- Director of Power SUN Energy Jefferson Kuesar menyampaikan proyek pipeline lebih dari 40 MWp.
- Proyek-proyek SUN Energy pada 2026 diperkirakan berkontribusi mengurangi emisi sekitar 244.549 ton karbon dioksida per tahun.
- Penggunaan truk listrik pada distributor FMCG di Jabodetabek berpotensi menghemat biaya energi hingga 83,6 persen per perjalanan.
Suara.com - Indonesia memiliki potensi energi surya sekitar 3.200 GWp yang membuka ruang besar bagi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk sektor komersial dan industri maupun proyek berskala besar.
Director of Power SUN Energy (PT Surya Utama Nuansa), Jefferson Kuesar mengatakan kalau pihaknya kini memiliki pipeline proyek energi surya lebih dari 40 MWp demi memaksimalkan potensi tersebut.
"Saat ini SUN memiliki pipeline proyek energi surya lebih dari 40 MWp yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia dan masih berada dalam tahap pengembangan," katanya dalam Media Gathering yang digelar di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Selain itu, SUN Energy juga memperluas perannya sebagai Independent Power Producer (IPP) untuk mendukung pengembangan aset energi bersih jangka panjang.
Ia menyebut, langkah ini diharapkan memperbesar kontribusi sektor swasta dalam penambahan kapasitas energi baru terbarukan (EBT) nasional sekaligus mendukung visi pengembangan 100 GWp energi surya di Indonesia.
Selama satu dekade di industri energi bersih, SUN telah mengembangkan lebih dari 500 megawatt (MW) kapasitas energi surya melalui lebih dari 400 proyek.

Portofolio SUN saat ini mencakup proyek di Indonesia, Australia, Vietnam, dan Thailand, termasuk pada sektor pertambangan, semen, FMCG, logistik, kertas, kemasan, elektronik, komponen otomotif, dan farmasi.
Lebih dari sekadar kapasitas terpasang, pertumbuhan portofolio tersebut mencerminkan semakin luasnya pemanfaatan energi bersih sebagai bagian dari strategi efisiensi dan daya saing industri.
Berdasarkan estimasi produksi energi bersih pada 2026, proyek-proyek SUN diperkirakan berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 244.549 ton CO2 per tahun, setara dengan penanaman sekitar 4,06 juta pohon.
“10 pertama SUN menunjukkan bahwa transisi energi dapat berjalan seiring dengan kebutuhan industri terhadap efisiensi, keandalan, dan daya saing. Memasuki dekade berikutnya, kami ingin membawa pengalaman tersebut lebih jauh melalui sistem elektrifikasi yang semakin terintegrasi, dari energi bersih hingga pemanfaatannya dalam aktivitas operasional pelanggan,” beber Jefferson.
Memasuki fase berikutnya, SUN turut memperluas solusi dari pengembangan energi surya menuju sistem elektrifikasi yang lebih terintegrasi.
Solusi tersebut mencakup PLTS, sistem penyimpanan dan manajemen energi, kendaraan listrik, infrastruktur pengisian daya, serta sistem digital untuk mendukung pengelolaan energi dan armada.
Pengembangan ini diarahkan terutama pada sektor dengan kebutuhan energi dan aktivitas operasional tinggi seperti pertambangan, perkebunan, logistik, manufaktur, kawasan industri, dan FMCG.
Dalam elektrifikasi armada, setiap implementasi dirancang berdasarkan kebutuhan operasional pelanggan mulai dari jenis kendaraan, pola perjalanan, jarak tempuh, kondisi medan, kebutuhan pengisian daya, hingga ketersediaan energi di lokasi.
Lewat produk Mobility, pendekatan tersebut mencakup penyediaan kendaraan listrik, pembangunan infrastruktur pengisian daya, skema pembiayaan atau penyewaan, pemeliharaan kendaraan, serta pemantauan melalui Fleet Management System.
Salah satu studi kasus SUN pada distributor FMCG di Jabodetabek menunjukkan bahwa penggunaan truk listrik untuk rute sekitar 50 kilometer dengan jam operasional pukul 08.00-17.00 berpotensi menghemat biaya energi hingga 83,6% per perjalanan serta menurunkan total biaya kepemilikan dan operasional sekitar 15%.
Director of Mobility SUN, Karina Darmawan menjelaskan, perhitungan tersebut didasarkan pada ketersediaan listrik jaringan dan pola operasional pelanggan.
“Elektrifikasi armada perlu dirancang sebagai bagian dari sistem operasional, bukan hanya melalui penggantian kendaraan. Infrastruktur pengisian daya, pembiayaan, pemeliharaan, dan sumber energi perlu dipersiapkan secara bersamaan agar transisi dapat berjalan efektif dan terukur,” ujar Karina.
Ke depannya, SUN akan memperkuat pengembangan aset energi bersih dan elektrifikasi untuk sektor-sektor strategis. Lewat integrasi PLTS, penyimpanan energi, sistem manajemen energi, elektrifikasi armada, infrastruktur pengisian daya, serta sistem digital, SUN berupaya membantu pelanggan meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat ketahanan energi, dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.