- Jerry Hermawan Lo berencana menambah dua pabrik kelapa pada 2027.
- Kapasitas pengolahan ditargetkan mencapai 2 juta butir kelapa per hari.
- Peremajaan kebun kelapa NTB menjadi kunci menjamin pasokan bahan baku.
Suara.com - Ambisi memperbesar industri pengolahan kelapa di Indonesia mulai dibayangi persoalan ketersediaan bahan baku. Di tengah rencana ekspansi pabrik hingga 2027, peremajaan perkebunan menjadi pekerjaan rumah agar industri hilir tidak kekurangan pasokan.
Hal tersebut menjadi perhatian pengusaha Jerry Hermawan Lo yang berencana membangun pabrik pengolahan kelapa di Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun, realisasi investasi tersebut membutuhkan dukungan pemerintah daerah untuk memperluas perkebunan sekaligus meremajakan tanaman kelapa yang sudah tua.
Jerry bahkan meminta Pemerintah Provinsi NTB mempercepat program peremajaan tanaman kelapa agar mampu menjamin kebutuhan bahan baku industri.
"Saya sudah berjanji kepada Pak Gubernur, tolong lakukan replanting kelapa sebanyak mungkin. Nanti kelompok usaha saya akan membangun pabrik di sini. Itu janji saya," kata Jerry dalam keterangan tertulis, Rabu (4/11/2026).
Rencana tersebut menjadi bagian dari ekspansi bisnis pengolahan kelapa kelompok usaha Jerry. Saat ini, kelompok usahanya telah memiliki tiga pabrik pengolahan kelapa dan berencana menambah dua pabrik lagi pada 2027.
Dengan penambahan tersebut, kapasitas pengolahan ditargetkan mencapai dua juta butir kelapa per hari.
Besarnya target produksi itu membuat ketersediaan bahan baku menjadi faktor penting. Pasalnya, Jerry menilai banyak perkebunan kelapa di Indonesia masih didominasi tanaman tua peninggalan generasi sebelumnya yang produktivitasnya mulai menurun.
Kondisi tersebut berpotensi menjadi hambatan bagi industri pengolahan yang membutuhkan pasokan kelapa secara berkelanjutan dalam jumlah besar.
Jerry menilai NTB memiliki potensi untuk menjadi salah satu pusat pengembangan industri kelapa nasional. Selain memiliki potensi perkebunan, hampir seluruh bagian tanaman kelapa dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.
Dalam konsep bisnis yang dikembangkan, kelompok usahanya tidak lagi sekadar menjual hasil pertanian dalam bentuk mentah. Melalui konsep Royal Agro Industry, hasil perkebunan akan terlebih dahulu diproses menjadi produk jadi maupun setengah jadi sebelum dipasarkan.
Sabut kelapa, misalnya, dapat diolah menjadi material bangunan seperti genteng, papan, hingga bahan lantai. Tempurungnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku arang dan karbon untuk kebutuhan industri, sedangkan daging kelapa dapat diolah menjadi minyak goreng, santan, serta kelapa parut kering.
Adapun air kelapa memiliki peluang pasar sebagai minuman maupun bahan baku industri minuman kemasan.
Menurut Jerry, peluang tersebut semakin terbuka seiring meningkatnya permintaan produk turunan kelapa di pasar internasional. Karena itu, Indonesia perlu memperkuat industri pengolahan agar tidak hanya bergantung pada penjualan komoditas mentah.
Namun, pengembangan industri tersebut membutuhkan pembenahan dari sisi hulu. Peremajaan tanaman, penggunaan bibit unggul, dan penerapan teknik budidaya modern dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas perkebunan.
Jerry mencontohkan uji coba penanaman kelapa di lahan seluas 50 hektare di Jailolo, Maluku Utara. Dengan teknik pengolahan lubang tanam sedalam sekitar satu meter serta penggunaan campuran tanah dan bahan organik, ia mengklaim tanaman kelapa dapat mulai berbuah pada usia tiga tahun.