-
Arne Slot mengakui keputusan taktisnya musim ini tidak sempurna hingga Liverpool finis kelima.
-
Konflik internal dengan Mohamed Salah mempercepat kepergian sang bintang dari Anfield musim panas ini.
-
Tragedi meninggalnya Diogo Jota dan badai cedera menjadi penyebab utama kegagalan Liverpool.
Suara.com - Manajer Liverpool, Arne Slot, akhirnya mengakui bahwa keputusannya tidak selalu tepat sepanjang musim Premier League ini. Kegagalan mempertahankan mahkota Premier League membuat mereka terlempar ke peringkat kelima klasemen akhir.
Hasil imbang 1-1 saat menjamu Brentford di Anfield menjadi penutup yang mengecewakan. Laga ini sekaligus menandai perpisahan pahit bagi Mohamed Salah dan Andy Robertson.
Keputusan Slot mencadangkan Salah pada November dan Desember memicu rentetan hasil buruk. Liverpool menderita sembilan kekalahan dari 12 pertandingan di periode krusial tersebut.
![Liverpool Disebut Bakal Contek Cara Manchester United: Pecat Slot Angkat Gerrard sebagai Interim [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/27/20786-arne-slot.jpg)
Hubungan yang retak membuat Salah mengkritik Slot secara terbuka dan berujung sanksi internal. Konflik ini mempercepat kesepakatan hengkangnya sang penyerang meski kontraknya tersisa satu tahun.
Kepercayaan berlebih Slot pada pemain yang tampil buruk memperparah keterpurukan tim. Di sisi lain, ia dinilai terlambat memberikan kesempatan bagi talenta muda seperti Rio Ngumoha.
Slot menegaskan bahwa setiap kebijakan yang diambil selalu didasari oleh niat baik. Baginya, seorang juru taktik tidak akan pernah luput dari kesalahan dalam mengambil keputusan.
"Bukan apa yang saya inginkan untuk kami capai musim ini sebelum kami memulainya, tetapi dengan mempertimbangkan segalanya, apa yang terjadi pada kami musim ini, saya senang kami lolos ke Liga Champions," ujar Arne Slot dikutip dari ESPN.

Ia menyadari performa pribadinya sebagai kepala pelatih menjadi sorotan tajam publik. Evaluasi ini dinilainya sebagai hal lumrah bagi seorang manajer klub besar.
"Kami, saya, belum sempurna, tetapi saya akan menjawab pertanyaan ini dengan cara yang persis sama di tahun kami memenangkan liga karena sebagai seorang manajer Anda tidak pernah bisa sempurna, seorang pemain tidak pernah bisa sempurna," tambahnya.
Mantan pelatih Feyenoord tersebut berkilah bahwa dinamika di lapangan sangat sulit diprediksi. Namun, persiapan matang selalu menjadi prioritas utama sebelum pertandingan dimulai.
"Namun semua keputusan yang saya buat sepanjang musim hanya dengan satu pemikiran, dan itu adalah persiapan yang sangat matang," tegas Slot.
Setiap keputusan yang diambil dinilai sudah melalui pertimbangan yang matang pada momen tersebut. Ia menolak anggapan bahwa dirinya sengaja mengambil langkah keliru.
"Tidak setiap keputusan bisa menjadi keputusan yang tepat, jadi bodoh bagi saya untuk duduk di sini dan mengatakan semua keputusan yang saya buat adalah keputusan yang tepat," akunya.
Slot juga mengungkapkan situasi pelik di mana dirinya tidak memiliki banyak pilihan pemain. Faktor eksternal sering kali memaksa tim bermain di luar strategi utama.
"Namun sebelum saya membuatnya, setiap kali rasanya itu adalah keputusan yang tepat untuk diambil. Tetapi seringkali saya bahkan tidak perlu membuat keputusan atau pilihan," jelas Slot.
Kondisi psikologis skuad Liverpool sempat terguncang hebat sebelum kompetisi resmi dimulai. Tragedi kecelakaan mobil yang merenggut nyawa Diogo Jota meninggalkan luka emosional mendalam.
Masalah fisik kemudian memperparah ambisi klub untuk bersaing di papan atas. Rekor transfer klub, Alexander Isak, harus absen dalam 28 pertandingan musim ini.
Krisis ini menjalar ke sektor pertahanan dan penjaga gawang utama mereka. Alisson Becker melewatkan 20 laga, sementara Conor Bradley absen dalam 32 pertandingan.
Pemain kunci seperti Jeremie Frimpong dan Wataru Endo juga menepi cukup lama. Sialnya, bek tengah baru Giovani Leoni hanya bermain 81 menit sebelum cedera parah.
"Jika Anda meminta saya satu kata untuk menggambarkan musim ini, saya akan menggambarkannya dengan kata 'cedera'," tutur Slot merangkum penderitaannya.
Di pihak lawan, Brentford menutup musim dengan kepala tegak di peringkat sembilan. Pelatih Keith Andrews menyebut konsistensi ini sebagai pencapaian luar biasa bagi klubnya.
"Ini menunjukkan bahwa kami adalah klub sepak bola yang baik," kata Keith Andrews bangga.
Ia mengingatkan bahwa bersaing di paruh atas Premier League bukanlah perkara mudah. Banyak tim lain yang gagal mempertahankan konsistensi setelah promosi.
"Finis di paruh atas tidak boleh dianggap remeh, Anda bisa bertanya kepada banyak klub yang tersebar di Championship yang mungkin terlalu tinggi berekspektasi," cetus Andrews.
Keberhasilan Brentford membuktikan bahwa manajemen klub berjalan ke arah yang benar. Dua musim beruntun di papan tengah atas menjadi modal berharga mereka.
"Fakta bahwa kami mampu melakukannya dua tahun berturut-turut adalah sesuatu yang sangat spesial," pungkas Andrews.
Pada laga penutup tersebut, Mohamed Salah sempat memberikan assist untuk gol Curtis Jones. Namun, keunggulan Liverpool langsung sirna enam menit kemudian lewat sundulan Kevin Schade.
Kegagalan mempertahankan keunggulan ini menjadi cerminan rapuhnya performa Liverpool sepanjang musim. Skuad Merseyside kini harus puas bermain di kompetisi kasta kedua Eropa musim depan.