- Kapten timnas putri Iran, Zahra Ghanbari, membatalkan permohonan suaka di Australia karena khawatir keselamatan keluarganya di Iran.
- Ghanbari menjadi pemain kelima yang menarik permohonan perlindungan, diduga akibat intimidasi sistematis oleh Federasi Sepak Bola Iran.
- Tujuh pemain yang awalnya meminta suaka kini hanya menyisakan dua orang yang masih bertahan di Australia.
Suara.com - Kapten tim nasional sepak bola putri Iran, Zahra Ghanbari, memutuskan meninggalkan Australia setelah sebelumnya mengajukan permohonan suaka.
Menurut laporan dari media Barat seperti Dailymail menyebut bahwa alasan Zahra batal ambil suaka di Australia ialah kekhawatiran meningkat terhadap keselamatan keluarga para pemain yang masih berada di Iran.
Ghanbari, 34 tahun, menjadi pemain kelima yang membatalkan permintaan perlindungan.
Media pemerintah Iran melaporkan ia akan kembali ke Teheran melalui Malaysia, menyusul beberapa rekan setimnya yang lebih dulu menarik permohonan suaka dalam beberapa hari terakhir.
Sebelumnya, Zahra Soltan Meshkehkar, Mona Hamoudi, dan Zahra Sarbali juga memilih pulang.
Perubahan sikap para pemain memicu dugaan adanya tekanan terhadap keluarga mereka di Iran, terutama setelah salah satu pemain pertama yang mundur dari permohonan suaka dikabarkan menerima ancaman.
![Pemerintah Australia secara resmi memberikan suaka kepada lima anggota timnas wanita Iran yang memutuskan tidak kembali ke tanah air mereka usai perhelatan Piala Asia Putri 2026. [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/10/13721-timnas-putri-iran.jpg)
Sementara itu mantan pemain futsal Iran yang kini hidup di pengasingan, Shiva Amini, mengatakan sejumlah atlet kembali karena intimidasi terhadap keluarga mereka semakin berat.
Ia menyebut ada informasi bahwa Federasi Sepak Bola Iran bekerja sama dengan Garda Revolusi untuk memberi tekanan sistematis kepada keluarga para pemain.
Dari tujuh anggota tim yang sempat meminta perlindungan, hanya dua orang yang masih bertahan di Australia.
Baca Juga: Trump Belum Mau Hentikan Operasi di Iran, Isyaratkan Kesepakatan Rahasia di Tengah Ketegangan
Pemerintah Australia sebelumnya menyetujui visa kemanusiaan bagi enam pemain dan satu staf yang mengaku takut menghadapi hukuman jika kembali ke Iran.
Kontroversi bermula saat timnas putri Iran memilih diam ketika lagu kebangsaan diputar pada laga pembuka Piala Asia Wanita, 2 Maret lalu.
Aksi tersebut dianggap sebagai bentuk protes dan memicu kecaman keras di dalam negeri, bahkan sebagian media menyebut mereka sebagai pengkhianat.
Salah satu pemain dilaporkan menerima pesan suara dari keluarganya agar tidak kembali karena khawatir akan keselamatan mereka.
Pesan lain yang dikirim secara diam-diam juga meminta para pemain tetap berada di luar negeri demi menghindari risiko penangkapan atau hukuman berat.
Pemerintah Iran justru menyambut kepulangan para pemain dan menyebut keputusan itu sebagai bentuk patriotisme.