alexametrics

Legenda MU Gaungkan Ide Klub Sepakbola Didik Penggemar Soal Rasisme

Arief Apriadi
Legenda MU Gaungkan Ide Klub Sepakbola Didik Penggemar Soal Rasisme
Suporter menyaksikan laga Euro 2020 antara Inggris vs Kroasia di Stadion Wembley, Minggu (13/6/2021). [AFP]

Hal itu disampaikan Evra setelah tiga pemain kulit hitam inggris menjadi sasaran pelecehan rasis online pasca final Euro 2020.

Suara.com - Legenda Manchester United, Patrick Evra menggaungkan ide agar klub sepakbola bisa memberikan edukasi kepada penggemar perihal isu rasisme.

Hal itu disampaikan Evra setelah pemain kulit hitam Timnas Inggris menjadi sasaran pelecehan rasis daring usai gagal mengeksekusi penalti dalam kekalahan dari Italia di final Euro 2020.

Marcus Rashford, Jadon Sancho, dan Bukayo Saka menjadi sasaran pelecehan saat mereka gagal mengeksekusi penalti dalam kekalahan 2- 3 Inggris dari Italia, setelah pertandingan berakhir 1-1 usai perpanjangan waktu.

Pelecehan itu mendapat kecaman luas mulai dari kapten, manajer, bangsawan, pemimpin agama, dan politisi Inggris.

Baca Juga: Ballon d'Or: Jorginho Lebih Layak Menang Ketimbang Lionel Messi

Sementara itu, Perdana Menteri Boris Johnson mendesak perusahaan media sosial berbuat lebih banyak untuk mengatasi penyalahgunaan online yang "muncul dari ruang gelap internet".

Evra mengatakan kepada Sky Sports sebagaimana dilansir dari Antara, Kamis (22/7/2021), bahwa pendidikan adalah kunci untuk mengatasi masalah lama tersebut.

"Jika kita tidak melakukan sesuatu, rasisme akan selalu ada karena hal tersebut sudah ada selama bertahun-tahun. Anda tahu kita perlu berubah dan karena itulah mengapa pendidikan menjadi sangat penting," kata Evra.

"Saya ingin orang-orang di klub berinvestasi dalam pendidikan, untuk bertemu dan berbicara kepada penggemar, mungkin sekelompok penggemar dan mengatakan apa yang mereka rasakan ketika mereka dilecehkan karena warna kulit mereka.

"Jangan bilang klub sepak bola tidak bisa melakukan itu, FIFA atau UEFA harus lebih banyak melakukan pertemuan dengan fans sehingga mereka mengerti ketika mereka berbicara tidak pantas kepada pemain berkulit hitam saat mendapatkan bola, bagaimana hal tersebut mempengaruhi mereka. Itu sangat penting."

Baca Juga: David Alaba Rayu Raphael Varane Bertahan di Real Madrid

Penyalahgunaan online terhadap pemain menyebabkan otoritas sepak bola Inggris memboikot platform media sosial sebelum Euro. Di sisi lain, Inggris tengah merencanakan pembuatan undang-undang untuk memaksa perusahaan teknologi bertindak lebih banyak.