Ileague: Tidak Ada Tempat untuk Rasisme di Super League

Pebriansyah Ariefana, Adie Prasetyo Nugraha

Kamis, 18 Desember 2025 | 10:05 WIB
Ileague: Tidak Ada Tempat untuk Rasisme di Super League
Yance Sayuri (Malut United)
baca 10 detik
  • I.League mengutuk rasisme digital terhadap Yance Sayuri setelah laga melawan Persib Bandung berakhir.

  • Regulasi anti-diskriminasi akan diperkuat oleh I.League guna mencegah tindakan rasisme di masa depan.

  • Ferry Paulus mengajak seluruh elemen sepak bola menjaga persatuan dan melawan segala bentuk diskriminasi.

Suara.com - Perhelatan akbar kompetisi sepak bola tanah air antara Malut United FC menghadapi Persib Bandung pada hari Minggu lalu menyisakan sebuah kabar duka yang sangat mendalam bagi industri olahraga.

Meskipun pertandingan yang berlangsung pada tanggal 14 Desember 2025 tersebut berjalan dengan sangat kompetitif, atmosfer pasca laga justru dinodai oleh perilaku oknum yang tidak bertanggung jawab.

Yance Sayuri yang merupakan salah satu pemain kunci dari skuat Malut United secara mengejutkan menjadi sasaran serangan rasisme oleh sejumlah akun di berbagai platform media sosial.

Munculnya tindakan diskriminatif yang sangat memilukan tersebut diduga kuat berawal dari sebuah benturan atau insiden di lapangan hijau yang melibatkan dirinya dengan penggawa Persib, Marc Klok.

Kabar mengenai perundungan berbasis rasial ini segera viral di jagat maya dan memicu gelombang kemarahan dari para pencinta sepak bola nasional yang menjunjung tinggi nilai sportivitas.

Merespons situasi yang semakin tidak kondusif tersebut, I.League selaku operator resmi kompetisi kasta tertinggi di Indonesia langsung mengambil sikap yang sangat tegas dan tidak berkompromi.

Pihak I.League menyatakan bahwa mereka memberikan perhatian khusus terhadap segala bentuk pelecehan yang merusak citra sepak bola Indonesia, terutama yang menargetkan identitas fisik pemain.

Manajemen liga menilai bahwa serangan rasisme bukan hanya sekadar ejekan biasa, melainkan sebuah pelanggaran serius terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang harus dilindungi secara kolektif.

Walaupun tindakan tercela tersebut mayoritas terjadi di ruang digital, I.League beranggapan bahwa dampaknya tetap nyata bagi kesehatan mental pemain dan integritas sebuah pertandingan olahraga.

baca juga

Kejadian yang menimpa Yance Sayuri ini pun menjadi peringatan keras bagi seluruh ekosistem sepak bola bahwa rasisme masih menjadi ancaman laten yang harus diperangi bersama-sama.

Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, secara langsung memberikan pernyataan tertulis untuk mengecam tindakan yang dilakukan oleh oknum suporter di media sosial tersebut tanpa ada pengecualian.

Beliau menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya tidak akan memberikan ruang sedikit pun bagi siapa saja yang mencoba menyebarkan kebencian berdasarkan latar belakang suku, agama, maupun ras.

"Kami mengecam keras tindakan rasisme. Apa pun dan dimanapun, tidak ada tempat untuk rasisme," kata Ferry Paulus, Dirut I.League.

Pernyataan tersebut mencerminkan posisi organisasi yang ingin memastikan bahwa setiap individu yang berkarir di sepak bola Indonesia merasa aman dari segala bentuk perundungan digital.

"Termasuk di ruang digital yang selama ini mendapat perhatian penuh dari semua pihak," jelasnya.

Ferry Paulus juga mengungkapkan bahwa I.League terus menjalin komunikasi yang sangat intensif dengan induk organisasi sepak bola nasional, PSSI, guna mengatasi persoalan rasisme ini.

