- PT Hero Global Investment Tbk memperoleh tiga sertifikasi ISO dari TüV NORD pada September 2026.
- Sertifikasi tersebut mencakup standar manajemen mutu, lingkungan, serta keselamatan dan kesehatan kerja secara internasional.
- Pencapaian ini memperkuat operasional energi terbarukan perusahaan untuk mendukung target keberangkatan bisnis jangka panjang.
Suara.com - PT Hero Global Investment Tbk (HGII), emiten yang bergerak di bidang energi baru terbarukan (EBT), resmi mengantongi tiga sertifikasi standar internasional terpadu (Integrated Management System) dari lembaga sertifikasi independen TÜV NORD.
Direktur Utama HGII, Robin Sunyoto mengatakan, pencapaian tersebut menjadi dorongan bagi perseroan untuk terus meningkatkan kinerja sekaligus memberikan nilai tambah berkelanjutan bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan.
“Pengakuan dari berbagai pihak independen, kini dilengkapi pencapaian meraih sertifikasi ISO 9001, ISO 14001, dan ISO 45001 dari lembaga bereputasi global TÜV NORD menjadikan tahun ini sebagai milestone penting bagi HGII,” ujar Robin dalam siaran pers yang diterima, Rabu (7/10/2026).
Menurut dia, sertifikasi tersebut memperkuat pengembangan operasional EBT yang dijalankan perseroan, terutama dari sisi mutu, keselamatan kerja, dan pengelolaan lingkungan.
“Sertifikasi ISO memperkuat langkah pengembangan operasional EBT yang kami jalankan dengan kualitas mutu, keselamatan kerja, serta pengelolaan lingkungan profesional dengan standar yang diakui oleh internasional,” lanjutnya.
Dari sisi operasional, HGII saat ini mengelola kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) sebesar 19 megawatt (MW). Perseroan menargetkan kapasitas terkontrak dapat mencapai 100 MW pada 2031.
Portofolio pengembangan HGII mencakup Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM), Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg), hingga Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm).
Penerapan standar ISO diharapkan dapat semakin memperkuat kredibilitas operasional, efisiensi, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG) di HGII.
Ketiga sertifikasi tersebut berlaku mulai 17 September 2026 hingga 16 September 2029 untuk lingkup kegiatan usaha Renewable Energy Based Electricity Generation and Distribution.
Tiga sertifikasi yang diraih HGII meliputi SNI ISO 9001:2015 tentang Sistem Manajemen Mutu, SNI ISO 14001:2015 tentang Sistem Manajemen Lingkungan, serta SNI ISO 45001:2018 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
SNI ISO 9001:2015 menjadi standar bagi peningkatan mutu dan operational excellence dalam kegiatan pembangkitan serta distribusi listrik berbasis energi terbarukan.
Sementara itu, SNI ISO 14001:2015 mencerminkan penerapan sistem pengelolaan dampak lingkungan secara terstruktur dan berkelanjutan.
Adapun SNI ISO 45001:2018 menitikberatkan pada perlindungan tenaga kerja serta penerapan standar keselamatan dalam kegiatan operasional perusahaan.
Perolehan tiga sertifikasi tersebut memperkuat komitmen HGII dalam meningkatkan kualitas operasional dan tata kelola perusahaan.
Langkah ini sekaligus mendukung penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dalam pengembangan bisnis energi terbarukan yang berkelanjutan dan sejalan dengan target Indonesia mencapai Net Zero Emission pada 2060.
Perolehan sertifikasi ISO tersebut menambah sejumlah pencapaian HGII sepanjang 2026.
![Direktur Utama HGII, Robin Sunyoto. [HGII]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/25/31135-direktur-utama-hgii-robin-sunyoto.jpg)
Sebelumnya, perseroan menjadi satu dari tiga perusahaan tercatat yang menerima penetapan saham berbasis hijau atau IDX Green Equity Designationdari Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan reviu eksternal independen dari S&P Global Ratings.
HGII memiliki profil usaha yang sepenuhnya bergerak di sektor energi terbarukan. Perseroan menyebut seluruh pendapatan, belanja modal (capital expenditure/capex), dan belanja operasional (operational expenditure/opex) tergolong sebagai aktivitas ekonomi hijau sesuai Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI).