Menguak Tabir Kelam Bisnis Lendir di DKI Jakarta

Blitz | Suara.com

Sabtu, 04 Februari 2023 | 18:27 WIB
Menguak Tabir Kelam Bisnis Lendir di DKI Jakarta
Prostitusi. (Suara.com)

Kapan prostitusi atau bisnis lendir muncul di dunia? Fakta sejarah membuktikkan bahwa prostitusi sudah ada di muka bumi ini sejak ribuan tahun lalu. 

Faculty of Law Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) menyebutkan bahwa prostitusi muncul di era peradaban Mesir dan kemudian mulai bermunculan di peradaban lain seperti Asyura, Babilonia, dan Iberia.

Kemunculan prostitusi di ribuan tahun lalu ternyata berbeda dengan peradaban modern. Di peradaban kuno, jual beli tubuh wanita untuk dijadikan sebagai pemuas hawa nafsu lebih banyak disebabkan faktor agama. 

Nils Johan Ringdal dalam bukunya berjudul Love For Sale: A World History of Prostitution memaparkan praktik bisnis lendir pada era Mesopotamia. 

Pada saat itu, banyak wanita yang mengabdi untuk kuil-kuil dewa sesembahan masyarakat Mesopotamia. Salah satu dewa yang banyak disembah ialah dewi Ishtar. 

Saat itu, banyak kaum pria Mesopotamia yang datang ke kuil dewi Ishtar dan mengeluarkan uang untuk mendapatkan kekuatan suci dari sang dewi. Caranya ialah bersetubuh dengan wanita yang menjadi pelayan di kuil tersebut. 

Dewi Ishtar sendiri banyak dianggap sebagai pelindung bagi wanita yang bekerja sebagai pekerja seks. Orang Mesopotamia menyebut para pekerja seks itu dengan sebutan harimtu. 

Salah satu sejahrawan terkenal di dunia, Herodotus mengatakan bahwa ia pernah melihat seorang wanita Babilonia bersetebuh dengan pria asing di kuil dewi Ishtar. 

Tak hanya di Mesopotamia, di kawasan Suriah, Herodotus mencatat banyak wanita di sana yang menjual rambut dan tubuh mereka sebagai bagian dari pengorbanan mereka untuk dewi Astarte. 

Pada masyarakat Jawa Kuno juga ditemukan fakta sejarah mengenai praktek prostitusi, Bukti sejarah itu ialah penggunaan kata Jalir dan Kajaliran yang berarti zina atau pekerja seks. Dua kata ini kerap mumcul di kitab susastra dan prasasti. 

Kata jalir mucul dalam karya sastra kenamaan seperti Kakawin Bharattayuddha, Kidung Sunda, Kitab Tantri Demung, dan Nitisastra. 

Malah pada Prasasti Garaman yang dikeluarkan oleh Mapanji Garasakan dari Kerajaan Janggala pada 975 Saka (1053 M) dan pada sisi belakang Prasasti Waharu I tahun 795 Saka (873 M), muncul kata juru jalir yang bisa diartikan sebagai seorang murcikari. 

Saat dunia memasuki abad pertengahan, praktek bisnis lendir ini mulai membuat masyarakat menjadi pro dan kontra. 

Di kawasan Eropa, menurut Jeffrey S. Turner, praktek prostitusi dianggap sebagai tindakan kejahatan. Sejumlah Negara di Eropa pada abad pertengahan mulai menertibkan bisnis lendir. 

Prancis misalnya membuat aturan bahwa para pekerja seks dilarang memasuki beberapa daerah di ibukota Paris. Di Inggris, para pekerja seks ini diwajibkan menggunakan baju khusus yang menandakan profesi mereka tersebut.

Lambat laun, bisnis lendir ini mulai mendapat persetujuan dari sejumlah Negara di Eropa. Pada pertengahan abad ke-17 misalnya, sejumlah Negara termasuk Kerajaan Belanda menerapkan aturan cukup ketat untuk keberlangsungan bisnis prostitusi. Bahkan aturan ini juga diterapkan Kerajaan Belanda di tanah jajahan mereka, termasuk di Indonesia. 

