-
Harga tiket Piala Dunia 2026 melonjak tajam hingga menyentuh angka miliaran rupiah di pasar.
-
Isu keamanan dan kebijakan imigrasi Amerika Serikat mengancam jumlah kehadiran suporter dari mancanegara.
-
Turnamen ini menjadi panggung terakhir bagi rivalitas legendaris antara Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.
Suara.com - Gelaran akbar Piala Dunia 2026 terancam menjadi turnamen paling eksklusif dalam sejarah akibat lonjakan harga tiket yang tidak masuk akal. FIFA kini berada di bawah sorotan tajam karena dianggap lebih memprioritaskan kapitalisasi pasar hiburan Amerika Serikat ketimbang aksesibilitas bagi suporter setia.
Akses menonton pertandingan pembuka antara Amerika Serikat melawan Paraguay saja sudah menembus angka 1.000 dolar AS atau setara Rp16 juta. Dikutip dari CNN, lebih gila lagi, kursi untuk partai final dibanderol mencapai 32.970 dolar AS, sebuah angka yang membuat sepak bola terasa seperti barang mewah.
1. Komersialisasi Gila-Gilaan Kursi Stadion
![Profil Timnas Spanyol jelang Piala Dunia 2026: kekuatan skuad, taktik Luis de la Fuente, hingga peran Lamine Yamal dan Rodri dalam ambisi La Roja. [Dok. IG sefutbol]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/06/48579-profil-timnas-spanyol-jelang-piala-dunia-2026.jpg)
Ketimpangan harga ini memicu kritik keras dari berbagai pihak, termasuk tokoh politik papan atas yang merasa nilai tersebut sudah di luar kewajaran. Bahkan, banyak calon penonton yang mulai menyerah untuk hadir langsung ke stadion akibat biaya tambahan transportasi dan akomodasi yang mencekik.
Presiden Donald Trump pun ikut menyindir mahalnya biaya menonton tim nasional negaranya sendiri kepada New York Post.
“Saya juga tidak akan membayarnya, sejujurnya,” kata Trump merujuk pada harga tiket USMNT yang mencapai angka empat digit.
Sistem resale atau penjualan kembali yang difasilitasi FIFA semakin memperparah keadaan dengan membiarkan harga liar tanpa kontrol batas atas. Salah satu pemegang tiket bahkan nekat menjual kursi posisi belakang seharga 11 juta dolar AS di platform resmi tersebut.

FIFA berkali-kali membela kebijakan ini dengan dalih bahwa pendapatan yang masuk akan langsung diputar kembali untuk pengembangan sepak bola dunia. Mereka berargumen bahwa harga tinggi adalah konsekuensi logis dari beroperasi di pasar hiburan paling maju di dunia saat ini.
2. Alasan FIFA di Balik Harga Selangit
Presiden FIFA, Gianni Infantino, menekankan bahwa pihaknya harus mengikuti standar ekonomi yang berlaku di wilayah Amerika Utara agar tidak terjadi spekulasi ilegal. Menurutnya, jika harga dipasang terlalu rendah, para calo justru akan mengambil keuntungan jauh lebih besar di pasar gelap.
“Kita harus melihat pasar. Kita berada di pasar di mana hiburan adalah yang paling berkembang di dunia, jadi kita harus menerapkan tarif pasar,” ujar Gianni Infantino dalam konferensi di California.
Infantino juga menambahkan alasan logis lainnya mengenai sistem perdagangan tiket di Amerika Serikat yang memperbolehkan adanya penjualan kembali secara legal.
“Di AS, menjual kembali tiket juga diperbolehkan, jadi jika Anda menjual tiket dengan harga yang terlalu rendah, tiket ini akan dijual kembali dengan harga yang jauh lebih tinggi. Dan faktanya, meskipun beberapa orang mengatakan bahwa harga tiket yang kami miliki tinggi, mereka tetap berakhir di pasar penjualan kembali dengan harga yang bahkan lebih tinggi, lebih dari dua kali lipat harga kami.”
3. Ketegangan Diplomatik dan Boikot Keamanan
Di luar masalah finansial, partisipasi Iran sempat menjadi teka-teki diplomatik yang panas akibat situasi perang dan keamanan pemain mereka. Sempat muncul wacana pemindahan lokasi tanding ke Meksiko, hingga usulan absurd untuk menggantikan posisi Iran dengan timnas Italia.