Deli.Suara.com – Pakar hubungan internasional meminta pemerintah Indonesia memperhitungkan risiko diplomatik jika memutuskan membeli minyak murah dari Rusia.
Pasalnya, langkah tersebut berpotensi mencederai reputasi Indonesia di mata negara-negara Barat.
Dosen Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin, Ishaq Rahman mengatakan apabila pemerintah melakukan hal itu, Indonesia dapat dianggap ikut membiayai invasi Rusia di Ukraina.
“Jadi ini memang betul-betul merupakan keputusan yang punya risiko diplomasi dan risiko terhadap reputasi Indonesia yang sangat tinggi,” kata Ishaq.
Presiden Joko Widodo telah mengatakan akan “memantau semua opsi” untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat, di tengah tekanan dari dalam negeri untuk menurunkan harga BBM.
Namun, menurut pengamat energi, membeli minyak murah dari Rusia belum tentu akan menurunkan harga BBM secara signifikan.
Sebelumnya, dalam wawancara dengan Financial Times pada Senin (12/9/2022), Presiden Jokowi ditanya apakah Indonesia akan membeli minyak mentah dari Rusia.
“Kami selalu memantai semua opsi. Jika ada negara (dan) mereka memberikan harga yang lebih baik, tentu saja,” jawab Jokowi.
Presiden menambahkan bahwa adalah kewajiban pemerintah untuk menemukan berbagai sumber demi memenuhi kebutuhan energi rakyatnya.
Hal itu ia katakan saat negara-negara Barat sedang berusaha mengurangi ketergantungan energi pada Rusia sebagai respons atas invasi ke Ukraina.
Sikap Presiden mendapat dukungan dari anggota Komisi VII DPR RI dari PDIP, Adian Napitupulu. Ia mengatakan, tanggung jawab utama pemerintah Indonesia adalah kepada rakyatnya sendiri.
“Satu sisi kita memang bagian dari dunia internasional, tetapi kita lebih bertanggungjawab pada keselamatan rakyat kita sendiri. Sehingga walaupun kita juga perlu memperhatikan kepentingan internasional, tapi yang terutama adalah mempertimbangkan kepentingan rakyat kita,” ucap Adian Napitupulu kepada BBC News Indonesia.
Wacana untuk membeli minyak murah dari Rusia bergulir setelah negara itu menginvasi Ukraina, Februari lalu.
Pada bulan Maret, Dirut Pertamina Nicke Widyawati mengatakan perusahaan plat merah itu mempertimbangkan untuk membeli minyak mentah dari Rusia untuk diolah di Kilang Balongan.
“Kami melihat ada peluang untuk membeli dari Rusia dengan harga yang lebih baik,” ucap Nicke dikutip dari Reuters.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno baru-baru ini mengatakan Rusia menawarkan minyaknya dengan diskon 30% dari tarif internasional.
Jika pemerintah menerima tawaran tersebut, Indonesia akan mengikuti langkah sejumlah negara Asia termasuk India dan China yang sudah lebih dahulu membeli minyak mentah dari Rusia.
Langkah itu membantu Moskow menghindari sanksi ekonomi berat yang dijatuhkan oleh Barat.
Ishaq Rahman meminta pemerintah Indonesia mempertimbangkan dampak terhadap reputasi internasional dan hal yang ia sebut biaya diplomasi seandainya jadi membeli minyak mentah dari Rusia.
Menurutnya, salah satu yang perlu diantisipasi adalah respons Amerika Serikat.
“Kita ketahui bahwa Amerika bisa saja mengambil langkah-langkah yang tegas itu, bahkan mungkin langkah yang ekstrem seperti melakukan embargo atau melakukan peninjauan terhadap berbagai mcam komitmen dalam kerjasamanya dengan Indonesia yang sudah dibangun selama ini,” papar Ishaq.
Ishaq memaparkan, saat ini dunia internasional baik pemerintah, organisasi internasional maupun organisasi masyarakat sipil memberikan atensi yang tinggi dan concern yang serius terhadap perilaku atau tindakan Rusia di Ukraina.
