Carlo Ancelotti menjadi sosok kunci di balik kebangkitan Brasil berkat ketenangan dan perubahan taktik pada babak kedua.
Keputusan mempertahankan Casemiro serta memasukkan Endrick dan Gabriel Martinelli terbukti menjadi titik balik kemenangan Selecao.
Kemenangan 2-1 atas Jepang menyelamatkan Brasil dari potensi kegagalan terburuk di fase gugur Piala Dunia sejak 1990 sekaligus mengantar mereka ke babak 16 besar.
Suara.com - Timnas Brasil nyaris menorehkan catatan kelam saat menghadapi Jepang pada babak 32 besar Piala Dunia 2026.
Skuad berjuluk Selecao itu sempat berada di ujung tanduk setelah tertinggal satu gol pada babak pertama dalam laga yang berlangsung di Houston Stadium.
Namun, sentuhan dingin pelatih Carlo Ancelotti menjadi faktor pembeda yang menghindarkan Brasil dari salah satu pencapaian terburuk mereka di ajang Piala Dunia.
Brasil menurunkan susunan pemain tertua mereka di fase gugur Piala Dunia sejak edisi 2006, dengan rata-rata usia 29 tahun 245 hari.
Kondisi tersebut sempat membuat permainan Brasil kehilangan dinamika. Jepang pun mampu memanfaatkan situasi melalui gol Kaishu Sano pada babak pertama.
Sentuhan Dingin Carlo Ancelotti Jadi Pembeda
![Brasil lolos ke 16 besar Piala Dunia 2026 usai bangkit mengalahkan Jepang 2-1. Carlo Ancelotti memuji kesabaran tim dan mengungkap rencana memasukkan Neymar. [Dok. IG Brasil]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/30/96571-brasil-lolos-ke-16-besar-piala-dunia-2026.jpg)
Di tengah tekanan yang meningkat, Carlo Ancelotti tetap menunjukkan ketenangan di pinggir lapangan.
Sikap tenang pelatih asal Italia itu diyakini bukan sekadar untuk meredam kepanikan, melainkan wujud keyakinannya bahwa Brasil masih mampu membalikkan keadaan.
Perubahan permainan Selecao mulai terlihat selepas turun minum.
Ancelotti memasukkan Endrick menggantikan Lucas Paqueta yang mengalami cedera. Kehadiran penyerang muda Real Madrid itu membuat permainan Brasil menjadi lebih agresif dan dinamis.
Pelatih berusia 67 tahun tersebut juga tetap mempercayai Casemiro meski sang gelandang telah menerima kartu kuning dan sempat melakukan kesalahan yang berujung gol Jepang.
Kepercayaan itu dibayar lunas ketika Casemiro mencetak gol penyama kedudukan melalui sundulan di tiang jauh.
Berdasarkan data Opta, gol tersebut lahir dari perubahan pendekatan Brasil yang lebih mengandalkan umpan silang pada babak kedua.
Brasil tercatat melepaskan 27 umpan silang sepanjang babak kedua, salah satu jumlah tertinggi yang mereka bukukan dalam satu pertandingan Piala Dunia sejak 1966.
Dominasi Berbuah Gol Penentu
Perubahan taktik membuat Brasil mendominasi permainan.
Data field tilt menunjukkan Selecao menguasai hingga 80 persen operan di sepertiga akhir lapangan lawan sepanjang babak kedua.
Jepang yang semula mengandalkan serangan balik akhirnya dipaksa bertahan di area sendiri.
Ancelotti kembali menunjukkan ketepatan membaca pertandingan dengan memasukkan Gabriel Martinelli menggantikan Matheus Cunha pada penghujung laga.
Keputusan itu berbuah manis. Martinelli mencetak gol kemenangan pada masa injury time dan memastikan Brasil menang 2-1 sekaligus melaju ke babak 16 besar.
Hasil tersebut juga menyelamatkan Brasil dari potensi tersingkir pada putaran pertama fase gugur, sesuatu yang terakhir kali mereka alami di Piala Dunia 1990.
Mental Brasil Mulai Terbentuk
Kemenangan dramatis atas Jepang menjadi bukti bahwa Brasil mulai memiliki ketahanan mental yang selama ini kerap dipertanyakan.
Ini merupakan kemenangan kedua Brasil dalam sembilan pertandingan Piala Dunia ketika sempat tertinggal lebih dahulu.
Meski permainan Selecao masih menyisakan sejumlah evaluasi, kepemimpinan Ancelotti kembali menunjukkan pengaruh besarnya dalam mengelola jalannya pertandingan.
Fokus yang sebelumnya tertuju kepada para pemain bintang seperti Vinicius Junior kini mulai bergeser kepada kejeniusan taktik Ancelotti yang mampu memaksimalkan potensi skuadnya.
Dengan sentuhan sang pelatih, Brasil menjaga asa mengakhiri penantian panjang meraih gelar juara dunia yang telah berlangsung selama 24 tahun.
