- Harga minyak Brent dan WTI melonjak tajam pada Jumat, 30 Oktober 2026, mencapai level tertinggi sejak April.
- Kenaikan dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk serangan kapal tanker di Selat Hormuz dan fasilitas Arab Saudi.
- Lonjakan harga minyak mentah global tersebut berpotensi menekan biaya pengadaan bahan bakar minyak domestik di Indonesia.
Suara.com - Harga minyak mentah global kembali mengalami lonjakan tajam pada penutupan perdagangan akhir pekan ini. Ketakutan pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah yang kian memanas memicu harga minyak acuan Brent menembus level US$117 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melesat melampaui angka US$104 per barel.
Berdasarkan data perdagangan pada Jumat (30/10/2026), kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman bulan Desember ditutup menguat US$2,76 atau naik 2,4 persen menjadi US$117,64 per barel. Sepanjang sesi perdagangan tersebut, harga bahkan sempat menyentuh level psikologis di angka US$118 per barel.
Di sisi lain, minyak mentah acuan Amerika Serikat, WTI, juga mencatatkan penguatan signifikan sebesar US$2,12 atau naik 2,08 persen, sehingga bertengger tangguh di posisi US$104,12 per barel. Mengutip laporan Reuters, level penutupan ini merupakan titik tertinggi semenjak akhir April 2026. Sepanjang bulan Oktober, performa Brent telah mencatatkan akumulasi pertumbuhan impresif sebesar 13,6 persen, disusul oleh WTI yang melambung hingga 15,2 persen.
Lompatan harga komoditas energi ini tidak lepas dari eskalasi ketidakpastian geopolitik global. Sentimen pasar sangat terpengaruh oleh masuknya laporan terkait insiden serangan terhadap armada kapal tanker di Selat Hormuz, serta adanya ancaman militer yang menargetkan sejumlah infrastruktur energi vital milik Arab Saudi.
Harga Minyak Global Akhir Oktober 2026
Memasuki hari Sabtu (31/10/2026), patokan harga minyak dunia masih mengacu pada penutupan pasar di hari Jumat mengingat bursa komoditas berjangka utama tidak beroperasi secara reguler pada akhir pekan.
- Brent untuk pengiriman Desember: US$117,64 per barel (naik 2,4 persen).
- WTI untuk pengiriman Desember: US$104,12 per barel (naik 2,08 persen).
- Brent untuk pengiriman Januari 2027: US$113,43 per barel (naik US$2,63).
Perlu dicatat bahwa kontrak Brent untuk bulan Desember telah kedaluwarsa pada perdagangan hari Jumat. Menjelang pergantian bulan, kontrak pengiriman Januari 2027 kini mengambil alih posisi sebagai acuan yang paling aktif diperdagangkan di lantai bursa.
Perbedaan angka yang disajikan pada berbagai platform pemantau pasar sangat mungkin terjadi bergantung pada rujukan bulan pengiriman kontrak yang digunakan.
Insiden keamanan terbaru di perairan Selat Hormuz menjadi salah satu motor penggerak utama melonjaknya harga minyak akhir pekan ini. Jalur pelayaran tersebut merupakan urat nadi strategis yang menghubungkan sumber energi di Teluk Persia dengan pasar internasional.
Menurut laporan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) yang dikutip Reuters, sebuah kapal tanker terkena alat peledak yang dipasang melalui perahu kecil pada hari Jumat. Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti pihak mana yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Kepanikan para pelaku pasar sangat beralasan. Merujuk pada data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), sebelum terjadinya gangguan besar pada tahun 2026, sekitar 20,9 juta barel minyak per hari mengalir melewati Selat Hormuz pada paruh pertama tahun 2025.
Volume raksasa tersebut merepresentasikan sekitar 20 persen dari total konsumsi cairan minyak bumi di seluruh dunia. Adanya gangguan pada rute ini otomatis menghambat arus pengiriman kapal, melambungkan premi asuransi maritim, dan mendongkrak ongkos transportasi energi secara menyeluruh.
Konflik Iran dan Risiko Infrastruktur Arab Saudi
Selain gejolak lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, fluktuasi pasar juga merespons perkembangan konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Tensi di kawasan tersebut semakin mendidih setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah melancarkan serangan terhadap beberapa fasilitas energi milik Arab Saudi.
Target serangan tersebut dikabarkan mencakup kilang Ras Tanura, kilang Rabigh, serta fasilitas produksi Abqaiq yang dioperasikan oleh Saudi Aramco.