Negara-negara G7 sedang merumuskan batasan harga untuk minyak Rusia dengan maksud membatasi kemampuan Moskow membiayai perangnya di Ukraina tanpa mengurangi ekspor minyaknya ke konsumen di seluruh dunia.
Batasan harga itu diperkirakan sebesar US$40 sampai US$60 per barel. AS telah mengancam akan memberikan sanksi kepada pihak yang membeli minyak Rusia di atas batasan tersebut.
Sedangkan, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan akan menahan ekspor ke negara yang menerapkan batasan tersebut, yang dapat memberikan tekanan pada pasar.
Ishaq menyarankan pemerintah mematuhi batasan harga yang ditetapkan G7, bila jadi membeli minyak dari Rusia. Langkah lain yang bisa diambil adalah membeli dari pihak ketiga misalnya China dan India.
“Ini salah satu strategi yang bisa dilakukan karena kalau misalnya pembelian secara langsung dan kemudian sampai terjadi embargo, saya kira secara nyata bisa berdampak terhadap perdagangan internasional kita,” urainya.
Sebelumnya, pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM pada akhir Agustus lalu demi mengurangi beban subsidi pada keuangan negara. Presiden Jokowi mengatakan anggaran subsidi dan kompensasi BBM tahun ini telah meningkat tiga kali lipat dari Rp152,5 triliun menjadi Rp502,4 triliun.
Subsidi membengkak karena rata-rata harga minyak dunia selama sembilan bulan terakhir berkisar 90 hingga 100 dolar AS per barel, jauh di atas Indonesia Crude Price atau ICP yang ditetapkan di APBN 2022 yaitu 63 dolar AS per barel.
Menurut lembaga pemantau pasar Statista, harga rata-rata minyak mentah Ural, merk minyak terbesar Rusia mencapai US$74,7 per barel pada Agustus 2022, turun dari bulan sebelumnya.
Indonesia harus mengimpor hingga 500 ribu barel minyak mentah per hari, menurut data SKK Migas. Hal itu dikarenakan produksi dalam negeri hanya mencapai 700 ribu barel per hari (bph) sementara konsumsinya mencapai hingga 1,5 juta barel per hari.
Sementara itu, Mamit Setiawan dari Energy Watch mengatakan membeli minyak mentah dari Rusia yang harganya lebih murah belum tentu dapat menurunkan harga BBM di dalam negeri, tergantung berapa banyak minyak yang dibeli.
“Kalau jumlahnya sedikit, saya kira nggak akan terlalu berpengaruh signifikan ya misalnya dari 800 ribu bph, kita beli dari Rusia 300 ribu bph, 500 ribu lagi kita impor dari apa dari Arab Saudi, dari Afrika dengan harga yang sama (tarif internasional) ketika di-blend kan memang ada penurunan tetapi tidak signifikan,” jelasnya.
Pendapat yang sama disampaikan oleh pengamat energi dari Institue for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa. Menurutnya, harga BBM kemungkinan tidak akan turun signifikan meskipun Indonesia membeli minyak dengan harga diskon dari Rusia, kecuali pemerintah bisa membeli dengan volume yang cukup besar untuk membuat harga rata-rata turun mendekati US$63 per barel yang ditetapkan di APBN.
“Itu kita harus beli ke depannya, kalau mau menurunkan harga, separuh dari volume minyak kita dari yang kita beli sekarang sampai bulan September itu harus dibeli dalam tiga bulan ke depan. Jadi dari sisi itu agak sulit ya menurut saya,” ucap Fabby.
Hingga saat ini diketahui pemerintah belum memastikan apakah akan membeli minyak dari Rusia atau tidak.
Pejabat Kementerian ESDM, Pertamina, maupun juru bicara Kedutaan Besar Rusia tidak menjawab permintaan wawancara dari BBC News Indonesia.
Sumber: Suara.com