Wayan Koster Telah Terperangkap Doktrin Kapitalis Karena Ngotot Bangun LNG?

Suara Denpasar

Jum'at, 07 Juli 2023 | 20:15 WIB
Wayan Koster Telah Terperangkap Doktrin Kapitalis Karena Ngotot Bangun LNG?
Para penulis buletin Don't Gas Indonesia saat peluncuran di Kubu Kopi, Denpasar. (Suara Denpasar/ Rovin Bou)

Suara Denpasar - Gubernur Bali Wayan Koster dinilai telah terperangkap doktrin kapitalis asing karena ngotot membangun terminal LNG

Proyek itu awalnya direncanakan dibangun di area Desa Adat Intaran, karena ditolak kemudian berpindah ke kawasanan hutan mangrove Sidakarya. Rencana itu pun tersandung batu dan batal.  

Tak pelak, banyak inisiatif muncul untuk mencari alternatif agar terminal LNG tetap dibangun. Akhirnya pada bulan April 2023 lalu, turun sabda dari Menko Marinves Luhut Binsar Panjaitan (LBP) bahwa lokasi terminal LNG akan dibangun di laut di sekitar peraiiran Sidakarya, dengan jarak 4 KM dari bibir pantai Sanur.

Anggapan bahwa Gubernur Bali, Wayan Koster yang juga kader PDI Perjuangan itu telah terperangkap dalam doktrin kapitalis tersebut disampaikan oleh aktivis lingkungan Roberto Hutabarat dalam peluncuran buletin dengan judul "Don't Gas Indonesia" di Kubu Kopi, Denpasar Jumat (7/7/2023).

Roberto menjelaskan kehebatan dari kapitalis adalah menciptakan kebutuhan dan keinginan manusia, kapitalis membuat nyaman, membuat mudah. Dan cara itu yang dipakai oleh Gubernur Bali untuk membangun narasi tentang pembangunan LNG.

"Apa yang terjadi kalau di Bali persis metode itu. Kenapa selalu Gubernur Bali bilang untuk LNG di Bali bahwa Bali butuh listrik kira-kita 200 megawatt untuk pariwisata, untuk masa depan Bali karena pariwisata, pembangunan maka kita membutuhkan, tanpa sadar itu Gubernur sudah masuk dia dalam perangkap kapitalisme tadi. Karena ada kebutuhan maka dibutuhkan LNG," terang Roberto. 

Dalam buletin yang ditulis oleh sejumlah aktivis lingkungan itu menyebutkan bahwa LNG sebetulnya adalah energi kotor bukan energi bersih sebagaimana yang dinarasikan selama ini. 

Dituliskan bahwa gas alam (LNG) bahkan memiliki berbagai macam masalah ekologis yang cukup berbahaya dan mengkhawatirkan.

"Gas alam, sama seperti batubara dan minyak bumi, juga merupakan bahan bakar fosil. Ia terbuat dari sisa-sisa tumbuhan dan hewan kecil yang hidup jutaan tahun yang lalu kemudian terkubur di bawah banyak lapisan batu, lumpur, dan pasir. 

baca juga

Tekanan dan panas yang luar biasa, perlahan-lahan selama jutaan tahun mengubahnya menjadi bahan karbon tinggi yang kaya energi dan sekarang digunakan manusia untuk bahan bakar. 

Jumlahnya yang terbatas di perut bumi, dan ketika terus dieksploitasi dan digunakan maka gas alam akan habis serta akan sangat sulit menghasilkannya lagi. Komponen utama gas fosil adalah metana, bahan kimia dengan satu atom karbon dan empat atom hidrogen (CH4) atau juga disebut Hidrokarbon. 

Saat anda membakar metana, ia bergabung dengan oksigen untuk menghasilkan Karbon dioksida (CO2) dan air.

Permasalahan terkait metana menurut UNEP (United Nations Environment Programme), adalah Metana merupakan polutan udara berbahaya dan gas rumah kaca, paparan yang menyebabkan 1 juta kematian dini setiap tahun.

Metana mempunyai kemampuan yang kuat dalam memerangkap panas di atmosfer (greenhouse gas), mencapai 28-34 kali lipat lebih kuat dibanding CO2. Sedangkan jika diukur selama periode 20 tahun, rasio itu tumbuh menjadi 84-86 kali. 

Metana juga telah menyumbang sekitar 30 persen dari pemanasan global sejak masa pra-industri dan berkembang lebih cepat daripada emitor yang lainnya sejak pencatatan dimulai pada 1980-an. Bahkan ketika emisi karbon dioksida melambat selama masa pandemi tahun 2020 yang lalu, metana di atmosfer terus melonjak," begitu yang tertulis dalam buletin itu.

