Pegiat media sosial Jhon Sitorus menyoroti aksi Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto yang blusukan bersama Presiden Joko Widodo. Ia menyarankan agar Presiden Jokowi tidak mengajak Prabowo blusukan lagi.
Melalui akun Twitternya, @Miduk17, Jhon Sitorus membagikan foto saat Jokowi dan Prabowo bluskan bersama. Dalam foto itu, raut wajah Prabowo tampak kelelahan dan penuh keringat.
Jhon Sitorus lantas meminta Presiden Jokowi untuk tidak lagi mengajak bakal capres dari Koalisi Indonesia Maju itu untuk blusukan. Pasalnya, Prabowo dinilai sudah ngos-ngosan.
"Saran saya ke pak Jokowi, tolong jangan ajak pak Prabowo blusukan lagi. Bukan apa-apa, beliau sudah ngos-ngosan dan keringat bercucuran," saran Jhon Sitorus dalam cuitannya seperti dikutip Deli, Rabu (30/8/2023).
Tak sampai di situ, Jhon Sitorus juga memperingatkan Prabowo berpotensi terkena serangan jantung jika terus diajak blusukan hingga ngos-ngosan.
"Ini pertimbangan serius (buat tak mengajak Prabowo) apalagi jika kolestrolnya tinggi bisa menimbulkan serangan jantung mendadak saat kecapean," tambahnya.
Meski demikian, Jhon Sitorus malah mendukung jika Jokowi mengajak blusukan bakal capres dari PDIP, Ganjar Pranowo.
"Kalau ajak Pak Ganjar (blusukan) sih oke," tandasnya dengan emoji tersenyum.
Sontak, cuitan Jhon Sitorus yang mengomentari kesehatan Prabowo langsung ramai menuai atensi warganet. Hingga berita ini dipublikasikan, cuitannya sudah disaksikan ribuan kali dan mendapatkan beragam pendapat.
Baca Juga: Tak Cemas Ditinggalkan Cak Imin, Gerindra: Kami Paling Sayang PKB
"Kalau pak Ganjar udah terbiasa pola hidup sehat, makanya sehat bugar terus bang badannya," puji warganet.
"Harus didampingi dokter dan siap infusan plus tabung oksigen," tambah yang lain.
"Usia tidak akan pernah bohong bro. Gimana mau gerak cepat, kalau usia dah lanjut. Kasihan pak Prabowo. Nafsu masih mengebu-gebu," tulis warganet.
"Yang dibahas kok masalah simelekete gini sih. Coba kaji dulu substansi hadirnya pak Jokowi bersama pak Prabowo dan pak Ganjar. Apa pesan tersirat dan tersurat di situ. Yang mutu geh buat status," tegur warganet.
"Tampak sekali dua kandidat ini masih butuh digendong oleh Istana. Dua calon ini belum mampu tegak dan berdiri sendiri. Di atas intagritasnya sebagai anak bangsa, bukan ide dan gagasan yang dikedepankan, tapi mengekor yang diutamakan," timpal lainnya.
"Kan suka di duduk di bangku dan meja beruangan AC dingin. Sesekali muncul ke publik ya itungan jari mah ada, tapi kalau muncul pas Pemilu baru deh pura-pura ke publik seolah-olah merakyat," sindir warganet.