Buku 'Rode Lamp Van Batavia tot Jakarta' yang ditulis oleh Ridwan Saidi memaparkan bahwa munculnya bisnis lendiri di ibukota tak lepas dari berkembangnya budaya keroncong. 

Kala itu, Jassenburg (kini bernama Jembatan Batu, tak jauh dari Stasiun Jakarta Kota), para pemuda bersantai pada malam hari sambil memetik gitar dan para perempuan tampil genit di atas loteng rumah mereka. 

Budaya ini ternyata tradisi yang diturunkan oleh peranakan Portugis India di Indonesia, khususnya di Jakarta. Seiring berjalannya waktu, kawasan Jassenburg yang awalnya banyak dihuni oleh peranakan Portugis India beralih kepada orang Tionghoa. 

Gadis-gadis peranakan Portugis India pun sudah berganti dengan para wanita dari Makau. Sebutan mereka moler (Portugis) yang artinya perempuan, yang kemudian mengalami perubahan makna menjadi perempuan jalang.

Panggilan jalang itu dilekatkan kepada para wania ini disebabkan mereka yang banyak menjadi pemuas hawa nafsu para pembesar Tionghoa dan Belanda. 

Daerah Jassenburg pun kemudian dikenal orang sebagai tempat prostitusi pertama khusus kelas menengah bawah di Jakarta. Banyak orang kemudian mengenal daerah ini sebagai gang Mangga. Kaum Adam yang doyan mampir ke gang ini kemudian dipanggil Pehong alias si sial. 

Disebut si sial karena mereka menjadi penyebar penyakit kelamin yang kemudian marak terjadi setelah munculnya bisnis lendir ini di Jakarta. 

Kemunculan gang Mangga kemudian diikuti dengan munculnya sejumlah tempat yang menjadi bisnis lendir. Bagi orang-orang Eropa, termasuk orang Belanda di Indoensia pada era itu mereka memiliki kebiasaan memberi nama indah untuk daerah yang menjadi tempat bisnis lendir. 

Seperti tempat prostitusi di Sawah Besar diberi nama dengan Caligot, mengambil nama sandiwara keliling dari Eropa yang kerap manggung di Jakarta tempo dulu. 

Daerah Petojo juga memiliki gang tempat mangkalnya para PSK. Orang Belanda menyebut daerah itu dengan sebutan Gang Hauber. 

Setelah Indonesia merdeka, 17 Agustus 1945, daearah ini kemudian berganti nama menjadi gang Sadar. Ialah Walikota Jakarta Raden Soediro yang mengganti nama gang Hauber menjadi gang Sadar. 

Bisnis lendir di kawasan Batavia saat itu mendapat lampu hijau dari Gubernur Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jan Pieterszoon Coen. Setelah meruntukan Jayakarta, Coen membangun Batavia dengan konsep seperti kampug halamanya di Belanda, termasuk munculnya kawasan untuk tempat prostitusi. 

Coen saat itu menganggap bahwa para tentara VOC membutuhkan jasa pemuas hawa nafsu karean jauh dari istri dan keluarga. 

Praktek munculnya bisnis prostitusi di Jakarta kemudian juga menjadi andalan Belanda untuk para prajurit KNIL. Para prajurit KNIL utamanya yang hanya berpangkat rendah tiap malam terjebak ke dunia pelacuran demi bisa memuaskan hawa nafsu. 


 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Daftar 16 Pemain Keturunan Indonesia yang Main di Eredivisie Belanda Musim Ini

Daftar 16 Pemain Keturunan Indonesia yang Main di Eredivisie Belanda Musim Ini

Bola | Sabtu, 04 Februari 2023 | 12:21 WIB

Profil Ida Mahmudah, Anggota DPRD DKI yang Sebut Wisma Atlet Banyak Kuntilanak

Profil Ida Mahmudah, Anggota DPRD DKI yang Sebut Wisma Atlet Banyak Kuntilanak

News | Sabtu, 04 Februari 2023 | 11:53 WIB

Heru Budi Beri Nama Anak Jerapah dan Gajah di Ragunan Unggul dan Tazoo, Ini Maknanya

