- Brasil mengalahkan Haiti 3-0 di Philadelphia Stadium pada Jumat (19/6) dalam laga Grup C Piala Dunia 2026.
- Kemenangan tersebut menjadikan Brasil tim tersubur sepanjang sejarah Piala Dunia dengan total koleksi 241 gol internasional.
- Matheus Cunha mencetak dua gol dan Vinicius Junior satu gol, membawa Brasil memuncaki klasemen sementara Grup C.
Suara.com - Timnas Brasil mengukir sejarah baru di Piala Dunia 2026. Kemenangan telak 3-0 atas Haiti pada laga Grup C di Philadelphia Stadium, Jumat (19/6), mengantarkan Selecao melampaui Jerman sebagai tim dengan koleksi gol terbanyak sepanjang sejarah putaran final Piala Dunia.
Berdasarkan data Opta, tambahan tiga gol ke gawang Haiti membuat Brasil kini mengoleksi 241 gol di Piala Dunia. Jumlah tersebut melewati catatan Jerman yang sebelumnya memimpin daftar dengan 239 gol.
Hasil ini sekaligus membawa pasukan Carlo Ancelotti memuncaki klasemen sementara Grup C dan menjadi respons sempurna setelah sempat ditahan imbang Maroko pada laga pembuka.
Matheus Cunha dan Vinícius Júnior Jadi Pembeda
Matheus Cunha tampil sebagai bintang kemenangan Brasil. Penyerang Manchester United itu dipercaya tampil sejak menit awal menggantikan Igor Thiago dan langsung membayar kepercayaan tersebut dengan dua gol.
Gol pertama Cunha tercipta pada menit ke-23 setelah sapuan bek Haiti, Hannes Delcroix, justru memantul mengenai dirinya sebelum masuk ke gawang. Tak lama berselang, Cunha kembali mencatatkan namanya di papan skor usai memaksimalkan umpan matang dari Vinícius Júnior.
Brasil kemudian memperbesar keunggulan menjadi 3-0 menjelang turun minum. Kali ini Vinícius Júnior yang mencatatkan gol setelah menerima umpan cungkil akurat dari Lucas Paqueta dan dengan tenang menaklukkan kiper Haiti, Johny Placide.
Menurut catatan Opta, Vinícius kini telah terlibat dalam enam gol dari enam penampilannya di putaran final Piala Dunia. Statistik tersebut membuat pemain Real Madrid itu sejajar dengan sejumlah legenda Brasil seperti Pelé, Ronaldo Nazario, dan Tostão dalam rasio kontribusi gol per pertandingan.
Eksperimen Carlo Ancelotti Berbuah Manis
- Herve Renard: Saya Bukan Penyihir
Baca Juga
Laga melawan Haiti juga menghadirkan catatan menarik dari strategi Carlo Ancelotti. Brasil menurunkan starting XI dengan rata-rata usia 30 tahun 190 hari, yang menjadi susunan pemain tertua mereka sejak final Piala Dunia 1962.
Meski demikian, Ancelotti tetap memberi ruang bagi generasi muda. Rayan dan Endrick dimainkan sebagai pemain pengganti pada babak kedua.
Kehadiran Rayan (19 tahun 320 hari) dan Endrick (19 tahun 333 hari) menjadikan mereka pemain Brasil termuda yang tampil di Piala Dunia sejak 1970. Ini juga menjadi kali kedua dalam sejarah Brasil memainkan dua pemain berusia di bawah 20 tahun secara bersamaan di Piala Dunia setelah Pelé dan José Altafini pada edisi 1958.
Endrick bahkan nyaris mencetak gol keempat Brasil andai aksinya tidak lebih dahulu dianulir karena offside.
Di sisi lain, Haiti sempat memperoleh peluang terbaik melalui sundulan Ricardo Ade pada menit ke-63. Namun, Alisson Becker tampil sigap untuk menjaga gawang Brasil tetap aman.
Tembok Kokoh Brasil dan Cedera Raphinha
Selain tajam di lini depan, Brasil juga tampil solid dalam bertahan. Selecao berhasil membuat Haiti gagal melepaskan satu pun tembakan ke arah gawang sepanjang babak pertama.
Catatan tersebut menjadi yang pertama bagi Brasil dalam pertandingan Piala Dunia sejak menghadapi Skotlandia pada edisi 1990.
Secara keseluruhan, dominasi Brasil tercermin dari statistik expected goals (xG) yang mencapai 1,5 berbanding 0,23 milik Haiti.
Sayangnya, kemenangan ini harus dibayar mahal. Raphinha terpaksa meninggalkan lapangan pada menit ke-40 akibat cedera hamstring. Kondisi pemain Barcelona tersebut kini masih dipantau dan diragukan tampil pada pertandingan berikutnya.
Brasil Pertegas Status Favorit
Bagi Haiti, kekalahan ini memperpanjang catatan buruk mereka di Piala Dunia. Tim asal Karibia tersebut masih belum pernah meraih poin maupun mencatatkan clean sheet sepanjang sejarah partisipasi mereka di turnamen ini.
Haiti juga tercatat kebobolan tiga gol atau lebih dalam empat dari lima pertandingan terakhir mereka di putaran final Piala Dunia.
Sebaliknya, kemenangan ini semakin menegaskan dominasi Brasil saat menghadapi wakil Concacaf. Selecao kini memenangkan sembilan dari 10 pertandingan terakhir melawan tim dari kawasan Amerika Utara dan Karibia, dengan sembilan clean sheet.
Dengan status baru sebagai tim tersubur sepanjang sejarah Piala Dunia dan performa yang terus membaik, Brasil semakin mengukuhkan diri sebagai salah satu kandidat kuat juara Piala Dunia 2026.
