Laga uji coba ini sekaligus menjadi momen berduka bagi komunitas Ultras Garuda.
Erick Thohir menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Djalu Ariel Fristianto.
Ultras Garuda adalah komunitas suporter fanatik yang mendukung Timnas Indonesia tanpa memandang klub asal anggota.
Mereka dikenal dengan koreografi, chant keras, dan semangat membara sepanjang laga.
Koordinasi dilakukan secara situasional, menyesuaikan kesiapan anggota yang mengurus pertandingan.
Sosok Ultras Garuda
Ultras Garuda lahir sebagai simbol persatuan suporter Indonesia di bawah panji Merah Putih.
Mereka bukan sekadar penonton, tapi bagian dari energi emosional yang mendorong Timnas Indonesia.
Anggotanya berasal dari berbagai basis suporter seperti Aremania, Bonek, The Jakmania, Bobotoh, dan lainnya.
Komunitas ini meninggalkan atribut klub demi satu tujuan: mendukung Garuda.
Peristiwa meninggalnya Djalu tentu menjadi duka mendalam bagi para pecinta sepak bola nasional.
Kronologis Meninggalnya Djalu Ariel Fristianto
Djalu datang ke Stadion Gelora Bung Tomo untuk mendukung Timnas Indonesia menghadapi Lebanon.
Saat berada di Gate 17, Djalu tiba-tiba sesak napas dan tak sadarkan diri sekitar pukul 20.15 WIB.
Suporter lainnya membawa Djalu ke posko kesehatan sebelum dilarikan ke Rumah Sakit Bhakti Dharma Husada.
Nahasnya, sampai di rumah sakit, Djalu dinyatakan meninggal dunia.
Ketua PSSI Erick Thohir berencana menengok kediaman Djalu untuk menyampaikan belasungkawa secara langsung.
Sosok Djalu Ariel Fristianto
Djalu Ariel Fristianto berasal dari Lamongan, Jawa Timur, dan selalu menonton pertandingan Timnas Indonesia di Jawa Timur.
Dia menempuh jarak sekitar 60 km untuk hadir di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya Barat, dekat perbatasan Gresik.
Djalu meninggal dunia pada usia 25 tahun setelah menyaksikan laga Indonesia vs Lebanon.
Saat datang ke stadion, kondisi fisiknya sedang kurang sehat.
Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi komunitas Ultras Garuda dan pecinta sepak bola nasional.