Langkah kolaboratif ini bertujuan untuk menciptakan sebuah protokol yang lebih efektif dalam menangani kasus-kasus diskriminasi yang sering kali muncul setelah pertandingan-pertandingan dengan tensi yang tinggi.

Pemerintah dan federasi sepak bola diharapkan dapat memberikan dukungan penuh dalam mengidentifikasi pelaku-pelaku rasisme di media sosial agar dapat diproses sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia.

Partisipasi aktif dari semua elemen sepak bola sangat dibutuhkan agar kampanye anti-rasisme ini tidak hanya menjadi slogan belaka di pinggir lapangan, melainkan sebuah kesadaran kolektif.

Ferry Paulus menekankan bahwa keberhasilan dalam memberantas rasisme sangat bergantung pada kemauan baik dari klub, pemain, hingga para pendukung yang berada di tribun maupun di dunia maya.

“Oleh karena itu, kami berharap semua pihak menunjukkan komitmen dan tanggung jawab yang sama,” tambahnya saat menjelaskan pentingnya peran serta komunitas dalam menjaga marwah olahraga.

Saat ini, manajemen I.League juga dikabarkan tengah melakukan tinjauan mendalam terkait penguatan regulasi anti-diskriminasi di dalam buku peraturan resmi kompetisi yang mereka kelola secara mandiri.

Penguatan aturan ini nantinya akan mencakup sanksi yang lebih berat bagi individu maupun kelompok yang terbukti melakukan aksi rasisme, baik secara langsung di stadion maupun melalui perangkat digital.

Langkah ini diambil sebagai bentuk proteksi jangka panjang agar para atlet dapat fokus pada performa mereka tanpa harus merasa terancam oleh komentar-komentar negatif yang bersifat diskriminatif.

Selain dari sisi regulasi, I.League juga berencana untuk menyelenggarakan berbagai program kampanye edukasi yang melibatkan langsung pihak klub dan juga komunitas suporter di seluruh penjuru negeri.

Program edukasi ini dianggap sangat penting sebagai langkah preventif agar para penggemar sepak bola memahami batas-batas dalam memberikan kritik dan dukungan tanpa menyentuh ranah privasi atau ras.

I.League percaya bahwa pemahaman yang baik mengenai keberagaman akan menjadi pondasi yang sangat kuat bagi kemajuan industri sepak bola Indonesia di masa yang akan datang.

Masa depan kompetisi sepak bola tanah air sangat bergantung pada kemampuan seluruh stakeholder dalam menjaga kerukunan dan saling menghormati di tengah persaingan memperebutkan gelar juara.

Segala bentuk perbedaan pendapat di lapangan hijau seharusnya berakhir ketika peluit panjang dibunyikan oleh wasit, tanpa perlu berlanjut ke aksi perundungan yang menyasar identitas personal seorang pemain.

Ferry Paulus menutup keterangannya dengan memberikan pesan yang sangat mendalam mengenai hakikat dasar dari permainan sepak bola yang seharusnya menjadi sarana persatuan bagi bangsa.

"Sekali lagi, kami mengimbau. Tidak ada tempat bagi rasisme di sepak bola. Sepak bola harus kita jaga bersama. Sepak bola menyatukan kita semua," tutupnya dengan nada yang sangat tegas dan penuh harap.

Harapan besar kini tertumpu pada kesadaran para netizen dan pendukung setia klub-klub Indonesia untuk lebih bijak dalam bersosial media serta menjaga lisan dari kata-kata yang menyakitkan.

Keadilan bagi Yance Sayuri dan pencegahan terhadap kasus serupa di masa depan menjadi prioritas utama yang harus diselesaikan oleh I.League melalui koordinasi dengan berbagai instansi penegak hukum.

Sepak bola Indonesia harus tetap menjadi panggung bagi prestasi dan sportivitas, bukan tempat untuk menyemai kebencian yang dapat memecah belah persaudaraan antar anak bangsa yang mencintai olahraga ini.

