- Lamine Yamal mengantarkan Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Argentina di partai final turnamen tersebut.
- Pemain berusia 19 tahun ini mencetak rekor dribble terbanyak dan menjadi pemain termuda yang memenangkan gelar juara dunia.
- Kontribusi strategis Yamal dalam menciptakan ruang bagi rekan setim menjadikannya pilar kunci kesuksesan Spanyol sepanjang turnamen berlangsung.
Suara.com - Lamine Yamal, bintang muda Barcelona yang baru berusia 19 tahun, menjadi salah satu sorotan utama di Piala Dunia 2026. Meski statistik gol dan assist-nya tidak terlalu mencolok, hanya 1 gol dan tanpa assist sepanjang turnamen, kontribusinya jauh melampaui angka-angka tersebut.
Yamal memimpin Spanyol meraih gelar juara dunia kedua mereka, mengalahkan Argentina di final melalui gol Ferran Torres di babak perpanjangan waktu.
Sebagai pemain termuda yang pernah memenangkan UEFA Euro dan FIFA World Cup, Yamal membuktikan dirinya sebagai talenta luar biasa. Ia datang ke turnamen dengan kondisi hamstring yang masih pulih, sehingga mulai dari bangku cadangan.
Penampilan pertamanya sebagai starter di grup melawan Arab Saudi langsung gemilang. Ia mencetak gol pembuka pada menit ke-10 dalam kemenangan 4-0 Spanyol.
Sepanjang turnamen, Yamal mencatatkan 22 dribble sukses, 6 peluang diciptakan, 38 duel dimenangkan, 11 kontribusi defensif, dan 23 recoveries.
Rata-rata ratingnya mencapai 7.4, menjadikannya salah satu pemain paling berpengaruh di skuad La Roja. Ia juga memecahkan rekor dribble terbanyak di turnamen ini (30 dribble), mengungguli nama-nama besar seperti Kylian Mbappé (24) dan Vinicius Jr (23).
Dampak di Luar Angka Gol
Banyak yang sempat bertanya-tanya apakah Yamal “mengecewakan” karena minim gol. Namun, analisis mendalam menunjukkan sebaliknya. Pertahanan lawan sering membangun strategi khusus untuk menjaganya.
Beberapa bek lawan seperti Sanabria (Uruguay), De Cuyper (Belgia), dan Digne (Prancis) bahkan diganti karena kesulitan menghadapi kecepatan dan dribbling-nya.
Di semifinal melawan Prancis, Yamal mendominasi dengan 2 gol, 83% akurasi umpan, 3 peluang diciptakan, dan memenangkan penalti. Ia juga menciptakan ruang bagi rekan setim seperti Pedri, Dani Olmo, dan Ferran Torres.
Kontribusi defensifnya tidak kalah penting: 6 recoveries dan 5 tackle di beberapa laga penting.
Di final melawan Argentina, Yamal tetap menjadi ancaman konstan meski Messi bermain luar biasa. Spanyol tampil disiplin dan mengandalkan transisi cepat yang sering dimulai dari aksi Yamal di sayap kanan.
Kemenangan 1-0 di perpanjangan waktu menandai puncak perjalanan Spanyol, dan Yamal kini menjadi juara dunia termuda kedua setelah legenda-legenda seperti Pelé.
Perjalanan Menuju Puncak Piala Dunia 2026
Lamine Yamal sudah menunjukkan kelas dunia sejak Euro 2024, di mana ia menjadi pemain muda berprestasi. Di level klub, musim 2025/2026 ia mencatatkan puluhan gol dan assist untuk Barcelona.
Di Piala Dunia 2026, meski mulai pelan karena cedera, ia tumbuh bersama tim. Spanyol lolos dari grup dengan dominan, kecuali hasil imbang 0-0 melawan Cape Verde, lalu menaklukkan lawan-lawan kuat seperti Austria, Portugal, Belgia, dan Prancis.
Pelatih Spanyol memanfaatkan Yamal bukan hanya sebagai pencetak gol, tapi sebagai magnet pertahanan lawan. Kemampuannya menarik dua hingga tiga bek membuat rekan-rekannya mendapat ruang lebih luas. Ini mirip dengan peran Lionel Messi di masa jayanya, di mana kontribusi keseluruhan sering lebih berharga daripada statistik pribadi.
Kemenangan ini membuat Yamal menjadi favorit utama Ballon d’Or 2026. Dengan usia baru 19 tahun, ia sudah memiliki gelar Euro, La Liga, Supercopa, dan World Cup. Prestasi ini jarang terjadi bahkan bagi pemain sekaliber Messi atau Ronaldo di usia muda.
Secara keseluruhan, kontribusi Lamine Yamal di Piala Dunia 2026 adalah contoh sempurna bahwa sepak bola bukan hanya soal gol. Dribbling mematikan, visi permainan, kerja keras defensif, dan kemampuan menciptakan kekacauan di pertahanan lawan membuatnya menjadi salah satu pilar utama juara dunia.
