Suara Denpasar - Seorang warga negara Rusia di Bali bernama Kotukhov Arthem (L/30) akan memberikan somasi kepada pihak Polda Bali karena namanya dikaitkan dengan ormas (organisasi masyarakat) atau kelompok premanisme di Bali.
Pihak Polda Bali menganggap Kotukhov Arthem membangun organisasi kejahatan (organize crime) untuk tujuan kejahatan atau aksi premanisme di Bali.
Menurut Arthem, jika dia dianggap jahat, mestinya dia dipanggil untuk dilakukan pemeriksaan.
Bukan membuat statement di media yang menyebutkan namanya terlibat dalam ormas kejahatan tanpa dasar.
"Kalau saya jahat atau saya ada kriminal, saya tidak mengerti kenapa polisi tidak panggil saya atau tidak tangkap saya, tidak investigasi, tidak cari bukti, saya benar-benar tidak mengerti kenapa di Indonesia selalu gampang bicara kosong tanpa ada fakta, tanpa ada bukti bisa-bisanya mereka bilang saya jahat, saya punya ormas, ormas apa yang saya punya? Apa nama ormas saya itu," ujar Arthem kepada Suara Denpasar, Minggu (7/5/2023).
Kata Arthem jika memang benar dia punya salah atau punya ormas yang mengganggu ketertiban masyarakat, dia siap untuk dideportasi.
Karena dia merasa tidak membuat kriminal bahkan dia mendapat SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) dari Mebes Polri yang dalam keterangannya tidak pernah membuat kriminal.
"Kalau ada bukti dan saya jahat silahkan deportasi saya, buat sesuai hukum yang ada, saya udah ke Mabes Polri untuk ambil SKCK, di sana tulis saya tidak pernah ada buat kriminal," sambungnya.
Dia sangat bingung kenapa dia dianggap jahat, padahal menurut pengakuannya, selama ini dia banyak membantu Kepolisian dan Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkap peredaran narkoba di Bali. Bahkan sindikat narkoba jaringan Internasional yang dia ungkap beratnya mencapai kilo gram.
Baca Juga: WNA Berulah di Bali, Pidato Megawati Menyentil Sistem yang Buruk?
Dia curiga, karena terlalu banyak mengungkap peredaran narkoba di Bali, sehingga ada oknum yang ingin menjebaknya. Karena kemungkinan para mafia narkoba itu ada yang membekingi.
Dia merasa sangat dirugikan karena namanya difitnah melakukan kejahatan, untuk itu dia menunggu klarifikasi dari pihak Polda Bali. Jika tidak, mungkin saja dia akan melayangkan somasi.
"Ya tentu. Saya kan cuman turis, mereka itu polisi Indonesia kalau saya salah atau kalau saya ada kriminal mereka harusnya panggil atau datang dan tangkap dengan membawa bukti kejahatan yang saya buat.
Kenapa mereka mau fighting sama saya dalam media. Kan mereka kasih berita di media kenapa tidak panggil saya, kan mereka punya SOP dan mereka punya power (kekuatan) untuk tangkap saya, ini situasi benar-benar aneh. Cukup sudah fitnah atau bicara kosong tentang saya," tandasnya. (*/Ana AP)