- Program Satu Anak Satu Bola diluncurkan di Bekasi pada 25 Januari 2026 dengan pembagian 1.000 bola ke 40 SSB.
- Inisiatif MaPan FC ini bertujuan pemerataan pembinaan sepak bola usia dini melalui kepemilikan bola personal oleh anak.
- Program berkelanjutan ini akan disinergikan dengan PSSI untuk pembinaan, kompetisi, dan penyaringan bakat di seluruh Indonesia.
Suara.com - PSSI memberikan apresiasi tinggi terhadap program pembinaan usia dini bertajuk Satu Anak Satu Bola yang digagas MaPan FC. Program ini dinilai sebagai langkah konkret dan strategis dalam menyiapkan fondasi masa depan sepak bola Indonesia sejak usia dini.
Program Satu Anak Satu Bola resmi diluncurkan di Bekasi International Soccer Field, Bekasi Timur, Jawa Barat, Minggu (25/1/2026).
Dalam peluncuran tersebut, sebanyak 1.000 bola dibagikan langsung kepada 40 Sekolah Sepak Bola (SSB) yang berasal dari wilayah Bekasi dan Jakarta.
Inisiatif ini bertujuan memastikan setiap anak memiliki akses terhadap sarana dasar sepak bola.
Dengan kepemilikan bola secara personal, anak-anak diharapkan bisa lebih sering berlatih dan mengasah kemampuan sejak dini.
Acara tersebut sejatinya direncanakan dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, yang juga menjabat sebagai Pembina MaPan FC.
Namun, ia berhalangan hadir karena mendapat panggilan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, ke Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Anggota DPR RI, Eko Hendro Purnomo, menyampaikan bahwa program Satu Anak Satu Bola lahir dari kepedulian terhadap pemerataan pembinaan sepak bola usia dini di Indonesia.
Konsep utama program ini adalah memberikan satu bola secara langsung kepada setiap anak.
Baca Juga: Trofi Piala Dunia 2026 Mampir ke Jakarta
"Alhamdulillah hari ini kami meluncurkan program Satu Anak Satu Bola. Ini bukan hanya kegiatan simbolis, tetapi akan terus bergerak ke seluruh Indonesia," ujar Eko Hendro Purnomo.
Pria yang akrab disapa Eko Patrio itu menegaskan bahwa program ini akan dijalankan secara berkelanjutan dan menjangkau berbagai daerah.
Setiap wilayah akan dijadikan basis pelaksanaan agar anak-anak di seluruh Indonesia memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses fasilitas sepak bola.
"Dengan satu anak satu bola, kami ingin menumbuhkan rasa cinta dan rasa memiliki terhadap sepak bola sejak dini. Sentuhan pertama terhadap bola itu sangat penting bagi perkembangan pemain," kata pria berusia 55 tahun itu.
Tak berhenti pada pembagian bola, Eko memastikan program Satu Anak Satu Bola akan terintegrasi dengan sistem pembinaan berkelanjutan. Ke depan, program ini akan disinergikan dengan SSB, kompetisi usia dini, hingga proses penyaringan bakat.
"Kami akan bekerja sama dengan PSSI untuk pola kompetisi dan pembinaan. Dari sana nanti kami klasifikasi, kami bina anak-anak berbakat agar bisa menjadi pemain yang handal," kata pria asal Nganjuk, Jawa Timur, itu.