- Maruarar Sirait menyatakan Piala Presiden 2026 di Jakarta tanggal 6 Agustus 2026 menjadi edisi terakhir kepemimpinannya setelah delapan kali memimpin.
- PSSI berencana mengubah format turnamen edisi berikutnya menjadi agenda tim nasional yang bertanding saat FIFA Matchday.
- Turnamen sejak pertama kali diselenggarakan tahun 2015 terbukti berhasil meningkatkan perekonomian masyarakat melalui pelibatan pelaku UMKM lokal.
Suara.com - Piala Presiden 2026 kabarnya akan menjadi edisi terakhir yang dipimin oleh Maruarar Sirait. Sosok yang akrab disapa Ara itu sudah memberikan isyarat bakal memberikan kesempatan kepada orang lain menggantikan dirinya.
"Semoga panitia tahun depan kalau boleh saya sudah 8 kali mau istirahat jadi ketua panitia. Saya kira adik-adik kita ini siap memimpin Piala Presiden dari yang sudah saya pimpin delapan kali," kata Maruarar Sirait saat konferensi pers di Jakarta pada 6 Agustus 2026.
Apa yang diucapkan Ara bukan isapan jempol saja. PSSI berencana mengubah peserta Piala Presiden edisi selanjutnya dari klub-klub profesional menjadi agenda tim nasional.
Nantinya, Piala Presiden berlangsung saat matchday FIFA. Timnas Indonesia akan bertanding dengan negara-negara lain.
"Tidak ada salahnya, kami coba tingkatkan kualitasnya. Satu di antaranya bagaimana Piala Presiden ini bisa menjadi pertandingan tim nasional, seperti juga yang sudah dilakukan oleh Thailand yaitu King's Cup," ujar ketua umum PSSI Erick Thohir.
Kilas Balik dari 2015
Maruarar Sirait adalah sosok maestro di balik kesuksesan Piala Presiden
Kali pertama digelar pada tahun 2015 di mana saat itu sepak bola Tanah Air dalam kondisi tidak karuan. Tak ada kompetisi, klub, pelatih, hingga pemain dalam situasi tertentu.
Piala Presiden lahir menjadi angin segar bagi mereka yang mencari nafkah dari sepak bola. Menariknya, Ara yang dipercaya memimpin, memanfaatkan momentum tersebut juga untuk meningkatkan kerakyatan ekonomi melalui UMKM.

Melihat kesuksesan yang dibangun Ara pada edisi 2015, Piala Presiden ternyata dijadikan rutinitas memperingati musim baru sampai saat ini. Hanya pada tahun 2016, 2020, 2021, dan 2023 ajang tersebut tak digelar.
Dalam setiap edisinya sama sekali tidak ada penurunan kualitas turnamen. Justru Piala Presiden terus naik kelas jika dibandingkan edisi sebelum-sebelumnya.
Ini bisa dilihat dari nilai hadiah, jumlah masukan dari sponsor, hingga minat masyarakat menyaksikan Piala Presiden dari share dan rating televisi selalu meningkat.
Misalnya saat pertama kali dijalankan pada tahun 2015, Piala Presiden hanya diikuti oleh tim-tim Tanah Air. Pada tahun 2026, meski pesertanya tidak banyak, namun diikuti oleh tim luar negeri yaitu Tampines Rovers (Singapura), DPMM (Brunei Darussalam), dan Port FC (Thailand).
Sekadar informasi, Port FC adalah juara bertahan Piala Presiden pada edisi 2015. Saat itu hadir juga Oxford United dari Inggris.
"Jadi kalau saya lihat ada enam faktor. Pertama adalah pada edisi 2026 ini pemilihan klub terbesar Tanah Air. kedua pertandingan menariknya meski hanya pramusim," kata Harsiwi Ahmad direktur SCM selaku pemegang Hak Siar Piala Presiden sejak awal saat konferensi pers di Jakarta pada 6 Agustus 2026
Dilihat dari nilai sponsor pada edisi 2026 menjadi yang tertinggi dari sebelum-sebelumnya. Sekitar Rp70 miliar belum termasuk Rp20 miliar yang didapat pihak hak siar mendukung gelaran Piala Presiden.
“Jadi totalnya bisa saya sebut Rp90 miliar mendekati Rp100 miliar karena akan ada yang mau masuk lagi,” ujar Ara.
Piala Presiden Hiburan dan Meningkatkan Perekonomian Masyarakat
Piala Presiden tidak hanya berbicara soal siapa yang menjadi juara dan mengangkat trofi di turnamen akhir. Sejak awal, Maruarar Sirait juga ingin ajang tersebut memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakar.
