-
John Herdman resmi menjadi pelatih Timnas Indonesia Senior dan U-23 selama dua tahun.
-
Fokus utama Herdman adalah evaluasi kegagalan kualifikasi dan berdiskusi dengan kapten Jay Idzes.
-
Sebanyak 60 pemain telah dikontak untuk menjadi pondasi awal pembangunan kekuatan skuad Garuda.
"Saya ingin memahami apa celahnya, saya ingn bicara dengan kapten supaya bisa benar-benar paham pengalamannya, kesulitan, bagaimana mereka bisa bangkit dari kegagalan sebbelumnya," jelasnya.
Pemahaman emosional terhadap pemain dianggap mampu mempercepat proses kebangkitan mental bertanding di kancah internasional.
Setelah semua data terkumpul, barulah tim kepelatihan akan merumuskan program latihan jangka panjang yang komprehensif.
Menariknya, Herdman ternyata sudah bergerak cepat dengan menjalin komunikasi ke puluhan pemain Indonesia di luar.
Ia mengaku telah mengantongi sekitar 60 nama pemain yang akan menjadi fondasi dasar pembentukan kerangka tim.
"Kemudian kita akan lihat sistem performanya, ini adalah langkah yang penting, untuk mendengar, memahami, dan memahami bahwa semua yang perlu didengarkan bisa saya dengar," tegasnya.
Transparansi komunikasi antara pelatih dan pemain menjadi kunci utama dalam membangun kepercayaan di dalam ruang ganti.
Langkah taktis baru akan diambil setelah Herdman benar-benar yakin dengan kesiapan fisik dan psikis para atlet.
PSSI memberikan tanggung jawab besar kepada dirinya tidak hanya untuk level senior namun juga kelompok umur.
Baca Juga: Strategi John Herdman di AFF Cup 2026: Andalkan Pemain Diaspora yang Merumput di Liga 1
Tercatat bahwa pelatih baru ini juga akan memegang kendali penuh sebagai pelatih kepala Timnas U-23.
"Kemudian baru kita ambil langkah untuk menyiapkan apa yang ingin kita raih. Saya juga sudah bicara dengan kapten, sudah mengontak 60-an pemain bahwa saya sudah ada di sini," ia menambahkan.
PSSI mengikat kerja sama profesional dengan Herdman selama dua tahun ke depan sebagai durasi awal kontrak.
Kesepakatan tersebut juga memuat klausul perpanjangan jika sang pelatih mampu memberikan dampak positif yang signifikan.
Rekam jejaknya yang pernah membawa tim ke ajang bergengsi dunia menjadi alasan utama PSSI memilihnya.
Keahliannya dalam mengidentifikasi kelemahan tim di turnamen besar diharapkan bisa menular ke sepak bola nasional.