“Ini diambil langkah dengan maksud dugaan-dugaan ini sedang kita teliti. Untuk menyelamatkan anak-anak kita maka diambil kebijakan untuk melakukan pembatasan ini,” jelasnya dalam konferensi pers yang digelar, Rabu (19/10/2022).
Pembatasan ini tak hanya berlaku bagi obat cair atau sirup untuk anak saja, namun juga bagi dewasa.
Syahril menambahkan, Kementerian Kesehatan telah meminta apotek untuk sementara tidak menjual obat bebas dalam bentuk cair atau sirup pada masyarakat.
“Sampai hasil penelusuran dan penelitian yang dilakukan Kementerian Kesehatan dan BPOM tuntas,” tuturnya.
Tetapi, kebijakan penyetopan sementara obat cair atau sirup ini memicu kekhawatiran orang tua yang telah memberikan obat jenis itu kepada anak-anak mereka, seperti yang dialami ibu muda di Yogyakarta yang baru saja memberikan obat sirup Paracetamol kepada anak balitanya yang berusia empat tahun.
“Saya pribadi baru saja memberikan Paracetamol ke anak saya beberapa hari yang lalu dan sudah terlanjur ngasihnya, kenapa baru sekarang? Padahal kasusnya kan sudah lama ya, sejak Juli sudah ada. Jadi ya khawatir sih akhirnya ke anak saya,” ucapnya.
Di Yogyakarta, tercatat ada 13 anak dengan gangguan ginjal akut, enam di antaranya meninggal dunia.
Kepala Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta, Pembajun Setyaningastutie menjelaskan gejala umum yang dialami anak-anak tersebut.
“Kalau dilihat rentang tiga sampai lima hari itu salah satu tanda yang krusial urinenya tidak keluar seperti biasa atau tidak keluar urinenya,” jelas Pembajun.
- Rumah Dinas Wali Kota Banjar Kebakaran
Baca Juga
Berbeda dengan gangguan ginjal pada orang dewasa yang disebabkan karena hipertensi dan diabetes melitus, hingga kini memang belum diketahui dengan pasti penyebab gangguan ginjal pada anak.
“Kita tidak bisa mengatakan bahwa ini karena penyebabnya ABC, ini perlu kehati-hatian. Jadi masih kita sebut unknown etiology, jadi memang tidak diketahui penyebabnya sampai nanti dari Kementerian Kesehatan akan memberikan informasi,” terangnya.
Langkah pembatasan obat cair atau sirup yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia, disambut positif oleh pakar epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman.
Namun, Dicky menegaskan, perlunya mitigasi risiko agar masyarakat tidak khawatir dan bertanya-tanya tentang keamanan obat yang dikonsumsi anak mereka.
“Ini tentu harus ada opsi solusinya,” katanya.
Dalam surat edaran yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, disebut bahwa obat-obatan selain sirup dapat digunakan, sebab komponen untuk membuat obat sirup lah yang diduga menjadi penyebab gangguan ginjal akut, seperti halnya yang terjadi di Gambia.
Dokter bisa menggunakan obat penurun panas yang berbentuk tablet atau yang bisa dimasukkan secara anal atau suppositoria, dan melalui injeksi.
KLB gagal ginjal akut
Dicky Budiman menyoroti lemahnya kemampuan pendeteksian di Indonesia, yang dia anggap berkontribusi pada tingginya angka kematian akibat gangguan ginjal akut.
Dia pun menegaskan sudah semestinya pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
“Ini sudah KLB atau Kejadian Luar Biasa gagal ginjal akut yang terjadi di beberapa kota di Indonesia dengan case fatality rate yang tinggi dan ini tentu sangat logis dalam konteks Indonesia, karena di tengah lemahnya deteksi dini,” tambah Dicky.
Situasi yang terjadi saat ini di Indonesia, bagi Dicky, sudah memenuhi kriteria KLB yang nantinya akan berdampak pada langkah-langkah yang dilakukan untuk mengatasi gangguan ginjal akut di Indonesia.
