Suara Denpasar – Tragedi Kanjuruhan atau kericuhan pascapertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya di Malang Sabtu malam (1/10/2022) yang menewaskan ratusan orang memantik reaksi banyak pihak. Banyak yang menyalahkan polisi lantaran menggunakan gas air mata untuk membubarkan supporter. Namun, artis Nikita Mirzani minta jangan menyalahkan polisi.
“Kalian jangan nyalahin aparatur negara (polisi). Gue nggak belain aparatur negara ini. Aparatur negara itu yang ngejagain stadion bola di Malang itu tidak sebanyak supporter yang datang untuk ngesuport klub masing-masing,” kata Nikita Mirzani dalam sebuah video yang diunggah Youtube Mommi Cantik, Senin (3/10/2022).
Dia mengatakan, jumlah jumlah polisi yang menjaga tidak sebanding dengan jumlah supporternya yang mencapai 45 ribu lebih, plus anak-anak kecil.
“Nah gue bingungnya, lu mau nonton bola kenapa lu bawa anak kecil. Kenapa, kenapa, ih gue sedih banget gue kalau lihat anak kecil meninggal begitu, gue sedih banget,” kata Nikita Mirzani.
Kalau sampai polisi ngelemparin gas air mata, papar Nikita, karena awal mulanya dari supporter yang loncat ke lapangan.
“Coba kalian gak loncat ke lapangan, dari satu yang loncat dari 1 jadi 2, dari 2 yang loncat jadi 100, dari 100 yang loncat jadi seribu, ingat ya, itu stadionnya ada 45 ribu penonton yang kapastitasnya udah keterlaluan harusnya gak boleh segitu,” kata Nikita.
Nikita mempertanyakan kepada penyelenggara pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya mengapa menjual over tiket. “Kenapa? gue tanya, cari duit jangan gitu deh, sampai ngilangin banyak nyawa. Jangan, jangan, bener, deh,” ucap Nikita.
Nyai Nikita melanjutkan, kericuhan itu terjadi karena ada yang loncat duluan ke lapangan. Bukan polisi yang duluan melakukan penembakan gas air mata.
“Kalian bisa lihat dari mata kepala kalian sendiri, itu terjadi karena ada yang loncat duluan ke lapangan, bukan yang polisi yang lakukan duluan, jadi jangan salah-salahin deh,” lanjutnya.
Dia pun meminta jangan mencari salah-benar. Nikmir justru mempertanyakan, jika polisi tidak menembakkan gas air mata, apakah para supporter itu akan mendengarkan dan mundur.
“Sekarang lagi misalnya kalau polisi gak nyemprot gas air mata apakah kalian diem, apakah kalian akan dengerin apa kata polisi, ‘jangan, jangan pada ke sini, pada mundur, mundur’, apa kalian dengerin, kan enggak. Daripada polisinya pada mati konyol,” paparnya.
Sebagaimana diketahui, pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya berakhir dengan skor 2-3. Tuan rumah Arema FC kalah dari tamunya. Pascapertandingan pun berujung ricuh meski dalam laga ini tidak ada suporter dari Persebaya.
Kericuhan ini membuat polisi menembakkan gas air mata ke arah tribun. akibatnya, banyak suporter yang sesak napas dan terinjak-injak akibat tembakan gas air mata itu hingga meninggal dunia. Sampai kemarin jumlah yang meningga dunia sebanyak 125 orang, termasuk anak-anak. (*)