Karena itu Roberto berpesan agar tetap ada masyarakat yang berpikir kritis di tengah narasi-narasi baik tentang LNG.  

"Memamg perlu berpikir kritis, karena sejauh ini belum ada yang mengcounter narasi-narasi yang dibangun tentang LNG," ucapnya. (*/Ana AP)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Ditolak Opa Luhut, Deputi Nekat Lanjutkan Pembahasan Terminal LNG, Usir KEKAL dan WALHI Bali

Ditolak Opa Luhut, Deputi Nekat Lanjutkan Pembahasan Terminal LNG, Usir KEKAL dan WALHI Bali

Denpasar | Jum'at, 28 April 2023 | 09:56 WIB

Terkait Terminal LNG Sidakarya Denpasar, WALHI dan KEKAL Bali Nilai Menko Marves Tidak Konsisten

Terkait Terminal LNG Sidakarya Denpasar, WALHI dan KEKAL Bali Nilai Menko Marves Tidak Konsisten

Denpasar | Kamis, 27 April 2023 | 18:30 WIB

Babak Akhir Sidang Sengketa Informasi Terminal LNG Sidakarya, WALHI Bali: Rakyat Menang

Babak Akhir Sidang Sengketa Informasi Terminal LNG Sidakarya, WALHI Bali: Rakyat Menang

Denpasar | Jum'at, 14 April 2023 | 10:15 WIB

Ditolak Luhut Pandjaitan, Gubernur Bali Klaim Terminal LNG Tidak Ada Masalah Lingkungan

Ditolak Luhut Pandjaitan, Gubernur Bali Klaim Terminal LNG Tidak Ada Masalah Lingkungan

Denpasar | Selasa, 11 April 2023 | 18:00 WIB

Terkini

Bea Cukai Sita Ribuan Bal Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp53 Miliar

Bea Cukai Sita Ribuan Bal Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp53 Miliar

Foto | Selasa, 23 Juni 2026 | 15:07 WIB

Pengakuan Mengejutkan Mantan Inspektur: Basri Kajang Sebut Dirinya Kekasih Bupati Gowa

Pengakuan Mengejutkan Mantan Inspektur: Basri Kajang Sebut Dirinya Kekasih Bupati Gowa

Sulsel | Selasa, 23 Juni 2026 | 15:07 WIB

Pemerintah Usulkan RUU Pusat Finansial Internasional Masuk ke Prolegnas DPR

Pemerintah Usulkan RUU Pusat Finansial Internasional Masuk ke Prolegnas DPR

News | Selasa, 23 Juni 2026 | 15:05 WIB

Sufmi Dasco Jamin Pemadaman Listrik Bergilir di Pulau Jawa Tak Akan Terulang, Intinya Kompak!

Sufmi Dasco Jamin Pemadaman Listrik Bergilir di Pulau Jawa Tak Akan Terulang, Intinya Kompak!

News | Selasa, 23 Juni 2026 | 15:05 WIB

Yang Tampak Murah Belum Tentu Hemat: Dilema Belanja Kelas Menengah ke Bawah

Yang Tampak Murah Belum Tentu Hemat: Dilema Belanja Kelas Menengah ke Bawah

Your Say | Selasa, 23 Juni 2026 | 15:05 WIB

7 Peralatan Elektronik di Dapur yang Paling Boros Listrik, Bisa Bikin Jeglek

7 Peralatan Elektronik di Dapur yang Paling Boros Listrik, Bisa Bikin Jeglek

Lifestyle | Selasa, 23 Juni 2026 | 15:03 WIB

Arungi Super League 2026/2027, Adhyaksa FC Pindah Bermarkas di Kalimantan

Arungi Super League 2026/2027, Adhyaksa FC Pindah Bermarkas di Kalimantan

Bola | Selasa, 23 Juni 2026 | 15:00 WIB

Bukan 350 Tahun Dijajah: Membongkar Mitos Besar dalam Sejarah Indonesia

Bukan 350 Tahun Dijajah: Membongkar Mitos Besar dalam Sejarah Indonesia

Your Say | Selasa, 23 Juni 2026 | 15:00 WIB

Hutama Karya Catat Kinerja Positif dalam Pengelolaan 14 Ruas Tol di Wilayah Indonesia

Hutama Karya Catat Kinerja Positif dalam Pengelolaan 14 Ruas Tol di Wilayah Indonesia

Bisnis | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:59 WIB

Kemendagri Beri Insentif Rp3 Miliar untuk Pemda Berprestasi di Papua

Kemendagri Beri Insentif Rp3 Miliar untuk Pemda Berprestasi di Papua

News | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:53 WIB