:Jadi aspek dukungan pembiayaan, dan juga kemudahan lainnya karena statusnya yang KLB itu. Selain tentu awareness dari setiap sektor akan semakin lebih meningkat,” tuturnya.
Saat ini, kesadaran masyarakat yang masih rendah juga berkontribusi pada tingginya jumlah kasus dan angka kematian.
Dicky menuturkan, health seeking behaviour atau perilaku yang dilakukan untuk memperoleh kesembuhan masyarakat Indonesia termasuk lemah di antara negara-negara di ASEAN. Sekitar 70 persen penduduk Indonesia, lebih memilih untuk mengobati sendiri jika sakit.
“Ini juga berperan. Jadi dari sisi layanan kesehatan yang memang masih minim dan terbatas, kemudian dari sisi masyarakat,” ucapnya.
“Dua ini yang saling berkontribusi kalau ada kasus seperti ini akhirnya banyak keterlambatan, terlambat terdeteksi, terlambat terdiagnosa, terlambat dirujuk dan terlambat ditangani,” imbuhnya.
Apalagi, ganguan ginjal akut ini juga menimpa daerah-daerah yang terbatas layanan kesehatannya.
Kasus gangguan gagal ginjal akut tinggi di daerah sebab layanan cuci darah untuk anak atau hemodialisa yang terbatas di layanan kesehatan.
“Hemodialisa anak itu jangankan tingkat kabupaten, tingkat provinsi aja belum tentu semua punya,” tegas Dicky.
“Ini sekali lagi membuka borok atau membuka kelemahan layanan sistem kesehatan kita yang masih sangat terbatas ini,” tambahnya.
Menjawab hal ini, Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Mohammad Syahril mengungkapkan, sebagai langkah awal menurunkan fatalitas gangguan ginjal akut, Kemenkes melalui RSCM telah memberi antidotum, atau penawar yang didatangkan langsung dari luar negeri, kepada pasien yang dirawat.
“Bukan hanya di RSCM, tapi juga yang dirawat di seluruh rumah sakit di Indonesia,” katanya.
Syahril menjelaskan, tingkat kematian akibat gagal ginja tinggi karena banyak anak-anak yang mengalami gagal ginjal.
Syahril mengungkapkan, ginjal adalah organ yang sangat penting dalam metabolisme. Jika terjadi gangguan pada ginjal, maka itu akan mengganggu metabolisme yang pada nantinya akan menyebabkan organ lain ikut terganggu.
Gagal ginjal adalah ketika ginjal tidak lagi bisa melakukan aktivitasnya sebagai alat metabolisme tubuh yang ditandai dengan preferensi kencing, jumlah urine juga sangat sedikit.
Bahkan, kalau betul-betul terjadi kerusakan ginjal yang lebih berat, maka tidak terjadi produksi air kencing atau urine.
“Kenapa tingkat kematiannya tinggi? Itu dikarenakan dia sudah masuk ke fase itu. Makanya pada saat ini kita sampaikan kepada masyarakat, kepada tenaga kesehatan, untuk lebih waspada dan lebih cepat untuk melakukan tindakan,” ujar Syahril.
Syahril menerangkan, jika orang tua mendapati anaknya memiliki gejala seperti frekuensi dan jumlah kencing yang menurun, dan disertai dengan demam, diare, mual, batuk, maupun pilek, untuk segera memeriksakannya ke dokter.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama mengatakan kasus gangguan ginjal akut yang masih misterius “harus segera ditangani.”
“Penghentian obat sirup boleh-boleh saja tapi yang paling penting adalah penyebabnya apa. Apalagi, kasus gangguan ginjal akut pada anak ini telah terjadi selama beberapa pekan terakhir,” ucap Tjandra.
“Menurut saya harus jelas penyebabnya apa. Kalau penyebabnya sudah jelas, maka upaya jadi jelas,” ujarnya.
Kalau memang diperlukan, maka keadaan ini dapat saja dipertimbangkan masuk dalam DONs (Disease Outbreak News) WHO untuk kewaspadaan negara-negara lain di dunia.
Sumber: Suara.com