- Perekrutan Layvin Kurzawa berisiko tinggi bagi Persib karena riwayat cederanya yang parah, terbukti hanya tampil empat kali bersama Boavista musim lalu.
- Gaji fantastis Kurzawa berpotensi membebani keuangan klub dan memicu kecemburuan sosial di ruang ganti jika performanya tidak sesuai ekspektasi.
- Tantangan adaptasi terhadap cuaca tropis, kualitas lapangan, dan perjalanan jauh di Indonesia bisa menjadi hambatan besar bagi pemain yang terbiasa dengan fasilitas Eropa.
Suara.com - Rumor ketertarikan Persib Bandung terhadap mantan bek kiri Paris Saint-Germain (PSG), Layvin Kurzawa, memang memantik antusiasme tinggi di kalangan Bobotoh.
Namun, di balik kilau nama besar dan rekam jejak mentereng di Eropa, terdapat potensi risiko serius yang wajib dipertimbangkan matang-matang oleh manajemen Pangeran Biru.
Mendatangkan pemain veteran dari benua biru tidak selalu menjamin kesuksesan instan, bahkan bisa menjadi bumerang bagi stabilitas tim jika tidak dikelola dengan hati-hati.
Berikut adalah tiga dampak buruk yang berpotensi menghantui Persib Bandung jika sukses mendaratkan Layvin Kurzawa ke Kota Kembang:
1. Riwayat Cedera yang Mengkhawatirkan
Dampak buruk pertama dan yang paling nyata adalah kondisi fisik Kurzawa yang terbilang sangat rapuh dalam beberapa musim terakhir.
Pemain berusia 33 tahun ini memiliki rekam jejak medis yang kurang meyakinkan, seringkali menghabiskan waktu di ruang perawatan ketimbang di lapangan hijau.
Fakta bahwa ia hanya mencatatkan total empat penampilan bersama Boavista di Liga Portugal musim lalu menjadi sinyal merah alias red flag yang sangat jelas.
Jika Persib merekrutnya, ada risiko besar Kurzawa akan lebih sering absen akibat cedera kambuhan, mengingat intensitas fisik dan jadwal padat Super League yang cukup brutal.
Baca Juga: Ulang Tahun ke-20, Viking Karawang Berharap Persib Juara Lagi dan Tembus Final ACL 2
Hal ini tentu akan merugikan tim yang membutuhkan pemain asing yang siap tempur di setiap pekan untuk mengejar target juara.
2. Beban Finansial dan Kecemburuan di Ruang Ganti
Status sebagai eks pemain Timnas Prancis dan PSG tentu membuat Kurzawa memiliki standar gaji yang sangat tinggi, mungkin salah satu yang termahal di sejarah liga.
Menggelontorkan dana fantastis untuk satu pemain berisiko mengganggu kesehatan finansial klub, terutama jika kontribusinya tidak sebanding dengan bayarannya.
Ketimpangan gaji yang terlalu mencolok antara Kurzawa dengan pemain pilar lainnya juga berpotensi memicu kecemburuan sosial di dalam ruang ganti.
Harmonisasi tim yang sudah dibangun susah payah oleh pelatih Bojan Hodak bisa terganggu jika ada pemain yang dianggap "anak emas" namun minim kontribusi nyata.