Suara Denpasar - Arema FC memberikan dukungan mereka kepada para korban Tragedi Kanjuruhan yang hari ini tepat telah menginjak umur satu tahun.
Sayangnya, alih-alih mendapatkan dukungan yang menyejukkan, Singo Edan justru harus menelan pahitnya kritikan.
Dukungan Arema FC atas para korban Tragedi Kanjuruhan, 1 Oktober 2022 silam mereka sampaikan melalui akun media sosial klub.
Melansir dari akun Twitter klub, Arema FC dengan tegas menyatakan bahwa mereka ada di sisi para korban di tragedi kelam sepak bola Indonesia tersebut.
“Doa dan perjuangan ini untukmu nawak (kawan). Aremania, 135 korban Tragedi Kanjuruhan” tulis Singo Edan, dikutip dari akun Twitter @AremafcOfficial (1/10/2023).
Hal ini tentunya mengundang banyak atensi dari para penikmat sepak bola Indonesia. Banyak dari mereka yang justru “menyenggol” Singo Edan terkait masih ditahannya delapan Arek Malang.
Para suporter yang masih peduli dengan Tragedi Kanjuruhan pun langsung menyerbu twit tersebut dan melayangkan keresahannya melalui fitur komentar di Twitter.
“Doa mu baik tak aminkan. Tapi 8 Aremania ditangkap krn aksi mereka menuntut pengusutan tragedi kanjuruhan, kalian lakukan pembiaran? Bukankah mereka memperjuangkan usut tuntas atas tragedi mengerikan 1 oktober 2022 silam? Tolong beri penjelasan, siapa tau saya salah. Tabek” tulis akun @Ddvianta24, dilansir dari kolom komentar.
Tak hanya itu, Singo Edan juga harus menelan banyak komentar pahit. Klub asal Malang ini menjadi bulan-bulanan para netizen yang kecewa terkait perkembangan kasus Tragedi Kanjuruhan.
Untuk menyegarkan ingatan, Tragedi Kanjuruhan merupakan sebuah kejadian kelam sepak bola Indonesia—bahkan dunia—yang “menelan” ratusan korban jiwa.
Kala itu, sebanyak 42 ribu tiket terjual ludes karena animo suporter yang ingin menonton secara langsung pertandingan derby Jawa Timur antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya.
Namun, Stadion Kanjuruhan memiliki kapasitas penonton yang bahkan tak sampai 42 ribu, tepatnya hanya mampu menampung sekitar 38 ribu penonton.
Pada laga tersebut, Marselino Ferdinan dan kolega mampu menekuk tuan rumah dengan skor 2-3. Tak terduga, kemenangan tersebut harus dibayar mahal oleh para punggawa Bajul Ijo.
Bermula dari sejumlah Aremania yang turun ke lapangan, yang kemudian disusul oleh ratusan bahkan ribuan lainnya.
Keadaan menjadi tak terkendali, dan pihak keamanan terpaksa harus menembakkan gas air mata, yang sayangnya berubah menjadi malapetaka. (*/Ana AP)