- Suporter Jepang menuai pujian global karena aksi membersihkan stadion setelah pertandingan Piala Dunia 2026 berlangsung.
- Tradisi tersebut memicu kritik domestik terkait ketimpangan pembagian tugas rumah tangga antara pria dan wanita Jepang.
- Data OECD menunjukkan perempuan Jepang menghabiskan waktu lebih banyak untuk pekerjaan rumah tangga dibandingkan kaum pria.
Suara.com - Aksi suporter Jepang yang membersihkan stadion usai pertandingan Piala Dunia 2026 kembali viral dan menuai pujian global.
Namun di dalam negeri, tradisi tersebut justru memicu perdebatan soal ketimpangan pembagian tugas rumah tangga antara pria dan wanita.
Sorotan muncul setelah foto-foto suporter Samurai Blue memunguti sampah seusai laga melawan Belanda beredar luas di media sosial.
Di sisi lain, sebuah unggahan viral memperlihatkan kontras perilaku pria Jepang di ruang publik dan di rumah.
Unggahan tersebut menampilkan ilustrasi seorang pria yang rajin membersihkan stadion, namun digambarkan bersantai di rumah sementara perempuan mengerjakan pekerjaan domestik.
“Pria Jepang seharusnya lebih banyak membantu di rumah,” tulis unggahan yang mendapat puluhan ribu tanda suka.
![Aksi suporter Jepang membersihkan stadion di Piala Dunia 2026 menuai kritik. Isu ketimpangan gender dan pembagian tugas rumah tangga jadi sorotan. [Dok. x/@atsukotamada]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/19/66786-aksi-suporter-jepang-membersihkan-stadion-di-piala-dunia-2026.jpg)
Komentar publik pun beragam. “Semua orang ingin menyelamatkan dunia, tapi tidak ada yang mau membantu ibu mencuci piring,” tulis seorang pengguna, mengutip pernyataan yang dikaitkan dengan penulis PJ O’Rourke.
Data Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memperkuat kritik tersebut.
Perempuan Jepang tercatat menghabiskan lebih dari tiga jam per hari untuk pekerjaan tidak berbayar, sementara pria hanya sekitar 47 menit.
Kesenjangan itu bahkan lebih besar dalam keluarga muda.
Survei pemerintah Jepang menunjukkan perempuan bisa menghabiskan lebih dari tujuh jam per hari untuk pekerjaan rumah tangga, dibandingkan pria yang kurang dari dua jam.
Meski begitu, tidak semua pihak setuju dengan kritik tersebut.
Sebagian warganet menilai kebiasaan membersihkan stadion tetap patut diapresiasi sebagai bagian dari budaya disiplin masyarakat Jepang.
FIFA sendiri memuji aksi para suporter Jepang dengan menyebut mereka memiliki perilaku yang sempurna.
Tradisi ini bahkan mulai ditiru oleh suporter dari negara lain, termasuk Portugal.
