Herdman Girang Hadapi Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Usai Hajar Bangladesh 9-2, John Herdman Girang Hadapi Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Your Say | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 10:03 WIB

Potret Dunia Lewat Imajinasi 130 Seniman di JICAF 2026

Potret Dunia Lewat Imajinasi 130 Seniman di JICAF 2026

Foto | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 10:00 WIB

Nasib Utang Whoosh Makin Tak Jelas usai Purbaya Dipecat dari Menkeu

Nasib Utang Whoosh Makin Tak Jelas usai Purbaya Dipecat dari Menkeu

Bisnis | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 09:59 WIB

Justin Hubner Sebut Laga Lawan Bangladesh Paling Gila Sepanjang Karier Sepak Bolanya

Justin Hubner Sebut Laga Lawan Bangladesh Paling Gila Sepanjang Karier Sepak Bolanya

Bola | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 09:55 WIB

5 Penyebab Cushion Memisah Saat Ditimpa Sunscreen Berbasis Minyak, Ini Biangnya

5 Penyebab Cushion Memisah Saat Ditimpa Sunscreen Berbasis Minyak, Ini Biangnya

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 09:52 WIB

Bongkar Salon & Pintu HR-V, Polisi Sita 9.954 Cartridge Etomidate Sabu Rp29,8 Miliar di Bakauheni

Bongkar Salon & Pintu HR-V, Polisi Sita 9.954 Cartridge Etomidate Sabu Rp29,8 Miliar di Bakauheni

Lampung | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 09:50 WIB

Makan Sambal Tak Teras Pedas, Harga Cabai Lagi Mahal Masih di Atas Rp100 Ribu/kg

Makan Sambal Tak Teras Pedas, Harga Cabai Lagi Mahal Masih di Atas Rp100 Ribu/kg

Bisnis | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 09:49 WIB

×