Mari kita dukung langkah berani I.League dalam membersihkan dunia olahraga dari noda rasisme demi mewujudkan industri sepak bola nasional yang bermartabat, profesional, dan disegani di kancah internasional.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Insiden Yance Sayuri dan Marc Klok Berujung Rasis, Operator Super League Geleng-geleng

Insiden Yance Sayuri dan Marc Klok Berujung Rasis, Operator Super League Geleng-geleng

Bola | Rabu, 17 Desember 2025 | 21:01 WIB

14 Tahun Berseteru, John Terry Tutup Pintu Damai dengan Rio Ferdinand

14 Tahun Berseteru, John Terry Tutup Pintu Damai dengan Rio Ferdinand

Bola | Rabu, 17 Desember 2025 | 13:35 WIB

Persib Bandung Didenda AFC Hampir Setengah Miliar Gara-gara Botol Air Kosong

Persib Bandung Didenda AFC Hampir Setengah Miliar Gara-gara Botol Air Kosong

Bola | Rabu, 17 Desember 2025 | 13:26 WIB

Terkini

BGN Suspend Dapur MBG di Semarang usai 707 Siswa dan Guru Diduga Keracunan

BGN Suspend Dapur MBG di Semarang usai 707 Siswa dan Guru Diduga Keracunan

News | Minggu, 02 Agustus 2026 | 09:23 WIB

Ulasan Novel Kudasai, Ketika Kesetiaan Rumah Tangga Diuji oleh Masa Lalu

Ulasan Novel Kudasai, Ketika Kesetiaan Rumah Tangga Diuji oleh Masa Lalu

Your Say | Minggu, 02 Agustus 2026 | 09:15 WIB

Pergeseran Gaya Hidup Kelas Atas: Saat Konsumen Kaya Lebih Pilih 'Experience' ketimbang Pamer Logo

Pergeseran Gaya Hidup Kelas Atas: Saat Konsumen Kaya Lebih Pilih 'Experience' ketimbang Pamer Logo

Your Say | Minggu, 02 Agustus 2026 | 09:15 WIB

3 Two Way Cake untuk Kulit Berjerawat: Ringan Tanpa Menyumbat Pori-Pori!

3 Two Way Cake untuk Kulit Berjerawat: Ringan Tanpa Menyumbat Pori-Pori!

Your Say | Minggu, 02 Agustus 2026 | 08:50 WIB

Review Film 'Sajen Satu Suro': Bukan Sekadar Horor Mistis, Ini Sisi Gelap Dosa Manusia!

Review Film 'Sajen Satu Suro': Bukan Sekadar Horor Mistis, Ini Sisi Gelap Dosa Manusia!

Your Say | Minggu, 02 Agustus 2026 | 08:34 WIB

Tolak Daftar Grammy 2027, Bos Recording Academy Respons Keputusan BTS

Tolak Daftar Grammy 2027, Bos Recording Academy Respons Keputusan BTS

Your Say | Minggu, 02 Agustus 2026 | 08:25 WIB

Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren

Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren

Your Say | Minggu, 02 Agustus 2026 | 08:19 WIB

Mei 1998: Luka Kolektif yang Tak Boleh Dikalahkan oleh Lupa

Mei 1998: Luka Kolektif yang Tak Boleh Dikalahkan oleh Lupa

Your Say | Minggu, 02 Agustus 2026 | 08:05 WIB

5 Sepatu Long Run Terbaik 2026, Nyaman untuk Latihan hingga Maraton

5 Sepatu Long Run Terbaik 2026, Nyaman untuk Latihan hingga Maraton

Your Say | Minggu, 02 Agustus 2026 | 07:45 WIB

Mengulas Forest of Noise, Kesaksian Puitis dari Tengah Perang Gaza

Mengulas Forest of Noise, Kesaksian Puitis dari Tengah Perang Gaza

Your Say | Minggu, 02 Agustus 2026 | 07:20 WIB

×