alexametrics

Sterling dan Walker Jadi Korban Rasisme Usai City Keok di Final Liga Champions

Rully Fauzi
Sterling dan Walker Jadi Korban Rasisme Usai City Keok di Final Liga Champions
Ekspresi penyerang sayap Manchester City, Raheem Sterling (kanan) pada laga final Liga Champions kontra Chelsea di Estadio do Dragao, Minggu (30/5/2021) dini hari WIB. [Jose Coelho / POOL / AFP]

Chelsea mengalahkan Manchester City 1-0 dalam laga final di Estadio do Dragao, Minggu (30/5/2021) dini hari WIB.

Suara.com - Penyerang sayap Manchester City, Raheem Sterling dan bek serbabisa Kyle Walker mengalami pelecehan rasial di Instagram menyusul kekalahan 0-1 dari Chelsea dalam laga final Liga Champions 2020/2021, Minggu (30/5/2021) dini hari WIB. Demikian laporan Sky Sports.

Laporan tersebut mengatakan keduanya dikirimi emoji kera pada Instagram mereka setelah partai puncak di Estadio do Dragao, Porto, Portugal itu.

Sterling juga menjadi target menyusul kemenangan City pada semifinal atas Paris Saint-Germain, tidak lama setelah kampanye boikot media sosial sepakbola Inggris berakhir awal bulan ini.

Beberapa pemain di klub Liga Inggris sendiri telah menjadi target rasisme dalam beberapa bulan terakhir, termasuk pemain Manchester United Anthony Martial, pemain Liverpool Trent-Alexander Arnold dan Sadio Mane, serta pemain Chelsea Reece James.

Baca Juga: Juara Liga Champions, Mason Mount: Kami Adalah Tim Terbaik di Dunia

Penyerang Manchester United Marcus Rashford mengatakan bahwa ia telah menjadi sasaran "sedikitnya 70 penghinaan rasial" pada media sosial pribadinya pasca kekalahan pada Kamis WIB dari Villarreal di final Liga Europa.

Pada Februari lalu, Badan Sepakbola Inggris mengirim surat terbuka kepada Facebook dan Twitter, mendesak pemblokiran dan penghapusan segera posting yang ofensif, serta proses verifikasi yang lebih baik bagi pengguna.

Instagram telah mengumumkan langkah-langkah baru dan Twitter berjanji untuk melanjutkan upayanya setelah mengambil tindakan pada lebih dari 700 kasus pelecehan terkait sepakbola di Inggris pada 2019.

Inggris Raya bulan ini mengatakan satu rencana undang-undang baru yang akan membuat perusahaan media sosial didenda hingga 10 persen dari omset atau 18 juta pounds, jika mereka gagal memberantas pelecehan secara daring, sementara manajer senior juga bisa menghadapi tindakan kriminal.

Baca Juga: Gagal di PSG, Tuchel Kini Juara Liga Champions Bareng Chelsea

Komentar