- FIFA merasa malu setelah menganugerahkan FIFA Peace Award kepada Donald Trump pada 5 Desember 2025.
- Trump menerima penghargaan tersebut menjelang undian Piala Dunia 2026, namun kebijakan agresifnya memicu kritik.
- Kekhawatiran muncul mengenai kesiapan AS sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026 akibat ketegangan geopolitik.
Suara.com - FIFA dikabarkan berada dalam posisi serba tidak nyaman menyusul keputusan kontroversial mereka menganugerahkan FIFA Peace Award kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjelang undian Piala Dunia 2026.
Seorang sumber internal menyebut federasi sepak bola dunia itu kini merasa sangat malu atas penghargaan yang telah diberikan.
Momen tersebut terjadi pada 5 Desember 2025, saat Presiden FIFA Gianni Infantino secara langsung menyerahkan penghargaan perdamaian perdana FIFA kepada Trump dalam acara drawing Piala Dunia 2026.
Dalam pidatonya kala itu, Infantino menyebut Trump sebagai sosok pemimpin yang membawa harapan, persatuan, dan masa depan.
Sejak menerima penghargaan tersebut, Trump justru menuai kritik tajam akibat sejumlah kebijakan luar negeri yang agresif.

Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan udara ke Venezuela, menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya, serta mengancam akan menginvasi Greenland demi alasan keamanan nasional.
Menurut laporan The Guardian, seorang sumber internal FIFA mengungkapkan bahwa perasaan tidak nyaman di internal organisasi kini telah berubah menjadi rasa malu yang mendalam.
Beberapa pejabat FIFA disebut menilai bahwa tindakan Trump setelah menerima penghargaan sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai perdamaian dan persatuan yang menjadi dasar pemberian FIFA Peace Award.
Bahkan, ada kekhawatiran serius terkait kesiapan Amerika Serikat menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026 di tengah ketegangan geopolitik.
Baca Juga: Dokumen Gaji Bocor! Presiden FIFA Kantongi Rp46,4M, Belanja Kasur Seharga Rumah
Seorang pejabat senior FIFA mengakui bahwa proses menuju turnamen nanti akan berlangsung sangat sensitif dan sulit, baik sebelum maupun selama kompetisi berlangsung.
Meski demikian, FIFA secara resmi tetap membela keputusan mereka. Dalam pernyataannya, juru bicara FIFA menegaskan bahwa organisasi tersebut mendukung penuh penghargaan perdamaian tahunan yang mereka berikan.
“FIFA mendukung penuh Peace Award sebagai bentuk pengakuan atas tindakan luar biasa dalam mempromosikan perdamaian dan persatuan,” ujar pernyataan tersebut.
Kontributor: Azka Putra