Saat berlangsungnya sebuah laga Piala Presiden yang menjadi pusat perhatian. Ara mau di sekelilingnya ada aktivitas ekonomi yang ikut bergerak.
Pedagang makanan dan minuman dan penjual merchandise harus kecipratan rezeki.

Delapan kali memimpin Piala Presiden membuat Maruarar tentu memahami bahwa mempertahankan sebuah turnamen bukanlah perkara mudah.
Setiap edisi membawa tantangan yang berbeda, mulai dari mencari peserta, sponsor, hak siar, venue, hingga memastikan masyarakat tetap memiliki alasan untuk datang dan menyaksikan pertandingan.
Hal inilah yang membedakan Piala Presiden dengan turnamen lain di Tanah Air. Ara mau pertandingan sepak bola bukan hanya berbicara di atas lapangan, tetapi memberi dampak positif bagi masyarakat luas.
“Pertemuan antara puluhan ribu penonton dengan UMKM yang berkualitas diharapkan mampu mendorong pelaku usaha naik kelas melalui momentum turnamen ini,” tegas Ara.
Dampak Positif Klub
Bagi klub peserta, Piala Presiden juga memiliki arti yang tidak kalah penting. Statusnya sebagai turnamen pramusim membuat ajang ini menjadi ruang bagi klub untuk mengukur kesiapan sebelum mengikuti kompetisi resmi.
Pelatih mendapatkan kesempatan untuk mencoba komposisi pemain, melihat perkembangan pemain muda, sekaligus menguji pemain baru yang dibawakan pada bursa transfer.
Situasi tersebut membuat Piala Presiden memiliki nilai strategis. Klub tidak datang hanya untuk mengejar trofi, tetapi juga membawa misi pematang waktu sebelum menghadapi musim yang sesungguhnya.
Hal ini menjadi semakin penting karena persiapan klub tidak selalu berjalan ideal. Pergantian pelatih, masuknya pemain baru, perubahan taktik hingga proses membangun kekompakan membutuhkan pertandingan kompetitif agar bisa diuji secara langsung.
Piala Presiden memberikan ruang untuk proses tersebut.
Maruarar pergi, Piala Presiden tetap berjalan
Setelah delapan kali memimpin, Maruarar Sirait akhirnya sampai pada keputusan untuk meletakkan tongkat estafet.
Keputusan tersebut menandai berakhirnya satu babak dalam perjalanan Piala Presiden. Namun pada saat yang sama, keputusan itu juga membuka pertanyaan baru: seperti apa wajah Piala Presiden setelah tidak lagi dipimpin oleh sosok yang selama ini identik dengan penyelenggaraannya?
Jawabannya tidak hanya berada di tangan pengganti Maruarar.
PSSI, klub, sponsor, pemegang hak siar, pelaku UMKM, suporter, hingga masyarakat memiliki kepentingan agar Piala Presiden tetap tumbuh.
Semua pihak tersebut selama ini menjadi bagian dari ekosistem yang membuat turnamen tersebut mampu bertahan dari satu edisi ke edisi berikutnya.
Oleh karena itu, tantangan terbesar setelah Maruarar pergi bukan sekadar mencari ketua baru. Tantangan sebenarnya adalah memastikan sistem yang sudah berjalan dapat dipertahankan dan dikembangkan.
Standar transparansi harus tetap dijaga. Hubungan dengan sponsor harus tetap dibangun. Klub harus tetap mendapatkan manfaat.
UMKM harus tetap mendapatkan kesempatan. Dan yang tidak kalah pentingnya, masyarakat harus tetap memiliki alasan untuk menantikan Piala Presiden.
Gagasan untuk menjadikan Piala Presiden sebagai ajang yang mempertemukan tim nasional pada periode FIFA Matchday menunjukkan bahwa turnamen ini tidak berhenti di satu bentuk.
Jika benar-benar terealisasi, perubahan tersebut akan menjadi babak baru dalam perjalanan Piala Presiden.
Oleh karena itu, Piala Presiden 2026 bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Ini adalah tentang sebuah pergantian generasi.
Maruarar Sirait mungkin tidak lagi memimpin Piala Presiden pada edisi berikutnya. Tetapi delapan tahun kepemimpinannya telah menempatkan Piala Presiden pada titik yang berbeda dibandingkan ketika turnamen ini pertama kali digelar pada tahun 2015.
Kini tugas berikutnya berada di tangan mereka yang melanjutkan.
Sang maestro telah meletakkan tongkat estafet.
Dan Piala Presiden harus terus berlari.