- Pelatih Timnas Senegal, Pape Thiaw, menegur jurnalis yang mempertanyakan keputusan tim melaksanakan salat Jumat saat cuaca buruk di New Jersey.
- Pape Thiaw menegaskan bahwa kewajiban beribadah kepada Tuhan lebih utama dibandingkan agenda teknis maupun risiko cuaca saat Piala Dunia 2026.
- Timnas Senegal berkomitmen tetap menjalankan ibadah salat Jumat meskipun harus mengorbankan peluang meraih gelar juara di ajang Piala Dunia.
Suara.com - Sikap tegas tanpa kompromi baru saja ditunjukkan oleh pelatih Timnas Senegal, Pape Thiaw, saat berhadapan dengan awak media menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026.
Juru taktik asal Afrika tersebut secara mengejutkan menyemprot seorang jurnalis yang mempertanyakan keputusan skuadnya untuk tetap melangsungkan ibadah shalat Jumat.
Pertanyaan tersebut dilontarkan sang wartawan menyusul adanya peringatan dini dari otoritas setempat mengenai memburuknya kondisi cuaca dan ancaman angin kencang di kawasan New Jersey.
Jawaban Menohok Pape Thiaw
Insiden ketegangan di ruang konferensi pers ini bermula ketika sang jurnalis merasa heran mengapa tim rela mengambil risiko keluar dari markas di tengah peringatan cuaca buruk.
Melansir laporan dari media n24gambia, pelatih kepala Pape Thiaw tampak tidak senang dengan pertanyaan yang seolah mengintervensi ranah privasi dan keyakinan beragama anak asuhnya tersebut.
Ia langsung memberikan respons tajam yang menegaskan bahwa urusan spiritual para pemain berada jauh di atas segala urusan duniawi maupun teknis sepak bola.
"Apakah ada yang lebih penting daripada ibadah, dan saya rasa itu adalah pertanyaan yang sama sekali bukan urusan Anda," semprot Pape Thiaw di hadapan para jurnalis.
Lebih lanjut, ia memberikan perumpamaan terkait ketakutan manusia terhadap fenomena alam yang seharusnya tidak mengalahkan kewajiban spiritual.
Takut Tuhan, Bukan Angin
Pape Thiaw mengingatkan sang penanya bahwa angin kencang di langit New Jersey hanyalah makhluk ciptaan Sang Khalik yang tidak sepatutnya ditakuti.
"Anda takut pada angin sementara kami takut kepada Tuhan yang menciptakan angin tersebut," lanjut Pape Thiaw dengan nada yang sangat tegas.
Sang pelatih juga menegaskan kembali filosofi hidup skuadnya bahwa tujuan utama manusia dilahirkan ke bumi adalah untuk mengabdi kepada Sang Pencipta.
"Anda berada di sini bukan sekadar untuk bermain-main, tetapi tujuan utamanya adalah untuk menyembah Tuhan," ungkap Papi Thiaw.
Keteguhan iman skuad perwakilan Afrika ini ternyata tidak akan pernah goyah oleh iming-iming prestasi tertinggi di dunia sepak bola.
Rela Kehilangan Gelar Juara Dunia
Pria tersebut berani menggaransi bahwa rutinitas ibadah wajib ini akan tetap dilaksanakan dalam kondisi krusial apa pun selama turnamen di Amerika Utara berlangsung.
Pernyataan penutupnya sukses membungkam seisi ruang konferensi pers karena ia berani membawa laga puncak Piala Dunia 2026 sebagai perbandingan.
"Bahkan jika kami berhasil mencapai laga Final Piala Dunia, kami akan tetap pergi untuk menunaikan shalat Jumat meskipun pada akhirnya kami harus kehilangan gelar juara," pungkas Pape Thiaw.
Sikap tanpa kompromi ini sekaligus menjadi peringatan bagi pihak luar agar tidak lagi mencampuri agenda ibadah tim selama mereka menetap di Amerika Serikat.
Latar Belakang Perjuangan Singa Teranga
Sebagai informasi, tim nasional kebanggaan masyarakat Senegal ini berada di bawah naungan Federasi Sepak Bola Senegal.
Skuad yang dijuluki Les Lions de la Teranga atau Singa Teranga ini datang ke turnamen dengan membawa ambisi besar untuk mengharumkan nama Afrika.
Berdasarkan hasil undian resmi turnamen, mereka tergabung di Grup I yang menjanjikan persaingan ketat sejak fase penyisihan dimulai.
Ujian berat pertama bagi Pape Thiaw dan anak asuhnya akan langsung tersaji saat mereka menghadapi raksasa Eropa, Prancis, pada 17 Juni mendatang.
Setelah itu, perjuangan wakil Afrika ini akan berlanjut dengan menghadapi Norwegia pada 23 Juni dan ditutup lewat duel melawan Irak pada 27 Juni 2026.