- Pelatih John van den Brom menegaskan Mees Hilgers dipastikan tidak akan kembali memperkuat FC Twente.
- John van den Brom menyatakan rasa kecewanya karena Hilgers mangkir dari klub meski masih memiliki kontrak aktif.
- John van den Brom merupakan mantan gelandang produktif yang kini memiliki rekam jejak kepelatihan di berbagai klub Eropa.
Suara.com - Pernyataan kontroversial disampaikan oleh pelatih FC Twente, John van den Brom mengenai masa depan bek Timnas Indonesia, Mees Hilgers.
John van den Brom menegaskan tidak melihat peluang kembalinya Mees Hilgers ke skuad FC Twente.
“Ini sangat mengecewakan. Saya sudah lama tidak melihatnya. Dia masih punya kontrak, tapi tidak datang,” ujarnya dinukil dari voetbalprimeur.
Ia menilai Hilgers adalah pemain yang tumbuh dari akademi klub dan memiliki ikatan kuat dengan FC Twente.
“Dia besar di sini, ini klubnya. Anda selalu berharap pemain pergi dengan cara yang baik. Saat ini, itu tidak terjadi,” lanjut Van den Brom.
Ketika ditanya kemungkinan rekonsiliasi, sang pelatih menjawab tegas.
“Apakah masih ada jalan kembali? Tidak. Saya rasa tidak. Saya tidak berharap dia kembali,” katanya.
![Mees Hilgers dan FC Twente akan berdamai [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/11/19/22446-mees-hilgers.jpg)
Profil John van den Brom
Lahir di Amersfoort pada 4 Oktober 1966, Van den Brom dikenal sebagai gelandang produktif di masanya.
Ia mencetak 107 gol dari 432 pertandingan, termasuk torehan impresif bersama Vitesse dengan 80 gol dalam 225 laga.
Kariernya sebagai pemain juga mencakup klub besar seperti Ajax dan pengalaman luar negeri bersama Istanbulspor.
Bersama Ajax, ia menjadi bagian dari era kejayaan klub meski tak tampil di final Liga Champions 1995.
Usai gantung sepatu pada 2003, Van den Brom langsung meniti karier sebagai pelatih.
Ia memulai dari level bawah hingga akhirnya menembus kompetisi elite Eropa.
Namanya melejit saat menangani RSC Anderlecht di Belgia.
Ia sukses mempersembahkan gelar juara liga serta dua trofi Supercup, pencapaian yang menjadi puncak karier kepelatihannya.
Tak berhenti di situ, Van den Brom juga membawa KRC Genk menjuarai Piala Belgia.
Di Belanda, ia sempat melatih klub-klub seperti Vitesse, AZ, dan FC Utrecht.
Meski tidak selalu meraih trofi, ia konsisten membawa tim bersaing di papan atas dan menembus kompetisi Eropa.
Perjalanan kariernya juga diwarnai tantangan, termasuk pemecatan di beberapa klub akibat hasil yang tak konsisten.
Dalam beberapa tahun terakhir, pelatih asal Belanda itu kerap terlibat konflik, baik dengan klub, wasit, hingga lingkaran internalnya sendiri.
Kontroversi terbesar terjadi pada Mei 2025 saat ia berpisah dengan Vitesse.
Van den Brom yang datang di tengah krisis klub justru harus menerima kenyataan pahit ketika kontraknya tidak diperpanjang oleh manajemen.
Ia meluapkan kekecewaannya secara terbuka.
“Keputusan ini amatir dan tidak menghormati saya,” tegasnya saat itu.
Insiden serupa sebenarnya bukan yang pertama.
Pada 2020, saat masih menangani FC Utrecht, ia juga dihukum karena melontarkan kata-kata keras kepada wasit usai pertandingan.