Suara Denpasar - Dunia digital telah menginspirasi masyarakat untuk melakukan banyak kreasi.
Dunia tanpa batas yang bisa menjadikan siapa saja untuk menjadi konten kreator, dengan fasilitas yang dimilikinya.
Konten amatir pun bertebaran di kanal berbagi platform media sosial, seperti konten keseharian, masak memasak, konten unik, hingga kehidupan perdesaan.
Hal itu menjadikan kanal menjadi ramai dan variatif, menciptakan lapangan kerja baru di tengah masyarakat.
Salah satu konten kreator amatir yang tengah menjadi sorotan saat ini adalah konten mukbang dari daerah Bogor.
Video kontennya menyebar di media sosial hingga ditayangkan salah satu televisi swasta Trans TV.
Hal itu karena pro kontra yang muncul dari warganet karena creator menjadikan pasangan lanjut usia untuk kontennya.
Pada video itu, sang creator meminta pasangan kakek nenek untuk makan di tengah persawahan, dengan menu Sunda yang mengundang selera.
Tapi tak ayal, upaya konten kreator menjelajah dunia digital itupun menuai pro dan kontra sehingga memaksa Trans TV menghadirkan ahli untuk mengemukakan pendapatnya.
Baca Juga: YG Investasikan Biaya Produksi Terbesar untuk Album Solo Jisoo BLACKPINK
"Konten mukbang kakek dan nenek ini akan tetap menimbulkan potensi reaksi negatif dari netizen," ungkap Tri Wahyudi.
Pengamat media sosial itu mengatakan bahwa reaksi negatif netizen diduga karena mereka merasa kerinduan mereka akan kampung halaman dikapitalisasi.
Kakek nenek warga Bogor itu sendiri mengungkapkan bahwa mereka tidak terlalu terpengaruh dengan opini negatif warganet.
Yang pasti, konten romantis mereka tampak natural, saat menikmati hidangan Sunda di tengah persawahan daerah Bogor.
"Ada yang seneng, ada yang enggak," ungkap pasangan yang dipanggil abah umi itu saat diwawancarai Trans TV. (*/Dinda)