- FIFA menghadapi kendala penjualan tiket Piala Dunia 2026 karena harga yang sangat mahal sejak Desember lalu.
- Banyak kursi pertandingan fase grup, termasuk laga pembuka di Amerika Serikat, belum terjual habis hingga kini.
- Kritik muncul karena kebijakan harga FIFA dinilai terlalu komersial meskipun target pendapatan mencapai 11 miliar dolar AS.
Suara.com - Kurang dari 40 hari jelang dimulainya Piala Dunia 2026, FIFA masih menghadapi masalah penjualan tiket.
Sejumlah laga fase grup dilaporkan belum terjual habis meski harga tiket dipatok sangat tinggi.
Laga pembuka tuan rumah Amerika Serikat melawan Paraguay di Los Angeles menjadi salah satu pertandingan yang masih menyisakan banyak kursi kosong.
Harga tiket pertandingan tersebut dijual mulai 1.120 dolar AS atau sekitar Rp18,4 juta hingga 4.105 dolar AS.
Sementara itu, paket hospitality untuk laga tersebut mencapai 6.050 dolar AS per kursi.
Tiket pertandingan masih tersedia melalui bagian last-minute sales di situs resmi FIFA.
![Ilustrasi Tiket Piala Dunia 2026 [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/28/76117-tiket-piala-dunia-2026.jpg)
Sejak fase penjualan pertama dibuka Desember lalu, FIFA terus menuai kritik akibat harga tiket yang dianggap tidak masuk akal.
Tiket final bahkan dibanderol hampir 11 ribu dolar AS atau lebih dari Rp180 juta untuk kategori termahal.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya mengklaim antusiasme Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko setara dengan 1.000 tahun Piala Dunia sekaligus.
Namun, fakta masih tersedianya banyak tiket dinilai bertolak belakang dengan klaim tersebut.
Mantan CEO Liverpool FC, Peter Moore, menyebut FIFA terlalu memanfaatkan sistem pasar Amerika Serikat demi keuntungan besar.
“FIFA mengambil keuntungan dari peluang komersial unik di AS. Mengambil 30 persen dari dynamic pricing itu keterlaluan,” kata Moore kepada Al Jazeera.
Ia juga menyoroti target pendapatan FIFA yang disebut bisa melampaui 11 miliar dolar AS dari Piala Dunia 2026.
Menurutnya, FIFA seharusnya bisa membuat harga lebih terjangkau tanpa harus kehilangan keuntungan besar.
Kontroversi semakin memanas setelah empat kursi final Piala Dunia tercantum di situs penjualan ulang resmi FIFA dengan harga hampir 2 juta dolar AS per tiket.