Rupiah Loyo, Industri Petrokimia Diversifikasi Bahan Baku dan Kurangi Impor

Liberty Jemadu, Fakhri Fuadi Muflih

Sabtu, 07 November 2026 | 10:15 WIB
Rupiah Loyo, Industri Petrokimia Diversifikasi Bahan Baku dan Kurangi Impor
Industri petrokimia nasional perlu mendiversifikasi bahan baku di tengah melemahnya rupiah. [Antara]
baca 10 detik
  • Kemenperin menyatakan industri petrokimia nasional perlu mendiversifikasi bahan baku menggunakan LPG, batu bara, hingga limbah sawit.
  • Kebijakan fasilitas bea masuk nol persen untuk impor LPG meningkatkan produktivitas sektor petrokimia nasional.
  • PT Pupuk Kalimantan Timur berencana membangun pabrik metanol dan soda ash berkapasitas besar.

Suara.com - Industri petrokimia nasional mulai mendorong diversifikasi bahan baku atau feedstock untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. Alternatifnya melalui pemanfaatan LPG, batu bara, hingga limbah kelapa sawit sebagai alternatif bahan baku industri.

Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Sri Bimo Pratomo, mengatakan industri petrokimia masih bergantung pada impor nafta dan LPG. 

Kondisi tersebut membuat sektor ini rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global, pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan biaya logistik, hingga gangguan rantai pasok akibat situasi geopolitik.

“Bahan baku seperti nafta dan LPG masih dipenuhi dari impor, sehingga sangat terdampak situasi geopolitik global dan fluktuasi nilai tukar,” ujar Sri Bimo dalam diskusi bertema Outlook Industri Petrokimia 2027 di Sentul, Jawa Barat, Jumat (6/11/2026).

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah memberikan fasilitas bea masuk 0 persen untuk impor LPG yang digunakan sebagai bahan baku industri petrokimia. Namun, kebijakan tersebut masih berlaku sementara hingga Januari 2027.

Sri Bimo mengatakan Kemenperin sedang menyusun kajian untuk mengusulkan keberlanjutan fasilitas tersebut kepada pemerintah. Kebijakan ini dinilai memberikan dampak terhadap produktivitas industri selama masa penerapannya.

“Dari hasil perhitungan Kemenperin, selama empat bulan kebijakan ini berjalan terjadi peningkatan produktivitas yang cukup baik di industri petrokimia,” katanya.

Menurut Sri Bimo, LPG merupakan bahan baku substitusi yang dapat digunakan untuk menggantikan sebagian penggunaan nafta. Dengan demikian, industri memiliki fleksibilitas dalam menentukan komposisi bahan baku sesuai harga dan ketersediaan di pasar.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, menjelaskan perkembangan teknologi memungkinkan pabrik petrokimia mencampurkan nafta, LPG, dan kondensat untuk menghasilkan produk turunan seperti ethylene dan propylene.

baca juga

Fleksibilitas tersebut memungkinkan perusahaan menyesuaikan komposisi bahan baku berdasarkan kondisi harga agar biaya produksi lebih efisien.

“Dulu kita 100% menggunakan Nafta. Siklus harga LPG ini fluktuatif; saat musim dingin harganya lebih mahal dari Nafta, tapi saat musim panas harganya bisa jauh di bawah Nafta. Jadi, pabrik bisa mengatur secara fleksibel persentase campuran mana yang menghasilkan margin maksimum,” ujar Fajar.

Selain LPG, industri petrokimia juga melihat peluang penggunaan batu bara melalui teknologi Coal-to-Chemical. Teknologi gasifikasi tersebut dapat mengolah batu bara menjadi metanol yang selanjutnya bisa dikembangkan menjadi bahan baku petrokimia seperti ethylene dan propylene.

Namun, pemanfaatan batu bara menghadapi tantangan dari sisi lokasi sumber bahan baku. Fajar mengatakan sebagian besar batu bara berkalori rendah berada di wilayah pedalaman Kalimantan dan Sumatera sehingga membutuhkan biaya logistik lebih besar untuk mendukung kegiatan industri.

“Teknologi Coal-to-Petrochemical dari China itu sekarang sudah banyak dan murah. Kendalanya, batu bara kita yang low-rank (kalori rendah) itu lokasinya jauh di tengah-tengah Kalimantan atau Sumatera, jauh dari pantai, sehingga ongkos logistiknya mahal,” jelasnya.

Alternatif lainnya berasal dari limbah industri kelapa sawit. Fajar menyebut tandan kosong kelapa sawit berpotensi diolah menjadi metanol untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri kimia.

Meski demikian, pengembangan bahan baku alternatif membutuhkan dukungan kebijakan dan kepastian investasi agar proyek dapat berjalan dalam jangka panjang.

“Secara keekonomian memang sudah masuk, cuma daya tahannya (endurance) butuh dukungan kebijakan pemerintah. Investasinya kalau sudah ada payung hukumnya yang jelas (head-to-head dengan energi fosil), pasti investasi itu akan masuk,” katanya.

Di sisi lain, Kemenperin mencatat sejumlah rencana investasi industri kimia berbasis gas bumi. Salah satunya proyek PT Pupuk Kalimantan Timur yang merencanakan produksi soda ash berkapasitas 300.000 ton per tahun dan ammonium chloride 300.000 ton per tahun dengan target komersialisasi pada 2028.

