- Kepolisian Korea Selatan menggerebek kantor KFA pada Rabu, 6 Agustus 2026, untuk menyelidiki dugaan pelanggaran penunjukan pelatih Hong Myung-bo.
- Penyelidikan kepolisian mencakup dugaan penghalangan proses bisnis dan penyalahgunaan wewenang oleh pejabat tinggi dalam rekrutmen pelatih tim nasional.
- Penggeledahan dilakukan menyusul kegagalan timnas Korea Selatan lolos dari fase grup Piala Dunia 2026 dan pengunduran diri Hong.
Suara.com - Kepolisian Korea Selatan menggerebek kantor Federasi Sepak Bola Korea (KFA) pada Rabu (6/8/2026) waktu setempat.
Penggeledahan ini terkait penyelidikan dugaan pelanggaran dalam proses penunjukan pelatih tim nasional, Hong Myung-bo.
Polisi menyebut operasi tersebut merupakan bagian dari penyidikan atas dugaan obstruction of business atau menghalangi proses bisnis dalam perekrutan pelatih.
Kasus ini memunculkan dugaan penunjukkan Hong sebagai nepotisme di kalangan pejabat tinggi KFA.
Seorang juru bicara kepolisian mengatakan pihaknya melakukan pengumpulan bukti di kantor KFA.
Kasus ini mencuat setelah performa buruk Korea Selatan di Piala Dunia 2026.

Tim yang digadang-gadang sebagai generasi emas gagal lolos dari fase grup usai kalah mengejutkan 0-1 dari Afrika Selatan.
Hong Myung-bo, yang saat itu menjabat pelatih kepala, mengundurkan diri pada Juni 2026.
Kekalahan tersebut memicu kritik luas dari publik dan media terhadap federasi.
Sorotan terhadap KFA sebenarnya sudah muncul sejak penunjukan Hong pada 2024. Namun, kegagalan di Piala Dunia membuat tekanan semakin besar.
Media lokal melaporkan adanya dugaan intervensi pejabat tinggi KFA dalam proses penunjukan Hong.
Intervensi tersebut diduga melanggar aturan internal federasi.
Polisi kini menyelidiki apakah ada unsur penyalahgunaan wewenang dalam proses tersebut.
Tim investigasi kejahatan finansial turut dilibatkan dalam pengusutan kasus ini.
Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, ikut angkat bicara.
Ia menyebut kegagalan tim nasional disebabkan oleh orang-orang tidak kompeten yang diangkat karena faktor loyalitas dan kepentingan kelompok.
“Ini menunjukkan adanya masalah dalam sistem rekrutmen di level tertinggi,” ujar Lee dalam pernyataannya.
Di sisi lain, Hong Myung-bo sebelumnya telah dipanggil ke parlemen pada Juli lalu.
Dalam sidang tersebut, ia menyatakan bertanggung jawab penuh atas kegagalan tim.
“Saya mengambil tanggung jawab penuh atas hasil buruk ini,” kata Hong.
Keputusan Hong mencadangkan Son Heung-min pada babak pertama laga penentuan melawan Afrika Selatan juga menuai kritik keras.
Banyak suporter menilai keputusan itu menjadi salah satu faktor kekalahan.
Selain itu, isu gaji juga ikut menjadi sorotan.
Dalam sidang parlemen, muncul klaim bahwa Hong menerima bayaran hingga 3,8 miliar won per tahun.
Hong membantah angka tersebut, namun menolak mengungkapkan jumlah sebenarnya.
Situasi yang dialami kantor KFA mengingatkan publik Indonesia di era Satgas Anti Mafia Bola.
Pada Januari 2019, Satgas Anti Mafia Bola melakukan penggeledahan di dua kantor PSSI lama, yaitu di fX Sudirman (Jakarta Pusat) dan kawasan Kemang (Jakarta Selatan).
Saat itu pihak kepolisian mencari dokumen dan bukti-bukti terkait kasus pengaturan skor (match fixing) liga sepak bola Indonesia.