SUARA CIANJUR - Ketika kita bermimpi atau menetapkan tujuan, seringkali kita membayangkan perasaan bahagia dan puas ketik kita akhirnya mencapai tujuan tersebut.
Namun, dalam realitasnya, setelah mencapai tujuan tersebut, kita mungkin merasa kosong dan kehilangan arah hidup.
Fenomena ini disebut arrival fallacy, yaitu kecenderungan untuk mengira bahwa mencapai tujuan tertentu akan membawa kebahagiaan dan kepuasan yang abadi.
Menurut psikolog Dan Gilbert, dalam presentasinya di TED Talk, "The Surprising Science of Happiness", fenomena arrival fallacy disebabkan oleh dua faktor utama.
Pertama, kita cenderung mengabaikan perubahan yang terjadi di dalam diri kita sendiri dan kedua, kita cenderung meremehkan kemampuan kita untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan tersebut.
"Kita cenderung mengira bahwa setelah mencapai tujuan tertentu, kita akan merasa bahagia dan puas selamanya. Namun, dalam kenyataannya, kita seringkali menyesali atau merasa kosong setelah mencapai tujuan tersebut," ujar Gilbert.
Fenomena arrival fallacy juga banyak ditemukan di media sosial, seperti YouTube dan TikTok. Banyak konten kreator yang menampilkan hidup glamor dan kesuksesan yang mereka capai.
Namun, banyak pengguna media sosial yang tidak menyadari bahwa mereka hanya melihat sisi glamor dan tidak melihat bagaimana proses menuju ke sana.
Banyak pengguna media sosial yang mengira bahwa mencapai kesuksesan yang sama dengan konten kreator akan membuat mereka merasa bahagia dan puas.
Baca Juga: Duh! Sejumlah Wanita di Bekasi Jadi Korban Penggandaan Uang, Kerugian Bisa Capai Ratusan Juta Rupiah
Namun, tanpa mengerti proses dan tantangan yang harus dihadapi untuk mencapai kesuksesan tersebut, mereka mungkin akan kecewa atau merasa kosong setelah mencapai tujuan tersebut.
Oleh karena itu, penting untuk menghargai proses dan perubahan yang terjadi dalam diri kita saat mencapai tujuan. Kita juga perlu belajar untuk menyesuaikan diri dan mengambil hikmah dari setiap perubahan yang terjadi dalam hidup kita.
Sebagai gantinya, kita harus menikmati proses dan menemukan kebahagiaan dalam perjalanan menuju tujuan kita. Dalam sebuah meme yang beredar di media sosial, terdapat kutipan yang menggambarkan fenomena arrival fallacy, "Kita seringkali mengira bahwa rumput di tetangga selalu lebih hijau. Padahal, mungkin rumput kita sendiri hanya perlu disiram dan dirawat dengan baik."
Dengan memahami fenomena arrival fallacy, kita bisa belajar untuk tidak terjebak dalam pikiran bahwa pencapaian tujuan adalah segalanya.
Sebaliknya, kita harus memahami bahwa perubahan dan proses adalah bagian dari hidup yang harus dihargai dan dinikmati. (*)
Sumber: Tiktok, Instagram, dan Youtube
(*/Haekal)