-
Tiga mantan juara Liga Champions yakni Marseille, PSV, dan Ajax resmi tersingkir musim ini.
-
Marseille gagal melaju ke babak playoff hanya karena kalah dalam produktivitas selisih gol.
-
Belanda kehilangan semua wakilnya di babak 16 besar setelah PSV dan Ajax gugur.
Suara.com - Panggung megah Liga Champions musim 2025/2026 menyisakan duka mendalam bagi sejumlah tim elit yang punya sejarah panjang.
Kompetisi kasta tertinggi di Benua Biru ini secara resmi mendepak dua belas tim yang menghuni posisi terbawah klasemen.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak mengingat status mereka sebagai mantan penguasa sepak bola Eropa di masa lalu.
Para raksasa ini dipastikan tidak akan bisa melanjutkan perjuangan mereka untuk memperebutkan trofi Si Kuping Lebar musim ini.
Fenomena gugurnya para juara ini membuktikan bahwa sejarah besar tidak menjamin keamanan di format kompetisi terbaru.
Olympique Marseille menjadi tim pertama yang harus menelan pil pahit karena gagal menembus zona playoff.
Klub asal Prancis ini sebenarnya mampu mengumpulkan total sembilan poin dari delapan pertandingan yang telah dijalani.
Posisi mereka berada di urutan ke-25, tepat di ambang batas kelolosan yang sangat menyesakkan bagi para pendukung.
Secara statistik, perolehan poin mereka identik dengan catatan yang dibukukan oleh klub Benfica dan Bodo/Glimt.
Baca Juga: Maarten Paes Tiba di Markas Ajax Amsterdam, Langsung Senyam Senyum
Namun, faktor produktivitas dan pertahanan menjadi pembeda yang membuat langkah Les Phoceens terhenti seketika.
Ketidakberuntungan Marseille sangat terasa karena mereka harus kalah bersaing hanya dalam urusan selisih gol di klasemen.
Padahal, publik sepak bola dunia tentu masih ingat kejayaan mereka saat berhasil menumbangkan AC Milan pada 1993.
Kini, kenangan manis tersebut terasa sangat jauh karena mereka gagal bersaing dengan tim-tim yang lebih dinamis.
Absennya Marseille di babak 16 besar menjadi kehilangan besar bagi representasi kekuatan sepak bola Liga Prancis.
Beralih ke perwakilan dari Belanda, PSV Eindhoven juga dipastikan harus mengakhiri perjalanan internasional mereka lebih awal.
Klub yang berstatus sebagai juara Eredivisie musim lalu ini sama sekali tidak mampu menunjukkan taringnya secara konsisten.
Statistik menunjukkan bahwa mereka hanya mampu meraih dua kemenangan dan dua hasil imbang dari total delapan laga.
PSV terjerembab di posisi ke-28 klasemen akhir, sebuah hasil yang jauh dari ekspektasi manajemen dan para fans.
Hasil ini sangat kontras dengan potensi besar yang sempat mereka tunjukkan di awal babak fase grup.
Sangat ironis melihat PSV tersingkir setelah sebelumnya sempat memberikan kejutan luar biasa di beberapa pertandingan awal.
Mereka tercatat pernah mempermalukan tim kuat sekelas Liverpool dan Napoli dalam perjalanan fase grup musim ini.
Namun, kecemerlangan taktik Peter Bosz ternyata tidak mampu menjaga konsistensi tim hingga pertandingan pamungkas selesai digelar.
Momen emas tahun 1988 saat mereka menguasai Eropa kini hanya menjadi catatan sejarah yang gagal terulang kembali.
Ketidakkonsistenan di laga-laga krusial menjadi penyebab utama mengapa wakil Eindhoven ini harus angkat kaki lebih cepat.
Nasib yang lebih tragis dialami oleh Ajax Amsterdam yang merupakan tim dengan koleksi trofi terbanyak di daftar ini.
Klub raksasa Belanda ini tampil sangat buruk sepanjang fase grup dengan menelan enam kekalahan dari delapan pertandingan.
Perolehan dua kemenangan saja hanya mampu menempatkan mereka di posisi ke-32 dalam klasemen umum Liga Champions.
Kegagalan ini memastikan bahwa tidak ada satu pun wakil dari Negeri Kincir Angin yang tersisa di fase gugur.
Padahal, Ajax dikenal sebagai pabrik talenta dan tim yang memiliki filosofi sepak bola menyerang yang sangat disegani.
Sejarah mencatat bahwa Ajax adalah simbol kekuatan sepak bola dunia, terutama pada era emas tahun 1970-an.
Dominasi mereka di masa lalu seolah tidak berbekas jika melihat performa mereka yang sangat rapuh musim ini.
Klub ini juga sempat menambah koleksi trofi keempat mereka pada pertengahan tahun sembilan puluhan yang sangat legendaris.
Kini, Ajax harus melakukan evaluasi besar-besaran setelah terlempar dari persaingan elit klub-klub terbaik di seluruh daratan Eropa.