- Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Senin akibat keraguan investor terhadap keberlanjutan investasi sektor kecerdasan buatan.
- Indeks Nikkei Jepang merosot 0,5 persen dan Kospi Korea Selatan turun 0,8 persen pada awal pekan tersebut.
- Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 1,5 persen menjadi USD 111,72 per barel setelah negosiasi damai Iran-Qatar.
Suara.com - Bursa saham Asia mengawali pekan ini dengan tren pelemahan pada perdagangan Senin. Penurunan ini secara langsung dipicu oleh bayang-bayang keraguan investor terhadap keberlanjutan tren investasi raksasa di sektor kecerdasan buatan (AI) yang terus membebani saham-saham teknologi, bersamaan dengan tingginya harga minyak dunia yang membatasi daya tarik obligasi negara sebagai aset pelindung nilai (safe haven).
Kekhawatiran pasar memuncak terkait potensi defisit arus kas dan besarnya skala belanja modal (capital expenditure/capex) infrastruktur AI. Tingginya risiko ini menyebabkan biaya asuransi terhadap potensi gagal bayar korporasi melonjak drastis pada pekan lalu.
Sementara itu, komoditas emas sempat menyentuh titik terendah dalam satu tahun di tengah rumor bahwa investor yang berada dalam tekanan terpaksa menjual aset mereka secara massal demi menutupi kewajiban margin call.
Sentimen negatif di pasar semakin diperkeruh oleh kekhawatiran yang bersumber dari ekosistem kripto. Terjadi penarikan dana besar-besaran dari Binance saat bursa mata uang kripto terbesar di dunia tersebut kembali beroperasi secara daring pada hari Minggu.
Pembukaan kembali ini dilakukan menyusul insiden peretasan berskala raksasa yang merugikan platform tersebut hingga miliaran dolar pada pekan sebelumnya.
Rentetan ketidakpastian ini sontak meningkatkan ekspektasi pasar terhadap rilis laporan keuangan pekan ini. Perusahaan teknologi raksasa seperti Apple (AAPL.O), AMD (AMD.O), dan Palantir (PLTR.O) dijadwalkan bersiap mengumumkan kinerjanya. Perhatian investor kian tajam setelah saham Intel (INTC.O) anjlok hingga nyaris 29 persen pada penutupan Jumat pekan lalu.
Tim analis dari Goldman Sachs memperkirakan bahwa belanja modal oleh perusahaan penyedia layanan hyperscale akan melesat hampir dua kali lipat menjadi USD 800 miliar pada tahun ini, dan diproyeksikan terus merangkak naik hingga menyentuh USD 1,2 triliun pada tahun 2027.
Pada saat yang sama, mereka memproyeksikan pertumbuhan Laba per Saham (EPS) pada indeks S&P 500 akan mendekati 30 persen pada 2026, sebelum mengalami perlambatan ke angka 18 persen pada tahun berikutnya.
Terkait pergerakan pasar tersebut, Chief US Equity Strategist Goldman Sachs, Ben Snider, dalam catatan risetnya mengemukakan, "Hasil laba telah menegaskan tantangan mendasar yang dihadapi oleh para investor ekuitas—pertumbuhan laba memang kuat, namun tidak lagi mengalami percepatan."
Lebih lanjut, ia memberikan pandangannya terhadap siklus belanja korporasi dengan menyatakan, "Similarly, Q3 results support our view that AI investment spending will continue to grow but that the growth rate of AI capex is peaking."
Tantangan tambahan bagi stabilitas pasar juga bertiup dari eskalasi politik pemilihan umum paruh waktu (midterm elections) di Amerika Serikat. Kemenangan Partai Demokrat di salah satu atau kedua kamar kongres diprediksi kuat dapat memicu lebih banyak hambatan politik dan regulasi bagi operasional serta ekspansi pusat data (data center) ke depan.
Dari pantauan bursa regional Asia, indeks Nikkei Jepang (.N225) tercatat melemah 0,5 persen. Pelemahan senada dialami oleh indeks Kospi Korea Selatan (.KS11) yang merosot 0,8 persen, melanjutkan tren negatif setelah sebelumnya kehilangan 16 persen pada bulan lalu.
Indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang (.MIAPJ0000PUS) juga terkoreksi sebesar 0,4 persen. Di belahan Eropa, pergerakan indeks cenderung stagnan, di mana kontrak berjangka EUROSTOXX 50 menguat tipis 0,1 persen sementara kontrak berjangka DAX bergerak mendatar.
Proyeksi Suku Bunga dan Data Tenaga Kerja
Di bursa Wall Street, kontrak berjangka S&P 500 bergerak naik 0,4 persen dan kontrak berjangka Nasdaq memantul 0,6 persen. Indeks Nasdaq yang sarat akan saham sektor teknologi sebelumnya telah terpuruk hampir 7 persen sepanjang bulan Oktober, mencatatkan performa bulanan terburuknya semenjak kekacauan tarif Liberation Day pada April 2025 lalu.