- PT Hero Global Investment Tbk mencatatkan pendapatan Rp17,96 miliar dan laba bersih Rp5,83 miliar pada kuartal I 2026.
- Peningkatan kinerja kuartalan didorong oleh efektivitas strategi bisnis serta efisiensi operasional perusahaan yang tetap terjaga dengan baik.
- Perusahaan optimis terhadap proyek transmisi Supergrid PLN untuk meningkatkan utilisasi energi terbarukan di Indonesia pada masa depan.
Suara.com - PT Hero Global Investment Tbk (HGII) resmi merilis laporan keuangan kuartal I 2026 dengan capaian performa operasional yang solid.
Emiten yang bergerak di sektor energi baru terbarukan ini mencatatkan pendapatan sebesar Rp17,96 miliar, atau mengalami pertumbuhan sebesar 6,3 persen secara quarter-on-quarter (QoQ) dibandingkan dengan periode akhir tahun lalu.
Peningkatan signifikan terlihat pada sisi profitabilitas, di mana laba bersih HGII melonjak drastis sebesar 55,5 persen QoQ menjadi Rp5,83 miliar.
Tren positif pada kinerja keuangan sektor EBT ini didorong oleh efektivitas strategi bisnis dan margin kotor yang tetap terjaga di level tinggi sebesar 78,0 persen, menunjukkan efisiensi operasional perusahaan yang semakin matang di awal tahun 2026.
Direktur Utama HGII, Robin Sunyoto, mengungkapkan bahwa perbaikan kinerja secara kuartalan ini merupakan indikasi kuat dari pemulihan operasional yang berkelanjutan.
Perseroan juga membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp7,02 miliar, atau melesat 44,5 persen QoQ. Margin laba bersih pun mengalami kenaikan tajam dari 22,2 persen menjadi 32,5 persen pada periode ini.

“Peningkatan kinerja secara kuartalan ini mencerminkan perbaikan operasional dan efektivitas strategi yang telah dijalankan Perseroan. Kami melihat tren positif ini sebagai indikasi pemulihan kinerja yang berkelanjutan,” ujar Robin dalam keterangan resminya, Jumat (1/5/2026).
Meskipun secara tahunan (year-on-year) terdapat penurunan dibandingkan kuartal I 2025, di mana pendapatan tercatat Rp17,96 miliar dari sebelumnya Rp20,81 miliar, manajemen menjelaskan bahwa hal tersebut bersifat temporer.
Penurunan produksi listrik pada Maret 2026 disebabkan oleh faktor teknis operasional dan bukan merupakan perubahan fundamental bisnis.
Memasuki kuartal II 2026, HGII memprediksi adanya normalisasi tingkat produksi pembangkit. Terkait prospek industri, HGII optimistis terhadap inisiatif pemerintah dalam mempercepat infrastruktur kelistrikan hijau.
Salah satu fokus utama adalah rencana PT PLN (Persero) membangun jaringan transmisi "Supergrid" yang menghubungkan Pulau Sumatra dan Jawa dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.
Proyek ini diharapkan mampu menyalurkan energi bersih seperti tenaga air dan panas bumi secara lebih efisien mulai tahun 2031.
Robin menambahkan bahwa interkoneksi antar-pulau ini akan menjadi kunci Utama dalam menjembatani potensi pasokan energi terbarukan dengan pusat permintaan listrik nasional.
"Dengan infrastruktur yang memadai, utilisasi pembangkit milik Perseroan diharapkan dapat terus meningkat secara optimal," tegasnya.
Melalui optimalisasi infrastruktur dan prospek energi terbarukan yang semakin cerah berkat rencana supergrid PLN, HGII optimis dapat terus memperkuat nilai perusahaan.