-
Ismael Diaz targetkan kemenangan perdana Panama di Piala Dunia 2026 lawan tim-tim raksasa.
-
Mentalitas jalanan menjadi modal utama Diaz hadapi Inggris dan Kroasia di Grup L.
-
Panama beralih dari sekadar peserta menjadi tim kompetitif dengan target poin penuh tahun depan.
Suara.com - Ismael Diaz menegaskan ambisi besar Panama untuk tidak sekadar menjadi pelengkap di Piala Dunia 2026 mendatang. Bomber andalan Los Canaleros ini menargetkan poin penuh saat bersua tim raksasa seperti Inggris dan Kroasia.
Penyerang berusia 28 tahun ini membawa semangat dari kerasnya lingkungan masa kecil di jalanan Panama City. Baginya, menghadapi bintang dunia di Grup L adalah panggung pembuktian harga diri bangsa yang sedang tumbuh.
Ketajaman Diaz yang sudah teruji sejak usia 17 tahun menjadi modal utama dalam mendobrak kemapanan lawan. Ia menolak tunduk pada nama besar lawan dan memilih fokus pada persiapan mental bertanding.

Kekuatan mental Diaz lahir dari pengalaman masa kecil saat bermain bola tanpa alas kaki di tengah cuaca ekstrem. Ia percaya bahwa latar belakang yang sederhana justru menjadi pemacu semangat juang yang tidak dimiliki tim lain.
“Sebagai seorang pemuda, saya selalu ingin menjadi pesepakbola. Sejak usia sangat muda, saya selalu bermain di jalanan bersama teman-teman, sepupu, dan kakak saya, jadi merupakan impian saya sejak kecil untuk mencapai level tinggi,” ungkap Ismael Diaz dikutip dari laman FIFA.
Kecintaan mendalam terhadap sepak bola telah membentuk karakter Diaz menjadi pribadi yang jauh lebih tangguh sekarang. Hal ini ia jadikan landasan utama dalam memimpin rekan setimnya menghadapi tekanan tinggi di kancah internasional.

“Saya pikir melampaui kesulitan, melampaui masalah yang mungkin Anda hadapi di dalam dan di luar lapangan, cinta yang saya miliki untuk sepak bola telah benar-benar membantu saya tumbuh sebagai pribadi, sebagai ayah, sebagai suami, sebagai pemain,” tambahnya.
Pengalaman mencetak gol pada laga perdana di usia remaja memberikan kepercayaan diri yang luar biasa bagi Diaz. Namun, ia tidak ingin hanya terjebak dalam romantisme masa lalu saat tampil di Piala Dunia Rusia.
“Itu adalah hal-hal yang tidak pernah Anda duga di usia dini. Saya mendapat kesempatan untuk melakukan debut dengan tim nasional, yang diimpikan oleh setiap pemain, dan syukurlah saya tepat waktu – saya mencetak gol pada debut saya,” jelasnya mengenang masa lalu.
Diaz mengakui bahwa proses kualifikasi menuju 2026 telah memberikan pelajaran berharga mengenai arti sebuah kesolidan tim. Menurutnya, masa-masa sulit justru menjadi ajang pembuktian kualitas sejati dari skuad Panama yang kini jauh lebih matang.
“Sangat stres, momen kesedihan dan kemarahan, tetapi pada akhirnya, saya menyadari bahwa jika kita semua bersatu, kita bisa mencapai momen kegembiraan itu,” tegas Diaz mengenai perjuangan timnya.
Berbeda dengan edisi 2018 yang hanya mencari pengalaman, kali ini Panama mengusung mentalitas kompetitif untuk menang. Diaz sama sekali tidak gentar meskipun banyak pihak menilai Panama berada di grup yang sangat sulit.
“Itu adalah Piala Dunia pertama Panama. Saya pikir perasaannya lebih kepada menjalani pengalaman itu. Sekarang, sedikit berbeda, mentalitas kami telah berubah,” ujarnya membandingkan persiapan tim saat ini.
Mengenai lawan berat seperti Inggris, Kroasia, dan Ghana, Diaz justru merasa tertantang untuk mengukur level kemampuannya. Ia menganggap bertemu tim besar adalah inti dari esensi berkompetisi di turnamen sepak bola tertinggi sejagat raya.
“Semua orang mengatakan kepada saya bahwa itu sulit, tetapi saya menyukainya. Saya menyukainya karena, pada akhirnya, saya selalu berpikir bahwa Anda pergi ke Piala Dunia untuk bersaing melawan yang terbaik dan bermain melawan mereka,” kata Diaz dengan penuh keyakinan.