Oleh : Ace Somantri
SuaraCianjur.id- Sepak bola olahraga paling populer dan merakyat, siapapun berpeluang menjadi pemain andalan di berbagai club sepak bola. Baik tingkat lokal, regional, nasional hingga tidak menutup kemungkinan tingkat Internasional. Si bundar menjadi indah di atas rumput hijau, di giring dan di perebutkan oleh dua club yang berhadapan. Pekik terikan suporter memberi semangat para jagoanya yang berlaga di atas lapang sepak bola, tendanga dan sundulan dengan variasi gaya para pemain dengan skill yang menarik dan menggoda para suporter.
Memang jikalau di lihat kasat visual mata, kenapa mesti berebut satu bola? beri saja masing-masing satu bola setiap satu orang pemain, begitu kata seseorang yang iseng sambil berkelakar tertawa.
Gemuruh suara suporter dalam stadion menggema, alunan suara bersahutan dinyanyikan masing-masing kelompok suporter untuk menyemangati clubnya. Berbagai atribut club di pakai, baik itu tshirt, topi, syal, dan akseoris lainnya sebagai penghias. Bahkan, club-club sepak bola nasional memiliki suporter militan yang melekat dalam komunitasnya.
Di Bandung terkenal dengan bobotoh Persib dan Viking Persib, di Jakarta terkenal dengan Jakmania, di Surabaya pun terkenal dengan suporter Bonek dan Arek-arek Suroboyo, tidak ketinggalan di Kota Malang dengan suporter Aremania. Dan banyak suporter lainnya yang mewakili club kesayangan masing-masing daerah, namun yang lain tidak seheroik club-club yang memiliki suporter militan dan fanatik seperti yang di sebutkan di atas.
Dunia sepak bola nasional berduka, di Stadion Kanjuruhan menjadi saksi keberutalan pihak-pihak yang terlibat, moment tersebut harus mendidik suporter lebih humanis, hindari kekerasan yang mematikan.
Nyawa melayang sia-sia bergelatakan bak hewan yang keracunan, berbagai media meliput kejadian tersebut di awali dengan keributan antara aparat kepolisian dengan pihak suporter dan pemain sepak bola, dan akhirnya meluas hingga keos tak terhindarkan.
Gas air mata dikeluarkan dengan harapan suporter bubar dan menjauhi area keributan, namun naas sekali justru menimbulkan banyak jiwa melayang baik dari pihak kepolisian maupun suporter sepak bola. Ini tragedi pemecah record selama sejak awal kompetisi sepak bola di Indonesia, menelan korban jiwa hingga tewas berjumlah ratusan orang. Artinya ada hal yang salah dalam setting keamanan kompetisi tersebut, sudah pasti di awali oleh sikap para pihak yang tidak dewasa, tidak jujur dan tidak adil.
![Sebuah mobil Polisi rusak di lapangan Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022) malam, akibat kericuhan yang terjadi usai pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya. [Foto Istimewa / Suara.com / ANTARA/Vicki Febrianto]](https://media.suara.com/suara-partners/cianjur/thumbs/1200x675/2022/10/02/1-sebuah-mobil-polisi-rusak-di-lapangan-stadion-kanjuruhan-kabupaten-malang-jawa-timur-sabtu-1102022-malam-akibat-kericuhan-yang-terjadi-usai-pertandingan-antara-arema-fc-melawan-persebaya-surabaya-antaravicki-febrianto.jpg)
Catatan bagi kita, bahwa mereka manusia bukan hewan. Karakter para suporter dan pemain harus diajarkan dan di didik akan sebuah kejujuran dan seportifitas dalam bermain olahraga. Jangan dijadikan kepentingan pragmatis sesaat, eksploitasi pada permainan sepak bola memang tidak bisa di hindarkan.
Baca Juga: Buntut Tragedi di Stadion Kanjuruhan Laga Persib vs Persija Ditunda, Polda Jabar Bilang Begini
Kita bisa melihat dengan kasat mata, para suporter sepak bola lebih banyak di dominasi generasi milenial yang notabene generasi masa depan bangsa.
Tidak dipungkiri hampir setiap laga para club sepak bola kebanggaanya bertanding, para suporter rela merogok saku dalam-dalam untuk membeli tiket berharap bisa nonton langsung di stadion. Pekik suara keras dan lontaran kata-kata tidak baik pun terdengar sudah lumrah, bahkan caci maki pada pemain dilapangan sering terjadi, termasuk antar suporter tidak bisa di hindari hingga keributaan dan kerusuhan tidak bisa di hindari.
127 orang lebih menjadi korban kerusuhan yang di pantik oleh sikap tidak dewasa dan adil para pihak. Seharusnya momentum kompetisi sepak bola menjadi ajang menguji diri dari nafsu amarah, yang menanamkan sikap jujur dan adil. Suporter sebagian besar generasi pembelajar, penting bagi para orang tua, guru, dosen, tutor dan ustadz yang banyak bersentuhan dengan mereka kiranya memberikan pemahaman yang komprehensif tetang pentingnya menjaga sikap suporter yang santun dan beradab.
Bagi para bandar dan manajer club sepak bola untuk tidak bosen mengingatkan para pihak terlibat dunia sepak bola untuk mengedepankan keadilan, kejujuran dan sportifitas bertanding. Sanksi dan reward pun harus dikeluarkan kepada club dan suporter terburuk dan suporter terbaik memberi spirit dan motivasi. Justru saat ini yang ada eksploitasi dan di politisasi untuk kepentingan politik dan bisnis semata, boleh dikatakan menggiurkan bagi para pihak tertentu.
Pray for Stadion Kanjuruhan semoga para korban jiwa diberikan ketabahan dan kesabaran bagi keluarga, peristiwa ini menjadi hikmah bagi negara dan pengelola sepak bola untuk mengedepankan integritas moral.
Berharap siapapun yang bertanggungjawab dalam laga tersebut harus berani lantang bicara untuk mengatakan bertanggunjawab, seluruh korban jiwa benar-benar di santuni dengan layak dan beradab. Negara segera hadir memberi motivasi dan solusi lebih bermartabat dan terhormat, ini merupakan simbol dan pertanda buruk terhadap sepak bola nasional.
Ace Somantri adalah seorang akademisi yang saat ini menjadi Kepala Lembaga Pengkajian, Pengembangan Pendidikan & Kewirauahaan di Universitas Muhammadiyah Bandung. Ia juga menjabat sebagai Wakil Ketua PD Muhammadiyah di Kabupaten Bandung.