- KNEKS menyatakan pengembangan wisata halal di Indonesia harus berfokus pada ekosistem terintegrasi untuk meningkatkan pengalaman wisatawan dan ekonomi lokal.
- CEO Meraya Coki Lubis menilai destinasi wisata perlu melibatkan masyarakat lokal sejak perencanaan demi menciptakan pemerataan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.
- Ajang Indonesia Muslim Travel Fair 2027 dijadwalkan berlangsung pada 23–24 Januari 2027 di ICE BSD City, Tangerang, Banten, untuk mendukung pengembangan pasar tersebut.
Sementara bagi masyarakat, keterlibatan dalam rantai nilai pariwisata berpotensi memperluas pasar produk dan jasa serta mendorong perputaran ekonomi di sekitar destinasi.
![The Next Wave of Halal Tourism: From Policy to Lifestyle. [ANTARA/HO-IMTF 2027]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/24/84515-the-next-wave-of-halal-tourism-from-policy-to-lifestyle.jpg)
Dengan demikian, pengembangan wisata halal tidak hanya berkaitan dengan kesiapan fasilitas dan layanan yang ramah Muslim, tetapi juga bagaimana sektor tersebut menciptakan hubungan ekonomi yang lebih kuat antara destinasi, pelaku usaha, dan masyarakat.
IMTF 2027 Jadi Salah Satu Agenda Pengembangan
Pengembangan wisata halal Indonesia salah satunya didorong melalui ajang Indonesia Muslim Travel Fair (IMTF) 2027. Acara tersebut dijadwalkan berlangsung pada 23–24 Januari 2027 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten.
Ajang ini menjadi salah satu agenda dalam pengembangan pasar pariwisata Muslim. Namun, penguatan industri wisata halal juga membutuhkan keterhubungan yang berkelanjutan antara promosi, kebutuhan wisatawan, layanan di destinasi, dan keterlibatan pelaku ekonomi lokal.
Tantangannya bukan hanya mendatangkan wisatawan, melainkan memastikan kunjungan tersebut menghasilkan pengalaman yang baik sekaligus memberi manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat di sekitar destinasi.