- Pakar Undip Yoga Aribowo menyatakan bahwa kebutuhan air PLTP Gunung Ungaran terbesar terjadi saat pengeboran.
- Yoga menjelaskan bahwa fluida reservoir panas bumi dapat dikelola melalui treatment dan reinjeksi agar tidak mencemari lingkungan.
- PLTP berkapasitas 55 MW ini dinilai mampu menekan emisi karbon secara signifikan dibandingkan PLTU batu bara.
Suara.com - Rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran menjadi perhatian, salah satunya terkait kebutuhan air dalam pengoperasiannya.
Pakar dari Universitas Diponegoro (Undip), Yoga Aribowo, mengatakan kebutuhan air PLTP berbeda antara tahap pengembangan, terutama pengeboran, dengan saat pembangkit sudah beroperasi.
Menurutnya, setelah PLTP menghasilkan listrik, kebutuhan air dalam jumlah besar tidak lagi diperlukan. Air terutama digunakan untuk kebutuhan domestik dan operasional fasilitas.
"Setelah memproduksi listrik, PLTP tidak akan ada lagi kebutuhan air yang besar, paling hanya untuk domestik kantor atau mess, dan fasilitas lain. Itu kebutuhan airnya tidak akan signifikan," ujar Yoga di Jakarta, Jumat (2/10/2026).
![PLTP Wayang Windu tengah ditingkatkan kapasitasnya. [Dok Star Energy].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/12/21/12973-pltp-wayang-windu.jpg)
Sementara itu, kebutuhan air dalam jumlah lebih besar terjadi pada tahap pengeboran. Yoga menyebut kebutuhan tersebut merupakan bagian dari kebutuhan teknis yang telah diperhitungkan dalam pengembangan panas bumi.
"Pada tahap pengeboran, kebutuhan air dapat mencapai sekitar 100–200 meter kubik per hari, bergantung pada kedalaman dan kondisi pengeboran," katanya.
Yoga mengatakan sumber air untuk kebutuhan pengembangan PLTP dapat direncanakan dari sumber yang tidak digunakan masyarakat. Salah satu opsi yang dapat digunakan yakni mengambil air dari akuifer dalam. Alternatif lainnya adalah melakukan penampungan terlebih dahulu.
"Bisa dengan mengambil air dari akuifer dalam, ratusan meter, yang tidak digunakan warga, atau terlebih dahulu membuat pond," jelasnya.
Menurut Yoga, perencanaan sumber air tersebut penting untuk menjaga kualitas dan kuantitas sumber air eksisting di sekitar lokasi pengembangan.
Di sisi lain, Yoga menjelaskan fluida yang diproduksikan dari reservoir panas bumi sebagian besar berupa air.
"Fluida tersebut mengandung sejumlah mineral terlarut seperti natrium, kalium, magnesium, klorida, sulfat dan bikarbonat, serta unsur seperti litium dan boron dalam konsentrasi lebih rendah," katanya.
Menurutnya, fluida panas bumi dapat dikelola melalui treatment dan reinjeksi. Dengan pengelolaan tersebut, fluida dapat ditangani sehingga tidak memengaruhi kualitas air permukaan maupun air dekat permukaan.
Secara hidrologis, reservoir panas bumi dan akuifer air tanah juga merupakan sistem yang berbeda. Selain kebutuhan air, pengembangan PLTP Gunung Ungaran juga dinilai memiliki manfaat dari sisi lingkungan, terutama dalam menekan emisi sektor ketenagalistrikan.
Yoga menyebut emisi karbon dioksida (CO2) PLTP berada di kisaran 100 gram per kilowatt hour (kWh). Angka tersebut jauh di bawah emisi PLTU batu bara yang mencapai sekitar 900 gram per kWh.
"Semakin banyak porsi PLTP menggantikan PLTU, akan berkontribusi positif bagi kualitas lingkungan, baik udara, laut maupun air," katanya.
PLTP Gunung Ungaran sendiri direncanakan memiliki kapasitas sekitar 55 megawatt (MW).
Menurut Yoga, kapasitas tersebut dapat menambah pasokan listrik berbasis panas bumi sekaligus meningkatkan porsi energi dengan emisi lebih rendah dalam sistem ketenagalistrikan. Meski demikian, ia menekankan pengembangan proyek tetap perlu dilakukan secara bertahap dan berdasarkan kajian.
"Pengembangannya tetap perlu dilakukan bertahap dan berbasis kajian agar pengelolaan lingkungan dan kepentingan masyarakat tetap menjadi bagian dari perencanaan proyek," pungkasnya.