Heru Budi Beri Nama Anak Jerapah dan Gajah di Ragunan Unggul dan Tazoo, Ini Maknanya

Jakarta | Jum'at, 03 Februari 2023 | 19:18 WIB

Tambah Lokasi Parkir, Pemprov DKI Terapkan Tarif Disinsentif Bagi Mobil Belum Uji Emisi

Tambah Lokasi Parkir, Pemprov DKI Terapkan Tarif Disinsentif Bagi Mobil Belum Uji Emisi

Jakarta | Jum'at, 03 Februari 2023 | 18:57 WIB

Prostitusi Online Jaringan Internasional Dibongkar, Enam Pelaku Ditangkap

Prostitusi Online Jaringan Internasional Dibongkar, Enam Pelaku Ditangkap

Sumbar | Jum'at, 03 Februari 2023 | 17:16 WIB

Terkini

THM Panhead Jadi Perbincangan usai Kasus Penembakan TNI dan Temuan Senjata Rakitan

THM Panhead Jadi Perbincangan usai Kasus Penembakan TNI dan Temuan Senjata Rakitan

Sumsel | Senin, 18 Mei 2026 | 23:59 WIB

Pernah Dipakai Runner Harian, Sekarang 7 Sepatu Lari Ini Justru Jadi Barang Koleksi Mahal

Pernah Dipakai Runner Harian, Sekarang 7 Sepatu Lari Ini Justru Jadi Barang Koleksi Mahal

Jakarta | Senin, 18 Mei 2026 | 23:44 WIB

Cetak Sejarah! Dhea Natasya Jadi Atlet Perempuan Indonesia Pertama di World Longboard Tour 2026

Cetak Sejarah! Dhea Natasya Jadi Atlet Perempuan Indonesia Pertama di World Longboard Tour 2026

Lifestyle | Senin, 18 Mei 2026 | 23:30 WIB

Ayah dan Anak Tewas dalam Rumah Terbakar di Musi Banyuasin, Warga Tak Sempat Menolong

Ayah dan Anak Tewas dalam Rumah Terbakar di Musi Banyuasin, Warga Tak Sempat Menolong

Sumsel | Senin, 18 Mei 2026 | 23:26 WIB

Bulog Pastikan Beras SPHP Tetap Terjangkau untuk Masyarakat

Bulog Pastikan Beras SPHP Tetap Terjangkau untuk Masyarakat

News | Senin, 18 Mei 2026 | 23:19 WIB

Kapal Berisi Jurnalis dan Relawan Indonesia Dibajak, Kemlu Kecam Keras Militer Israel

Kapal Berisi Jurnalis dan Relawan Indonesia Dibajak, Kemlu Kecam Keras Militer Israel

News | Senin, 18 Mei 2026 | 23:14 WIB

Mensos Gus Ipul Minta Penjangkauan Calon Siswa Sekolah Rakyat Tepat Sasaran

Mensos Gus Ipul Minta Penjangkauan Calon Siswa Sekolah Rakyat Tepat Sasaran

News | Senin, 18 Mei 2026 | 23:14 WIB

Pesirah Bank Sumsel Babel Kini Jadi Pilihan Anak Muda Sumsel untuk Bangun Dana Darurat

Pesirah Bank Sumsel Babel Kini Jadi Pilihan Anak Muda Sumsel untuk Bangun Dana Darurat

Sumsel | Senin, 18 Mei 2026 | 23:13 WIB

Menjaga Protein dari Hulu, Misi SPHP Jagung Meredam Gejolak Harga Telur

Menjaga Protein dari Hulu, Misi SPHP Jagung Meredam Gejolak Harga Telur

News | Senin, 18 Mei 2026 | 23:11 WIB

Tak Terima Dituntut 5 Tahun Penjara, Noel Ebenezer: KPK Harus Taubat Nasuha

Tak Terima Dituntut 5 Tahun Penjara, Noel Ebenezer: KPK Harus Taubat Nasuha

News | Senin, 18 Mei 2026 | 23:09 WIB