Perusahaan tersebut juga merencanakan pembangunan pabrik metanol berkapasitas 730.000 ton per tahun. Namun, proyek itu masih mengupayakan alokasi pasokan gas bumi untuk jangka panjang.

Rencana investasi lainnya mencakup pengembangan kawasan industri petrokimia Teluk Bintuni dengan kapasitas produksi metanol 900.000 ton per tahun. Selain itu, terdapat proyek amonia-urea di Fak-Fak dengan kapasitas amonia 825.000 ton per tahun dan urea 1,155 juta ton per tahun.

Pengembangan industri petrokimia juga mencakup produk Super Absorbent Polymer (SAP). Kapasitas produksi nasional saat ini tercatat sekitar 90.000 ton per tahun dan direncanakan meningkat menjadi 140.000 ton per tahun pada 2027.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Asosiasi Industri Makanan dan Minuman: Rupiah Mengkhawatirkan

Asosiasi Industri Makanan dan Minuman: Rupiah Mengkhawatirkan

Bisnis | Sabtu, 07 November 2026 | 09:56 WIB

Siap-siap, Harga Pangan Melonjak di Awal 2027 Karena Rupiah Semakin Tak Berharga

Siap-siap, Harga Pangan Melonjak di Awal 2027 Karena Rupiah Semakin Tak Berharga

Bisnis | Jum'at, 06 November 2026 | 17:59 WIB

Investor Masih Tahan Investasi, Rupiah Berakhir Loyo di Level Rp18.089/USD

Investor Masih Tahan Investasi, Rupiah Berakhir Loyo di Level Rp18.089/USD

Bisnis | Jum'at, 06 November 2026 | 15:41 WIB

Lebih Unggul dari Bunga BI, SBN Ritel ST017 Tawarkan Kupon Hingga 7,05%

Lebih Unggul dari Bunga BI, SBN Ritel ST017 Tawarkan Kupon Hingga 7,05%

Bisnis | Jum'at, 06 November 2026 | 13:10 WIB

Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp18.106, Ini Pemicunya

Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp18.106, Ini Pemicunya

Bisnis | Jum'at, 06 November 2026 | 09:41 WIB

Terkini

Rupiah Loyo, Industri Petrokimia Diversifikasi Bahan Baku dan Kurangi Impor

Rupiah Loyo, Industri Petrokimia Diversifikasi Bahan Baku dan Kurangi Impor

Bisnis | Sabtu, 07 November 2026 | 10:15 WIB

Moisturizer Sudah Mengandung SPF, Perlukah Apply Sunscreen Lagi? Ini Penjelasannya

Moisturizer Sudah Mengandung SPF, Perlukah Apply Sunscreen Lagi? Ini Penjelasannya

Lifestyle | Sabtu, 07 November 2026 | 10:15 WIB

Ahmad Doli Kurnia Diseret dalam Isu Munaslub Golkar 29 November, Tegaskan Tak Tahu Menahu

Ahmad Doli Kurnia Diseret dalam Isu Munaslub Golkar 29 November, Tegaskan Tak Tahu Menahu

News | Sabtu, 07 November 2026 | 10:03 WIB

Tampung 20.300 Meter Kubik Air, Embung Batu Bangkong Jadi Andalan Cegah Banjir

Tampung 20.300 Meter Kubik Air, Embung Batu Bangkong Jadi Andalan Cegah Banjir

Foto | Sabtu, 07 November 2026 | 10:00 WIB

Estetika Kehancuran dan Perenungan di Serial Love, Death & Robots Volume 4

Estetika Kehancuran dan Perenungan di Serial Love, Death & Robots Volume 4

Your Say | Sabtu, 07 November 2026 | 10:00 WIB

Asosiasi Industri Makanan dan Minuman: Rupiah Mengkhawatirkan

Asosiasi Industri Makanan dan Minuman: Rupiah Mengkhawatirkan

Bisnis | Sabtu, 07 November 2026 | 09:56 WIB

"Saya Sangat Marah Sekali!" Ungkapan Kekecewaan Jokowi Usai Mendiang Orang Tuanya Turut Dituding

"Saya Sangat Marah Sekali!" Ungkapan Kekecewaan Jokowi Usai Mendiang Orang Tuanya Turut Dituding

Video | Sabtu, 07 November 2026 | 09:55 WIB

BP BUMN Perkuat Permodalan DSI Sebagai Perantara Ekspor Tunggal

BP BUMN Perkuat Permodalan DSI Sebagai Perantara Ekspor Tunggal

Bisnis | Sabtu, 07 November 2026 | 09:40 WIB

Tanggapan Kapolda Riau soal Laporan Konten TikTok yang Catut SF Hariyanto

Tanggapan Kapolda Riau soal Laporan Konten TikTok yang Catut SF Hariyanto

Riau | Sabtu, 07 November 2026 | 09:22 WIB

Siapa Dumatno? Sosok yang Disinggung Jaksa dalam Sidang Ijazah Jokowi

Siapa Dumatno? Sosok yang Disinggung Jaksa dalam Sidang Ijazah Jokowi

News | Sabtu, 07 November 2026 | 09:13 WIB

×