- Mantan bek Tottenham asal Swiss, Ramon Vega, resmi mendeklarasikan diri sebagai penantang Gianni Infantino dalam pemilihan Presiden FIFA 2027 pada 7 Oktober 2026.
- Vega membawa agenda utama reformasi tata kelola, modernisasi organisasi, pemulihan stabilitas, serta pengembalian kredibilitas dan kepercayaan terhadap federasi sepak bola dunia tersebut.
- Kandidat tersebut mengklaim telah mengantongi lima dukungan federasi anggota, setelah pada pencalonan tahun 2019 langkahnya sempat terhenti akibat kekurangan syarat dukungan resmi.
Suara.com - Nama Ramon Vega kembali muncul di panggung sepak bola dunia.
Mantan bek Tottenham Hotspur dan Timnas Swiss itu menyatakan niatnya untuk maju dalam pemilihan Presiden FIFA 2027 dan menjadi sosok pertama yang secara terbuka mengumumkan diri sebagai penantang Gianni Infantino.
Vega mengumumkan rencana tersebut pada 7 Oktober 2026.
Vega membawa agenda reformasi tata kelola FIFA, modernisasi organisasi, serta upaya mengembalikan kepercayaan terhadap badan sepak bola dunia tersebut.
"Saya mencalonkan diri untuk menyatukan keluarga sepak bola dunia, melakukan reformasi yang nyata dan berkelanjutan, memodernisasi FIFA untuk abad ke-21, memulihkan stabilitas dan kredibilitas, serta membangun kembali kepercayaan yang sangat dibutuhkan sepak bola," kata Vega seperti dinukil dari El Pais.
Pernah Menjadi Bagian dari Generasi Swiss
Ramon Vega lahir di Olten, Swiss, pada 14 Juni 1971. Ia tumbuh sebagai pemain di Grasshopper Zürich dan kemudian menjalani karier profesional di sejumlah klub Eropa.
Grasshopper menjadi tempat penting dalam perjalanan kariernya.
Bersama klub Swiss tersebut, Vega meraih tiga gelar domestik sebelum mencoba peruntungan di Italia bersama Cagliari.
Dari Cagliari, perjalanan Vega berlanjut ke Inggris. Tottenham Hotspur merekrutnya pada Januari 1997.
Vega menghabiskan sekitar empat tahun bersama Spurs. Situs resmi Tottenham mencatat sang bek membuat 84 penampilan untuk klub London Utara tersebut pada periode 1997 hingga 2001.
Momen terbesar Vega bersama Tottenham datang pada 1999. Ia menjadi bagian dari tim yang memenangkan League Cup setelah mengalahkan Leicester City di final.
Dari Lapangan Hijau ke Dunia Finansial
Vega mengakhiri karier sepak bolanya pada awal dekade 2000-an.
Setelah pensiun pada 2004, ia memilih jalur yang berbeda dari banyak mantan pemain.
Vega masuk ke dunia finansial.
Situs resmi Tottenham menyebut Vega kemudian beralih ke sektor keuangan setelah pensiun.
Ia juga dikenal sebagai sosok yang aktif menghubungkan pengalaman sepak bola profesional dengan dunia bisnis dan investasi.
Bidik Kursi Presiden FIFA Sejak Era Blatter
Ketertarikan Vega terhadap jabatan Presiden FIFA sebenarnya telah muncul lebih dari satu dekade lalu.
Pada 2015, ketika sepak bola dunia diguncang skandal yang melibatkan kepemimpinan Sepp Blatter, Vega sudah mempertimbangkan untuk mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA.
Empat tahun kemudian, Vega kembali mencoba menantang kepemimpinan FIFA. Kali ini sasarannya adalah Gianni Infantino yang telah menggantikan Blatter.
Namun, langkah tersebut terhenti karena Vega tidak berhasil memperoleh dukungan dari minimal lima asosiasi anggota FIFA yang diperlukan agar dapat masuk ke dalam daftar kandidat resmi.
Tahun ini, Vega kembali mengumumkan maju sebagai kandidat Presiden FIFA. Ia mengklaim sudah mengantongi 5 dukungan federasi, salah satunya dari Asia.
Namun Vega memilih tidak mengungkap identitas federasi yang mendukungnya.
"Ya, saya sudah mendapatkannya. Setelah kami resmi masuk, baru bisa dibicarakan siapa saja mereka," kata Vega kepada El País.