- Kementerian ESDM menargetkan kapasitas panas bumi nasional mencapai 4,1 gigawatt pada tahun 2030 mendatang.
- PT PLN ditugaskan mengembangkan potensi panas bumi Gunung Ungaran di Jawa Tengah berkapasitas 55 megawatt.
- Pengembangan energi panas bumi bertujuan memperkuat kelistrikan nasional sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.
Suara.com - Kapasitas pembangkit panas bumi di Indonesia ditargetkan mencapai sekitar 4,1 gigawatt (GW) pada 2030 dan bertambah menjadi sekitar 7,5 GW pada 2034.
Dalam jangka panjang, pemanfaatan energi terbarukan ini dipatok mencapai sekitar 23 GW pada 2060 guna mendukung target Net Zero Emission.
Direktur Panas Bumi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Priatin Hadi Wijaya, menyatakan bahwa panas bumi merupakan sumber energi andal karena dapat menjadi base-load atau beroperasi secara berkelanjutan selama 24 jam untuk mendukung sistem kelistrikan.
"Panas bumi ini merupakan salah satu energi terbarukan yang handal karena dapat menjadi base-load, sehingga dapat beroperasi secara berkelanjutan untuk mendukung sistem kelistrikan," ujar Hadi lewat keterangannya yang dikutip pada Minggu (20/9/2026).

Pernyataan tersebut mengemuka dalam Dialog Stakeholders Panas Bumi Gunung Ungaran yang diselenggarakan Universitas Diponegoro (Undip) di Semarang, Kamis (17/9).
Dalam forum tersebut, dibahas pula rencana pengembangan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Ungaran berkapasitas hingga 55 megawatt (MW) sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
Pemerintah sendiri telah menugaskan PT PLN (Persero) untuk menggarap potensi panas bumi di Gunung Ungaran, Jawa Tengah.
Kendati demikian, Hadi mengingatkan bahwa proses pembuktian potensi hingga penentuan titik sumur eksplorasi memerlukan tahapan kajian yang cermat dan waktu yang tidak sebentar.
"Untuk membuktikan potensinya membutuhkan waktu. Ini proses yang tidak mudah, sampai kemudian menentukan titik sumur dan melakukan pengeboran eksplorasi," katanya.
Dari sisi operator, Executive Vice President Panas Bumi PLN John Rembet menyatakan pihaknya siap menjalankan penugasan tersebut secara bertahap.
Saat ini, PLN masih berada pada tahap studi pendahuluan, analisis lingkungan, hingga pemenuhan perizinan sebelum melangkah ke tahap eksplorasi.
Selain memperkuat bauran energi bersih nasional, pengembangan panas bumi di Gunung Ungaran juga diharapkan dapat berdampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar, dengan tetap memperhatikan aspek kelestarian lingkungan dan sosial.
"Pada prinsipnya, pengembangan panas bumi bukan hanya mengenai tujuan mendukung transisi energi maupun penyediaan tenaga listrik, tetapi bagaimana juga berdampak untuk masyarakat sekitar. Karena itu, kami akan melakukan social mapping dan berdiskusi dengan seluruh stakeholder,” kata John.