Suara Denpasar – Gus Miftah hadir dalam acara ulang tahun ke-51 Kang Dedi Mulyadi di Lembur Pakuan, Subang, Jawa Barat. Dalam kesempatan itu dia memberi ceramah di hadapan warga yang hadir, termasuk adalah tuan rumah Kang Dedi Mulyadi dan Ambu Anne Ratna Mustika. Gus Miftah pun menyinggung tentang apa itu lelaki hebat.
Gus Miftah mengatakan dia datang ke Lembur Pakuan karena cinta. Dia datang setelah dari Jogjakarta. Bila bukan karena cinta, Gus Miftah mengatakan tentu berat sekali untuk datang ke lokasi yang begitu jauh.
“Kalau dulu diundang Kang Dedi berangkat dari Jakarta, hari ini saya harus berangkat dari Jogjakarta,” katanya.
Gus Miftah pun mengatakan, dia baru saja dari Jogjakarta membersamai 1500 sahabat kecil nonton wayangan. Wayangan santri dalam bentuk wayang golek.
“Saya ada kesamaan dengan Kang Dedi, kami sama Kang Dedi pecinta budaya. Buktinya di pintu terlihat lukisan wayang,” jelas dia.
Walau begitu, Gus Miftah mengaku gara-gara wayang dia pernah dibully dua bulan lalu. Bahkan, menjadi trending di Twitter. Dia dihujt lebih dari 27 ribu komentar.
“Sakit hati kah saya? Tidak! Karena komentarnya tidak pernah saya baca,” upcap Gus Miftah disambut tawa ngakak hadirin.
Maka, lanjut Gus Miftah, dia datang ke acara ultah Kang Dedi betul-betul diniatkan karena cinta. Katanya, kalau sudah cinta, subhanallah, yang sore tadi hujan lebat bisa berhenti walau tidak ngundang pawang hujan. Tidak ngundang Rara di Mandalika.
“Karena tentunya ini kekuatan cinta dari kita, disambut cintanya Allah. Maka hujan sederas apa pun berhenti karena kekuatan cinta,” paparnya.
Dengan berkelakar, Gus Miftah mengatakan, bila teman membuatmu terluka, bila pasangan membuatmu kecewa, bila Corona membuatmu menderita, maka yakinlah Gus Miftah hadir dengan membawa cinta.
Selanjutnya Gus Miftah bicara tentang puasa. Dikataka, puasa merupakan satu diksi yang dikenal semua agama. Puasa itu tidak hanya dilaksanakan umat Islam, namun juga umat-umat yang lain.
Katanya, puasa itu berarti imsak. Menahan diri. Gus Miftah pun menanyakan apa nama lain menahan dalam bahasa Sudan. Dikatakan, nama lainnya sama, menahan. Dia pun mengatakan tak bisa Bahasa Sunda.
“Saya bilang sama Kang Dedi gimana kang supaya saya bisa bahasa Sunda. ‘Oh gampang, Gus. Nikahlah dengan orang Sunda’,” terangnya disambut tawa.
Lebih lanjut Gus Miftah mengatakan, untuk dia sebetulnya bukan masalah langka jodoh. Sebaliknya, dia punya prinsip tentang lelaki yang hebat.
“Saya sebetulnya bukan langka jodohnya. Tapi saya punya prinsip, lelaki yang hebat bukan yang mencintai banyak wanita, tetapi mencintaii satu wanita dengan banyak cara,” paparnya kembali disambut ngakak. (*)