Suara Denpasar - Kepemimpinan Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum Partai Golkar sedang dalam ujian berat. Sebab menjelang Pemilu 2024, elektabilitas partai Golkar hanya 6 persen.
Fakta itu berbanding terbalik dari pemilu sebelumnya. Pada pemilu 2019, elektabilitas partai berlambang pohon Bringin itu berada di 12 persen.
Banyak pihak menilai anjloknya elektabilitas Partai Golkar itu disebabkan oleh elektabilitas Airlangga Hartarto yang selalu rendah dalam setiap survey sebagai Presiden atau Wakil Presiden 2024.
Terkait itu, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan yang juga sebagai Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar saat dimintai tanggapan tentang kepemimpinan Airlangga Hartarto, dia mengatakan sebagai teman baik.
"Airlangga itu teman baik saya. Saya tidak ada masalah," kata Luhut saat ditemui di Kawasan Ekonomi khusus (KEK) Sanur, Denpasar, Bali, Selasa (25/7/2023).
Luhut juga mengaku diminta untuk menjadi Ketua Umum Partai Golkar menggantikan Airlangga Hartarto. Dia bercerita bahwa dirinya didatangi oleh senior-senior Partai Golkar untuk memintanya jadi ketua.
"Iya betul. Berkali-kali saya didatangi," ujar Luhut menegaskan.
Sementara terkait elektabilitas Partai Golkar yang rendah tersebut, Luhut mengatakan harus ada upaya yang kongkrit, tidak cukup hanya dengan menangis.
"Iya memang harus ada langkah-langkah untuk memperbaiki itu. Tidak bisa juga kita menangisin saja harus ada langkahnya," tegas Luhut.
Baca Juga: Nyoman Wiriyanto Ungkap Alasan Perkelahiannya dengan Sekretaris Golkar Klungkung
Untuk diketahui, tidak hanya Luhut yang digadang-gadang menjadi Ketua Umum. Ada juga Bahlil Lahadalia dan Bambang Soesatyo yang juga didorong menjadi ketua umum menggantikan Airlangga jika benar-benar terjadi munaslub. (*/Dinda)